Jumlah Pengunjung

Note ^^

Halloo..^^ selamat datang di blog saya! Welcome to my blog! Silakan dilihat-lihat, dibaca-baca tapi jangan di copas! Di blog ini juga saya post fanfic-fanfic. Jangan lupa tinggalkan komentar setelah membaca artikel di blog saya! Kunjungi juga WP saya di safiraalhana.wordpress.com

Selasa, 21 Juni 2011

The Best Gift

The best gift




Author : Safira Alhana / Sung Jimi
Cast :
    - Ryeowook Suju / Nathan Kim
    - Sung Jimi
    - ....... (Temukan sendiri)
Genre : Romance *Author bingung, tentuin sendiri ya, hehe*
Rating : PG-13 *Author juga bingung, tentuin sendiri aja ya #plak*
Length : Oneshoot
Disclaimer : Ryeowook oppa punya Jimi *Ditabok ELF*. Yang pasti plot-nya punya Jimi!
NB : DI fanfic ini, Ryeowook oppa pakai nama Inggrisnya ya, Nathan Kim.
Happy birthday, Nathan Kim... ^^ God bless You! :D



Author P.O.V
Seorang yeoja tengah memandangi kalender di meja belajarnya. Sung Jimi, itulah namanya. Tangannya sibuk mencoret-coret salah satu tanggal menggunakan spidol merah. Dilingkarinya tanggal 21 Juni. Dan diberinya keterangan dibawah lingkaran yang dibuatnya.
Nathan's Birthday
Yeoja itu tersenyum memandangi kalendernya. Ia segera beranjak keluar kamarnya. Sebelum pergi kuliah, yeoja itu mengucapkan salam pada ummanya.
@Inha University
Jimi keluar dari mobil sport merahnya. Ia berjalan menyusuri koridor kampus. Hingga ia berjalan masuk ke ruang kelasnya. Dilihatnya ruang kelas yang masih sepi karena ini masih pagi sekali. Hanya ada satu mahasiswi yang selalu datang duluan. Namanya Nicole. Jimi menghampiri Nicole yang asyik membaca buku. Nicole menutup bukunya karena menyadari kehadiran Jimi.
"Annyeong~ Jimi-ah! Tumben sekali kau datang sepagi ini." sapa Nicole ramah.
"Annyeong~ Kebetulan saja aku bangun pagi hari ini, hehe." Jimi beringsut duduk disebelah Nicole.
"Eh, bukankah besok hari ulang tahun Nathan? Kau sudah menyiapkan kejutan untuknya?" tanya Nicole.
Jimi mengangguk, "Tentu saja, aku sudah menyiapkan kejutan spesial untuk sahabatku tercinta."
"Apa itu?" tanya Nicole antusias.
"Rahasia." jawab Jimi singkat.
Sontak Nicole memanyunkan bibirnya, tanda ia kecewa dengan jawaban Jimi. Jimi yang melihat ekspresi Nicole hanya tertawa.
Jimi P.O.V
Aahh...akhirnya kelas sudah usai. Aku segera membereskan peralatanku dan berjalan keluar kelas. Seperti biasa, Nathan sahabatku sudah berdiri di dekat pintu kelasku. Menungguku. Ya, itulah kebiasaannya setiap hari. Ia selalu menungguku ketika pulang. Nathan sahabat yang baik. Tapi aku menginginkan lebih dari sahabat. Nathan memang pernah menyatakan perasaannya padaku, namun sampai saat ini aku belum memberi jawaban.
~Flashback~
Di puncak bukit di pinggiran kota Seoul, aku dan Nathan sedang berbaring menikmati sunset. Kami sama-sama diam, menikmati pemandangan yang sangat indah ini. Tiba-tiba Nathan bangkit dan duduk.
"Jimi-ah, boleh aku mengatakan sesuatu padamu?" tanyanya.
Aku bangkit dan duduk, "Ne."
"Jujur, aku mencintaimu Jimi-ah. Aku ingin hubungan kita lebih dari sahabat. Maukah kau menjadi yeojachinguku?" tanyanya seraya memandangku dan tersenyum.
Kami terdiam beberapa saat. Sampai aku berani mengeluarkan suara.
"Umm, aku bingung harus mengatakan apa. Tapi..."
"Aku tidak menuntut jawabanmu sekarang. Jawablah kalau kau sudah siap." ucapanku terpotong ucapannya barusan.
"Ah, sudah malam. Ayo kita pulang." Nathan berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. Aku menyambut uluran tangannya dan ia menggandengku berjalan turun bukit.
~Flashback End~
"Nathan!" seruku saat sudah ada di sampingnya.
"Eh, kajja kita pulang!" ia menggandeng tanganku menuju parkiran.
"Umm, Nathan. Hari ini aku bawa mobil kok. Kau tidak usah repot-repot mengantarku pulang." kataku saat kami sudah ada di parkiran.
