Author : Safira Alhana a.k.a Park Chan Ra / Cia Park
@hanna_ryeong9
Cast :
- Kim Myung Soo (L Infinite)
- Jung Soo Yeon (OC)
- Jung Jin Young (Jinyoung B1A4)
- Kim Se Ra (OC)
- Jung Yunho (Yunho TVXQ)
- Other cast..
Genre : Drama, sad, romance
Rating : T
Length : Chapter
Disclaimer : Fanfic ini 100% original karya Safira Alhana Zubairy. Plot, ide cerita, semuanya 100% hasil ekskresi (?) otak pentium saya. DO NOT PLAGIARIZE! Plagiat kena denda + sidang Komnas Anak! (?)
- Kim Myung Soo (L Infinite)
- Jung Soo Yeon (OC)
- Jung Jin Young (Jinyoung B1A4)
- Kim Se Ra (OC)
- Jung Yunho (Yunho TVXQ)
- Other cast..
Genre : Drama, sad, romance
Rating : T
Length : Chapter
Disclaimer : Fanfic ini 100% original karya Safira Alhana Zubairy. Plot, ide cerita, semuanya 100% hasil ekskresi (?) otak pentium saya. DO NOT PLAGIARIZE! Plagiat kena denda + sidang Komnas Anak! (?)
Annyeonghaseyo~ readers blog safiraalhana. Saya nongol lagi nih,
bawa ff baru. FF ini beda dari FF-FF saya sebelumnya. Entah itu beda cast, beda
judul, beda plot, beda ending, dan beda-beda yang lain. Pokoknya BEDA dari ff
aku sebelumnya.
Oh ya, saran dari author, siapin tisu yak. Jangan lupa baca ff
ini sambil dengerin lagu-lagu yg author rekomendasikan, biar dpt feelnya.
Untuk part awal backsound terserah kalian, karena konfliknya
belum muncul 
Rekomendasi :
Jung Yonghwa – 그리워서… (OST. Heartstrings)
Huh Gak – Hello
As One – White Love Story (OST. Coffee Prince)
INFINITE – Only Tears
CN Blue – Still in Love
Dan lagu-lagu galau lainnya…
Jung Yonghwa – 그리워서… (OST. Heartstrings)
Huh Gak – Hello
As One – White Love Story (OST. Coffee Prince)
INFINITE – Only Tears
CN Blue – Still in Love
Dan lagu-lagu galau lainnya…
DON’T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT!! UPDATE EVERYWEEK!
Sooyeon POV
Welcome to New York…
Yayy!! Finally,
arrived in New York!
Aku melepaskan safety belt, masih bersorak-sorai dalam hati. Kuraih tas tangan dan jaketku lalu berjalan mengikuti orang-orang yang akan turun dari pesawat.
Pesawat? Ya, aku baru tiba di New York setelah perjalanan panjang dan melelahkan dari Seoul selama…..berapa jam ya? Ah molla!
Appa mengirimku sekolah ke Amerika. Sebenarnya aku tidak rela meninggalkan Korea dan jauh dari keluarga. Tapi demi appa, apapun akan kulakukan. Karena dia orangtuaku satu-satunya.Appa menginginkan supaya aku bisa meneruskan perusahaan eomma yang saat ini diurus paman Changmin. Sedangkan Jinyoung oppa akan mewarisi perusahaan appa.
Kakiku masih melangkah mengikuti orang-orang ke tempat imigrasi, padahal pikiranku melayang kemana-mana. Segera kuenyahkan pikiran melayang-layangku.
Setelah melewati proses imigrasi dan bagasi, aku keluar dari pintu kedatangan. Kuedarkan pandanganku, mencari sepupuku yang menjemputku.
Ah, itu dia! Krystal Jung berdiri di tengah orang-orang yang juga membawa papan nama. 정수연. Aku membaca tulisan hangeul di papan yang dibawanya. Segera kuhampiri sepupuku itu. Krystal tersenyum sambil melambai-laimbaikan tangannya. Aku balas melambai.
“Eonnie!” sapa Krystal.
Krystal memelukku erat. Memang, aku dan Krystal sudah lama tidak bertemu. Terakhir kali aku bertemu Krystal, ketika aku berumur 6 tahun dan Krystal berumur 5 tahun. Sekarang, umurku 22 tahun. Berarti sudah 16 tahun sejak pertemuan terakhir kami.
“Bagaimana keluarga di Korea?” tanya Krystal. Kami berjalan keluar bandara. Ia membantuku membawa koper.
“Baik. Jinyoung oppa sudah mantap mewarisi perusahaan appa. Ah, paman Changmin titip salam untukmu.” jawabku. Krystal tertawa.
“Paman Changmin? Seperti apa dia sekarang? Apa masih jomblo?”
Aku ikut tertawa mendengar pertanyaan Krystal.
“Ya, diusianya yang sudah kepala empat, paman Changmin masih jomblo. Sudah kubilang berkali-kali agar paman Changmin mencari istri. Tetap saja, paman lebih senang hidup sendiri di rumahnya yang besar itu.”
Tawa Krystal semakin menjadi-jadi. Kami berhenti di depan sebuah cafe.
“Ayo kita lanjutkan mengobrol di dalam.” Krystal menarik tanganku memasuki cafe bernuansa hijau itu.
Krystal memilih meja di dekat jendela kaca besar. Aku duduk dihadapan Krystal dan menaruh jaket di kursi sampingku. Krystal bangkit dari duduknya.
“Aku ke toilet dulu.”
Kulayangkan pandanganku ke seluruh penjuru cafe. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat dengan jelas kesibukan orang-orang di cafe. Ada sekelompok remaja -lima orang- asyik bergosip di meja di tengah-tengah ruangan. Lalu ada kakek dan nenek yang sedang asyik minum teh sambil mengobrol. Keriput di sekitar mata sang nenek semakin terlihat ketika ia tertawa. Dan di meja pojok, ada seorang lelaki tampan yang asyik dengan ponselnya. Si pelayan perempuan yang menanyakan pesanannya terlihat berusaha menarik perhatian sang lelaki. Ketika si pelayan pergi, lelaki itu mengangkat kepalanya. Dan, oh…dia memandangku. Ya Tuhan, dia tampan sekali.
Cepat-cepat kupalingkan wajahku. Pura-pura melihat keluar jendela sambil mengelus-elus leherku malu. Tidak…aku ketahuan memandanginya.
Seorang pelayan menghampiriku dan menanyakan pesananku. Aku berkata bahwa sepupuku masih di toilet dan aku tidak boleh memesan sebelum dia duduk kembali di tempatnya. Pelayan itu mengangguk mengerti dan ia akan menghampiri kami lagi setelah sepupuku datang.
Aku kembali memandang lelaki tampan itu setelah pelayan tadi pergi. Ya Tuhan…ternyata dia masih menatapku. Tatapannya tajam. Namun seulas senyum muncul di wajah tampannya. Aku bergeming.
Tidak. Aku tidak bisa mengelak. Senyuman itu…benar-benar membuatnya semakin tampan. Ya Tuhan, jebal..jangan lakukan itu.
Kuamati wajahnya lebih teliti. Benar-benar tampan. Hei, sepertinya dia orang Korea. Matanya sipit seperti Jinyoung oppa. Dan potongan rambutnya benar-benar mirip potongan rambut artis-artis Korea.
“Eonnie, eonnie!” Krystal menepuk-nepuk tanganku pelan. Aku tersentak. Krystal? Kau sudah kembali?
“Eonnie kenapa?” tanya Krystal. Ia menengok ke belakang mengikuti arah pandanganku.
Cepat-cepat kuraih tangannya dan menyuruhnya untuk duduk.
“Aku belum memesan apapun. Bisa kau rekomendasikan makanan apa yang enak disini? Aku lapar sekali.” ucapku sambil menyodorkan buku menu padanya.
Krystal terlihat bingung, “Umm. Kurasa chicken steak, atau salmon grill spicy. Kalau eonnie tidak suka pedas, eonnie bisa pesan…….”
Kulirik lelaki tampan itu lagi dari bahu Krystal. Lelaki tampan itu sedang terkikik geli. Bahunya sampai bergoncang. Senyumannya semakin lebar dan matanya menyipit menatapku.
Kualihkan pandanganku pada Krystal yang masih sibuk membolak-balik buku menu sambil berkata menu yang patut kucoba.
“Krystal, aku pesan salmon grill spicy saja.” kataku padanya.
Krystal mengangguk mengerti.
Pelayan yang tadi kembali lagi. Krystal sudah memilih pesanannya. Pelayan itu kemudian pergi menyiapkan pesanan kami.