"Oh, baiklah. Nanti kutelepon kau. Sampai jumpa." Nathan melepaskan genggaman tangannya padaku. Aku berjalan pelan sambil melambaikan tanganku padanya.
@Rumah Jimi
"Annyeong~ Umma, appa, unnie!" sapaku ketika masuk rumah.
"Annyeong~ Jimi-ah!" sapa penghuni rumahku bersamaan.
Aku langsung berlari kearah dapur. Menemui umma dan unnieku yang kuyakini sedang berkutat di dekat kompor.
"Umma, unnie. Ajari aku masak donk..." pintaku pada mereka.
"Sekarang??" tanya Jisun unnieku tak percaya.
"Ya iyalah unn!" sahutku kesal.
"Kenapa kau tiba-tiba ingin belajar masak? Bukankah kau sangat benci memasak?" tanya Jisun unnie.
"Tapi aku ingin belajar sekarang unn...boleh ya?? Ya ya??" pintaku memelas pada unnie dan ummaku. Umma terkekeh mendengar perkataanku barusan.
"Yasudah. Ganti bajumu dulu." kata umma. YES! Akhirnya berhasil.
Aku segera berlari menuju tangga dan masuk ke kamarku di lantai dua. Kuganti kemejaku dengan T-Shirt orange bergambar buah jeruk dan celana katun warna coklat selutut. Setelah itu aku langsung turun ke lantai satu dan menuju dapur. Aku memakai celemek orange kotak-kotak yang disodorkan unnie. Umma dan unnie mengajariku cara memotong sayuran, memotong daging, menggoreng ikan, dan memasak sup.
Akhirnya 2 jam sudah aku belajar masak bersama umma dan unnie. Kini saatnya makan malam. Aku dan unnie duduk berhadapan di meja makan 8 kursi itu. Appa duduk paling pojok yang menghadap kami semua. Umma duduk disampingku. Setelah makan malam selesai, aku dan unnie bertugas mencuci piring.
"Hey, besok Nathan ulang tahun kan? Apa kau sudah menyiapkan hadiah untuknya?" tanya Jisun unnie.
"Tentu saja." jawabku.
Semoga Nathan menyukai hadiah yang kuberikan...
@Esoknya..
"Umma, appa, unnie aku berangkat dulu ya! Annyeong~" salamku. Aku segera keluar rumah dan pergi ke kampus mengendarai mobil sport merahku.
Sampai di parkiran kampus, kulihat Nathan keluar dari mobil BMW hitamnya. Kuhampiri Nathan.
"Saengil Cukhahamnida, Nathan kim!" kupeluk Nathan saat mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ia terlihat kaget dengan kehadiranku. Kulepaskan pelukanku dan sekali lagi kuucapkan selamat ulang tahun padanya.
"Gomawo~ Jimi-ah!" Nathan mengacak-acak rambutku, "Aku baru ingat hari ini ulang tahunku. Gomawo~"
"Hahaha...hey aku menunggu traktiran darimu." kataku sambil mencubit lengannya.
"Kau ini, masih suka hal-hal berbau gratis. Yasudah, nanti sehabis kuliah kita pergi jalan-jalan. Bagaimana?" usul Nathan.
Aku mengangguk semangat mendengar ucapannya barusan. Nathan mengajakku untuk segera masuk kelas.
-----
Kulangkahkan kakiku keluar kelas, seperti biasa. Nathan sudah menungguku di depan pintu.
"Nathan! Aku pulang dulu ya. Mama tiba-tiba meneleponku. Katanya ada urusan penting. Cuma sebentar, tak akan lama. Kau mau menunggu dimana?" tanyaku saat aku sudah ada di depannya.
"Hmm...kutunggu kau di bukit saja. Jangan lama-lama." jawabnya.
"Arasseo." aku segera berlari kearah parkiran. Pasti yang dimaksud Nathan bukit adalah bukit di pinggiran kota Seoul, saat ia menyatakan perasaannya padaku dulu.
Aku segera masuk ke mobilku dan mengendarainya dengan kecepatan sedang. Aku sengaja berbohong pada Nathan, karena aku ingin mengambil hadiah yang kubuat sendiri tadi pagi. Sampai dirumah aku segera mengganti kemejaku dengan dress orange-putih selutut, mengganti sepatu ketsku dengan sepatu selop, dan mengganti tas ranselku dengan tas selempang berbentuk buah jeruk. Setelah itu aku segera mengambil kue dan coklat di kulkas. Kue dan coklat itu aku buat sendiri tadi pagi, dan aku meminta unnie untuk meng-ovenkan *author bingung bahasanya* adonan kue itu.
@Di bukit
Hari telah sore ketika aku sampai di puncak bukit. Kulihat Nathan yang sedang duduk diatas batu menikmati pemandangan di sekitarnya. Aku duduk di rerumputan di dekatnya. Ia beralih duduk di rerumputan di sampingku ketika menyadari kehadiranku.