Kualihkan pandanganku keluar jendela. Pikiranku mulai lagi, melantur kemana-mana.
Aku melepaskan safety belt, masih bersorak-sorai dalam hati. Kuraih tas tangan dan jaketku lalu berjalan mengikuti orang-orang yang akan turun dari pesawat.
Pesawat? Ya, aku baru tiba di New York setelah perjalanan panjang dan melelahkan dari Seoul selama…..berapa jam ya? Ah molla!
Appa mengirimku sekolah ke Amerika. Sebenarnya aku tidak rela meninggalkan Korea dan jauh dari keluarga. Tapi demi appa, apapun akan kulakukan. Karena dia orangtuaku satu-satunya.Appa menginginkan supaya aku bisa meneruskan perusahaan eomma yang saat ini diurus paman Changmin. Sedangkan Jinyoung oppa akan mewarisi perusahaan appa.
Kakiku masih melangkah mengikuti orang-orang ke tempat imigrasi, padahal pikiranku melayang kemana-mana. Segera kuenyahkan pikiran melayang-layangku.
Setelah melewati proses imigrasi dan bagasi, aku keluar dari pintu kedatangan. Kuedarkan pandanganku, mencari sepupuku yang menjemputku.
Ah, itu dia! Krystal Jung berdiri di tengah orang-orang yang juga membawa papan nama. 정수연. Aku membaca tulisan hangeul di papan yang dibawanya. Segera kuhampiri sepupuku itu. Krystal tersenyum sambil melambai-laimbaikan tangannya. Aku balas melambai.
“Eonnie!” sapa Krystal.
Krystal memelukku erat. Memang, aku dan Krystal sudah lama tidak bertemu. Terakhir kali aku bertemu Krystal, ketika aku berumur 6 tahun dan Krystal berumur 5 tahun. Sekarang, umurku 22 tahun. Berarti sudah 16 tahun sejak pertemuan terakhir kami.
“Bagaimana keluarga di Korea?” tanya Krystal. Kami berjalan keluar bandara. Ia membantuku membawa koper.
“Baik. Jinyoung oppa sudah mantap mewarisi perusahaan appa. Ah, paman Changmin titip salam untukmu.” jawabku. Krystal tertawa.
“Paman Changmin? Seperti apa dia sekarang? Apa masih jomblo?”
Aku ikut tertawa mendengar pertanyaan Krystal.
“Ya, diusianya yang sudah kepala empat, paman Changmin masih jomblo. Sudah kubilang berkali-kali agar paman Changmin mencari istri. Tetap saja, paman lebih senang hidup sendiri di rumahnya yang besar itu.”
Tawa Krystal semakin menjadi-jadi. Kami berhenti di depan sebuah cafe.
“Ayo kita lanjutkan mengobrol di dalam.” Krystal menarik tanganku memasuki cafe bernuansa hijau itu.
Krystal memilih meja di dekat jendela kaca besar. Aku duduk dihadapan Krystal dan menaruh jaket di kursi sampingku. Krystal bangkit dari duduknya.
“Aku ke toilet dulu.”
Kulayangkan pandanganku ke seluruh penjuru cafe. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat dengan jelas kesibukan orang-orang di cafe. Ada sekelompok remaja -lima orang- asyik bergosip di meja di tengah-tengah ruangan. Lalu ada kakek dan nenek yang sedang asyik minum teh sambil mengobrol. Keriput di sekitar mata sang nenek semakin terlihat ketika ia tertawa. Dan di meja pojok, ada seorang lelaki tampan yang asyik dengan ponselnya. Si pelayan perempuan yang menanyakan pesanannya terlihat berusaha menarik perhatian sang lelaki. Ketika si pelayan pergi, lelaki itu mengangkat kepalanya. Dan, oh…dia memandangku. Ya Tuhan, dia tampan sekali.
Cepat-cepat kupalingkan wajahku. Pura-pura melihat keluar jendela sambil mengelus-elus leherku malu. Tidak…aku ketahuan memandanginya.
Seorang pelayan menghampiriku dan menanyakan pesananku. Aku berkata bahwa sepupuku masih di toilet dan aku tidak boleh memesan sebelum dia duduk kembali di tempatnya. Pelayan itu mengangguk mengerti dan ia akan menghampiri kami lagi setelah sepupuku datang.
Aku kembali memandang lelaki tampan itu setelah pelayan tadi pergi. Ya Tuhan…ternyata dia masih menatapku. Tatapannya tajam. Namun seulas senyum muncul di wajah tampannya. Aku bergeming.
Tidak. Aku tidak bisa mengelak. Senyuman itu…benar-benar membuatnya semakin tampan. Ya Tuhan, jebal..jangan lakukan itu.
Kuamati wajahnya lebih teliti. Benar-benar tampan. Hei, sepertinya dia orang Korea. Matanya sipit seperti Jinyoung oppa. Dan potongan rambutnya benar-benar mirip potongan rambut artis-artis Korea.
“Eonnie, eonnie!” Krystal menepuk-nepuk tanganku pelan. Aku tersentak. Krystal? Kau sudah kembali?
“Eonnie kenapa?” tanya Krystal. Ia menengok ke belakang mengikuti arah pandanganku.
Cepat-cepat kuraih tangannya dan menyuruhnya untuk duduk.
“Aku belum memesan apapun. Bisa kau rekomendasikan makanan apa yang enak disini? Aku lapar sekali.” ucapku sambil menyodorkan buku menu padanya.
Krystal terlihat bingung, “Umm. Kurasa chicken steak, atau salmon grill spicy. Kalau eonnie tidak suka pedas, eonnie bisa pesan…….”
Kulirik lelaki tampan itu lagi dari bahu Krystal. Lelaki tampan itu sedang terkikik geli. Bahunya sampai bergoncang. Senyumannya semakin lebar dan matanya menyipit menatapku.
Kualihkan pandanganku pada Krystal yang masih sibuk membolak-balik buku menu sambil berkata menu yang patut kucoba.
“Krystal, aku pesan salmon grill spicy saja.” kataku padanya.
Krystal mengangguk mengerti.
Pelayan yang tadi kembali lagi. Krystal sudah memilih pesanannya. Pelayan itu kemudian pergi menyiapkan pesanan kami.
Kualihkan pandanganku keluar jendela. Pikiranku mulai lagi, melantur kemana-mana.
—–
Myungsoo POV
Yeoja itu tampaknya
sedang salting. Aku tertawa kecil melihatnya. Oh Tuhan, dia sungguh sangat
cantik dimataku.
Aku teringat ketika kakiku melangkah keluar dari pintu kedatangan. Aku berhenti sejenak dan melihat ke belakang. Yeoja itu masih mencari barang-barangnya. Tanpa sadar aku tertawa kecil melihat tingkahnya.
Yeoja itu, aku tidak tahu namanya. Aku terus mengamatinya sejak dari bandara incheon. Dan yang menjadi kejutan, yeoja itu ternyata duduk tepat di depanku di pesawat. Aku merasa…senang? Haha, tentu.
Aku teringat ketika kakiku melangkah keluar dari pintu kedatangan. Aku berhenti sejenak dan melihat ke belakang. Yeoja itu masih mencari barang-barangnya. Tanpa sadar aku tertawa kecil melihat tingkahnya.
Yeoja itu, aku tidak tahu namanya. Aku terus mengamatinya sejak dari bandara incheon. Dan yang menjadi kejutan, yeoja itu ternyata duduk tepat di depanku di pesawat. Aku merasa…senang? Haha, tentu.
Yeoja itu, dia…sangat
menarik.
—–
Sooyeon POV
Kurebahkan diriku di
kasur empuk apartemen baruku. Ah, hari ini lelah sekali! Perjalanan Seoul-New
York benar-benar membuatku jet lag. Kepalaku pening. Dan aku ngantuk berat.
Kuputuskan untuk tidur saja seharian ini. Tanpa mempedulikan sepatu dan jaket yang masih melekat di tubuhku, kutarik selimut sampai menutupi leher dan dimulailah petualanganku di dunia mimpi.
Kuputuskan untuk tidur saja seharian ini. Tanpa mempedulikan sepatu dan jaket yang masih melekat di tubuhku, kutarik selimut sampai menutupi leher dan dimulailah petualanganku di dunia mimpi.
—–
Myungsoo POV
Ceklek. Pintu
apartemenku terbuka. Aku masuk ke dalam, melepas sepatu dan menaruhnya di rak.
Kukunci pintu apartemen.
Wah…apartemen ini lebih besar dan nyaman dari apartemen noonaku di Seoul. Aku harus menelepon noona besok atau nanti malam, dan berterima kasih padanya.