"Ini hadiah ulang tahunmu, Nathan. Aku membuatnya sendiri tadi pagi." kataku seraya menyodorkan rantang yang kubawa pada Nathan. Nathan tersenyum lalu mengucapkan terimakasih. Ia membuka rantang satu persatu. Kulihat senyumnya mengembang kala melihat ada kue dan coklat di dalamnya *disini tuh ceritanya makanan favoritnya Nathan kue sama coklat*.
"Boleh kucoba?" tanyanya padaku.
"Tentu saja, itu kan sudah menjadi milikmu." jawabku.
"Baiklah. Hey kau juga harus mencobanya." katanya seraya menyodorkan sepotong kue brownies padaku.
Aku menggeleng pelan. Tapi Nathan malah mendekatkan wajahnya padaku. Karena panik aku segera mengangguk. Nathan tersenyum geli saat menjauhkan wajahnya. Kuambil kue yang disodorkannya padaku. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
"Nathan, bolehkah aku menjawab pertanyaanmu waktu itu sekarang?" tanyaku pada Nathan.
"Boleh, memang apa jawabanmu?"
"Kurasa, aku juga menyukaimu. Ah tidak, aku mencintaimu. Aku...aku mau jadi yeojachingumu..." kataku pelan sambil menundukkan wajahku.
"Jinja? Kau menerimaku?" tanyanya tak percaya. Aku hanya mengangguk.
Tiba-tiba Nathan memelukku. Aku sedikit kaget.
"Gomawo~ Jimi-ah. Gomawo~ kau mau menjadi yeojachinguku." katanya.
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Berarti sekarang aku sudah resmi menjadi yeojachingu Nathan Kim. Nathan melepaskan pelukannya. Kami saling bertatapan satu sama lain. Hingga Nathan mengalihkan pandangannya kearah kue-kue yang ada di depannya. Ia langsung mencomot sepotong kue brownies dan memakannya. Kulihat ia mengerutkan keningnya, memandangi kue buatanku. Kemudian ia tersenyum padaku. Tapi senyumannya aneh sekali. Karena penasaran, aku mencomot sepotong kue yang sama dan memakannya.
Huueekk!!
Aku memuntahkan kue yang kumakan. Rasanya asin sekali! Ah, pasti aku salah mengambil gula. Pasti aku mengambil garam karena kukira itu gula. Aish!! Jimi pabboya!!! Kurasa pipiku sekarang memerah menahan malu. Kulihat Nathan yang tersenyum padaku.
"Kuenya enak kok, sungguh..." katanya.
"Hey, itu sindiran atau pujian?" tanyaku kesal.
"Itu pujian kok, bener deh. Nathan nggak bohong." ujarnya seraya menunjukkan jarinya yang membentuk huruf V.
"Karena kamu telah memberikanku sebuah cinta yang tulus dan sangat manis, makannya kuenya terasa manis saat kumakan. Seperti orang yang membuatnya, orang paling manis yang pernah kutemui." kata Nathan menggombal.
Aku mengalihkan pandanganku, melihat sunset. Kurasa mukaku sekarang sudah memerah seperti Mr. Crab yang sedang direbus (?).
"Kau mulai menggombal, Nathan Kim." ujarku.
"Ahni, aku tidak menggombal. Yang kuucapkan itu benar-benar tulus dari dalam hatiku." katanya.
Tiba-tiba Nathan mencium pipi kiriku. Aku kaget dan langsung mengejar Nathan yang lebih dulu kabur.
"Ya!! Nathan Kim! Kau mau membuat pipiku menjadi sarang semut, hah? Awas kau jangan lari! Tunggu balasanku!" aku masih berlari mengejar Nathan.
Jadilah sore ini aku bermain kejar-kejaran bersama Nathan. Tak kusangka, larinya cepat sekali. Aku semakin susah mengejarnya. Aku telah berhasil menyatakan perasaanku yang sebenarnya pada Nathan. Kurasa ini menjadi hadiah ulang tahun terbaik untuknya. Seandainya ada acara penghargaan dengan kategori Best Gift, pasti yang terpilih adalah best gift-nya Nathan *PD Mode:on*. Hahaha...

##################################

HAPPY BIRTHDAY, KIM RYEOWOOK!!

Note : Mian kalau ceritanya ngebosenin, pasaran 'n jelek. Cerita ini asli original natural *apaan sih* 100 % made in Sung Jimi a.k.a Safira Alhana #ribet bner. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan ketik, kesamaan cerita karena tidak disengaja. Diharapkan komennya ya... Gomawo~~ ^^

2 komentar:

Please leave your comment here! Thanks :)
-Safira Alhana-