Kurasa aku akan betah tinggal disini.
Aku duduk di sofa ruang tengah yang menghadap balkon. Pemandangan kota New York dari sini indah sekali.
Hey, apa yang harus kulakukan selanjutnya? Ah, tentu saja membereskan kopermu, bodoh!
Aku tertawa sendiri karena pemikiranku. Ya, aku harus mengeluarkan isi koperku dan menatanya di lemari. Tapi aku terlalu malas untuk melakukannya. Ah, apa sebaiknya aku tidur saja? Ya, benar. Sebaiknya aku tidur dan ketika bangun di sore hari, aku akan berkeliling di sekitar apartemen dan malamnya aku akan menata barang-barangku sambil menelepon noona.
Ya, rencana bagus.
Wah…apartemen ini lebih besar dan nyaman dari apartemen noonaku di Seoul. Aku harus menelepon noona besok atau nanti malam, dan berterima kasih padanya.
Kurasa aku akan betah tinggal disini.
Aku duduk di sofa ruang tengah yang menghadap balkon. Pemandangan kota New York dari sini indah sekali.
Hey, apa yang harus kulakukan selanjutnya? Ah, tentu saja membereskan kopermu, bodoh!
Aku tertawa sendiri karena pemikiranku. Ya, aku harus mengeluarkan isi koperku dan menatanya di lemari. Tapi aku terlalu malas untuk melakukannya. Ah, apa sebaiknya aku tidur saja? Ya, benar. Sebaiknya aku tidur dan ketika bangun di sore hari, aku akan berkeliling di sekitar apartemen dan malamnya aku akan menata barang-barangku sambil menelepon noona.
Ya, rencana bagus.
—–
Sooyeon POV
OK…lets fly! B1A4!
Aiisshh! Suara apa
itu?! Siapa yang meneleponku? Mengganggu tidurku saja!
Kuraih ponselku diatas meja. Ah…appa menelepon.
“Yoboseyo..” ha? Aku baru sadar, suaraku serak sekali.
“Sweety, ada apa dengan suaramu? Kau makan es krim lagi ya? Sudah kubilang jangan makan es krim terlalu banyak, tenggorokanmu bisa-”
“Nan gwenchana appa..” kupotong ocehan appa diseberang sana.
“Jinja?”
“Ne, aku baru bangun tidur dan sekarang aku sedang di jalan menuju dapur untuk minum.”
“Ah, mianhae sweety. Yasudah, minumlah dulu. Appa tidak kuat mendengar suaramu itu.”
Kubuka pintu kulkas dan meminum sebotol air putih langsung dari botolnya.
“Ada perlu apa sampai appa menelepon?” tanyaku. Suaraku lebih jelas dari sebelumnya.
“Appa hanya ingin tau keadaanmu, sweety.”
“Bukankah Krystal sudah menelepon appa tadi?”
“Iya, tapi appa ingin memastikan langsung dari mulutmu.”
Kubuka pintu balkon dan duduk disana. Appa masih berbicara di telepon, aku hanya sesekali menanggapi. Kepalaku masih pusing dan aku ingin tidur.
“Appa, aku ingin ti-”
Tanpa sengaja pandanganku mengarah ke sebelah kiriku.
Yang membuatku shock adalah, lelaki tampan itu, yang kulihat di cafe bandara, sedang berdiri di balkon sebelah. Ya Tuhan, dunia ini sempit sekali.
“Hey, sweety. Ada apa?”
Aku tersentak.
“Ah, appa. Aku capek, aku ingin tidur. Sudah dulu ya, nanti malam, eh, ya benar nanti malam waktu New York, aku akan menelepon appa lagi. Annyeong, appa!” langsung kuakhiri percakapan dengan appa. Aku ingin mengamati lelaki itu. Hey, dia sedang apa ya?
Kalau dilihat dari tempatku duduk, dia tampak jauh lebih tampan. Rambutnya yang hitam, sedikit acak-acakan. Ia memakai kaos tipis lengan panjang yang pas di badannya. Sehingga otot-ototnya jadi ‘kelihatan’ meski tak sekekar milik appa atau paman Changmin. Ah, lelaki itu memakai celana katun panjang. Pantas saja, kakinya jadi terlihat panjang.
Kulanjutkan mengamati postur tubuhnya. Kalau dilihat-lihat, tingginya tak jauh beda dengan Jinyoung oppa. Tapi sudah jelas lebih tinggi dari Yonghwa oppa.
Kulihat lelaki tampan itu menghela nafas, lalu berjalan masuk ke apartemennya.
Hey, tunggu dulu! Apartemennya? Jadi, dia tetanggaku? Ya Tuhan…benar sekali, dunia ini memang sempit.
Kuraih ponselku diatas meja. Ah…appa menelepon.
“Yoboseyo..” ha? Aku baru sadar, suaraku serak sekali.
“Sweety, ada apa dengan suaramu? Kau makan es krim lagi ya? Sudah kubilang jangan makan es krim terlalu banyak, tenggorokanmu bisa-”
“Nan gwenchana appa..” kupotong ocehan appa diseberang sana.
“Jinja?”
“Ne, aku baru bangun tidur dan sekarang aku sedang di jalan menuju dapur untuk minum.”
“Ah, mianhae sweety. Yasudah, minumlah dulu. Appa tidak kuat mendengar suaramu itu.”
Kubuka pintu kulkas dan meminum sebotol air putih langsung dari botolnya.
“Ada perlu apa sampai appa menelepon?” tanyaku. Suaraku lebih jelas dari sebelumnya.
“Appa hanya ingin tau keadaanmu, sweety.”
“Bukankah Krystal sudah menelepon appa tadi?”
“Iya, tapi appa ingin memastikan langsung dari mulutmu.”
Kubuka pintu balkon dan duduk disana. Appa masih berbicara di telepon, aku hanya sesekali menanggapi. Kepalaku masih pusing dan aku ingin tidur.
“Appa, aku ingin ti-”
Tanpa sengaja pandanganku mengarah ke sebelah kiriku.
Yang membuatku shock adalah, lelaki tampan itu, yang kulihat di cafe bandara, sedang berdiri di balkon sebelah. Ya Tuhan, dunia ini sempit sekali.
“Hey, sweety. Ada apa?”
Aku tersentak.
“Ah, appa. Aku capek, aku ingin tidur. Sudah dulu ya, nanti malam, eh, ya benar nanti malam waktu New York, aku akan menelepon appa lagi. Annyeong, appa!” langsung kuakhiri percakapan dengan appa. Aku ingin mengamati lelaki itu. Hey, dia sedang apa ya?
Kalau dilihat dari tempatku duduk, dia tampak jauh lebih tampan. Rambutnya yang hitam, sedikit acak-acakan. Ia memakai kaos tipis lengan panjang yang pas di badannya. Sehingga otot-ototnya jadi ‘kelihatan’ meski tak sekekar milik appa atau paman Changmin. Ah, lelaki itu memakai celana katun panjang. Pantas saja, kakinya jadi terlihat panjang.
Kulanjutkan mengamati postur tubuhnya. Kalau dilihat-lihat, tingginya tak jauh beda dengan Jinyoung oppa. Tapi sudah jelas lebih tinggi dari Yonghwa oppa.
Kulihat lelaki tampan itu menghela nafas, lalu berjalan masuk ke apartemennya.
Hey, tunggu dulu! Apartemennya? Jadi, dia tetanggaku? Ya Tuhan…benar sekali, dunia ini memang sempit.
—–
4:17 PM.
Aku baru saja kembali dari minimarket. Tak kusangka, aku akan berbelanja sebanyak ini. Dua kantong kertas besar.
Hey, mana kunci apartemenku? Kurogoh saku jaketku sekali lagi. Ah, sebentar, kuletakkan saja dulu kantong kertas ini di lantai.
“Hei..” aku terlonjak kaget karena seseorang menepuk pundakku. Hampir saja aku menjatuhkan kunci apartemenku yang baru kutemukan.
“Eh? Annyeonghaseyo..” tanpa sadar aku menyapanya dalam bahasa korea.
“Ne, annyeonghaseyo. Wah, benar, kau orang korea juga ternyata.” lelaki tampan itu tersenyum. Hey, dia tersenyum!
“Ah, ne.” aku benar-benar tidak tahu bagaimana merespon kata-katanya.
Lelaki tampan itu tertawa, “Aku Kim Myungsoo.” dia mengulurkan tangannya.
Aku menyambut tangannya dengan gembira, “Jung Sooyeon imnida.” aku membungkuk sedikit.
“Jadi, kita pernah bertemu sebelumnya. Di cafe bandara. Kau masih ingat?”
Aku mengangguk, “Ya, aku masih ingat.”
“Dan sekarang kita bertetangga.”
Myungsoo tersenyum hangat. Aku balas tersenyum padanya.
“Ngomong-ngomong, aku ingin jalan-jalan di sekitar sini. Kau mau menemaniku?”
Omo! Ottokhae?? Otthokhae? Dia memintaku menemaninya jalan-jalan >
Aku mengangguk ragu, “Baiklah. Tapi biarkan aku masuk dan menata barang belanjaanku dulu.”
Myungsoo tertawa, dia lalu membantuku membawakan barang belanjaanku sementara aku membuka pintu. Dia menaruh kantong-kantong belanjaanku diatas meja makan.
“Letakkan saja disana. Nanti biar aku bereskan sendiri.” seruku dari arah balkon. Karena tadi buru-buru belanja, aku sampai lupa mengunci pintu balkon.
“Ne, kutunggu kau diluar, Sooyeon-ssi.”
Selesai mengunci pintu balkon dan mengecek dapur, aku keluar dari apartemen. Myungsoo sudah menunggu di dekat lift.
“Maaf, membuatmu menunggu lama.” kataku.
“Gwenchana. Kaja!” dia masuk ke lift yang terbuka. Aku mengikutinya.
“Kau ingin jalan-jalan kemana, Myungsoo-ssi?” tanyaku.
Myungsoo terdiam sejenak, “Aku ingin mengobrol dengan tetangga baruku sambil jalan-jalan di taman.”
Dahiku berkerut, “Aku? Baiklah. Tidak masalah.”
Ting!
Pintu lift terbuka. Aku dan Myungsoo keluar dari lift dan berjalan menuju taman. Suasana yang canggung dan kaku. Aku sedikit tidak nyaman dengan itu.
“Ehm..mau duduk di dekat kolam atau di bawah pohon?” tanya Myungsoo.
“Di dekat kolam saja.
Myungsoo mengangguk mengerti dan langsung berjalan menuju bangku kosong di pinggir kolam. Cuaca sore ini sedikit mendung. Tapi lumayan hangat sehingga aku tidak perlu memakai jaket.
“Duduklah,Sooyeon-ssi.”
Myungsoo mempersilakanku duduk. Aku duduk agak canggung disampingnya.
“Jadi… Sooyeon-ssi. Kenapa kau ada di sini? Di New York?” tanya Myungsoo. Matanya tidak sedang menatapku, melainkan menatap langit mendung sore ini.
“Appa mengirimku sekolah di New York. Jadi, disinilah aku sekarang. Bagaimana denganmu?”
“Aku juga sama sepertimu. Menuntut ilmu di New York.”
Aku mengangguk-angguk mengerti.
“Sooyeon-ssi, berapa umurmu?”
Aku menatap kolam di depanku, “22 tahun. Kau?”
“Aku 23 tahun.”
Aku balik menatapnya, “Wah, kukira kau seumuran denganku.”
“Hey, aku satu tahun lebih tua darimu.” celetuknya.
Aku tertawa, “Ya, ya, aku mengerti. Kau cerewet sekali ternyata, persis seperti Jinyoung oppa.”
“Kau punya oppa?”
Aku mengangguk, “Mm, aku punya dua oppa. Aku anak ketiga.”
“Ah, begitu ya. Kalau aku anak kedua atau yang paling muda. Aku punya saudara kembar, dia-”
“Jinja? Kau punya saudara kembar? Apa wajahnya mirip denganmu? Apa dia juga tampan sepertimu?” aku memotong ucapannya dengan pertanyaan-pertanyaan konyolku. Terutama pertanyaan yang terakhir itu. Aku keceplosan mengatakannya.
Kulihat Myungsoo kembali tertawa, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
“Dia noonaku. Jauh lebih ‘tampan’ dariku.” jawabnya, mencoba melucu dengan kata ‘tampan’ yang diucapkannya.
Melihat ekspresi wajahku yang masih tidak connect, dia melanjutkan, “Kami fraternal twins.”
“Aah..begitu.” aku mengangguk mengerti. Bisa kubayangkan bagaimana wajah noona Myungsoo.
“Eh, kau kuliah dimana?”
“Di universitas ____” jawabku.
Bisa kudengar keterkejutan Myungsoo disampingku.
“Jinja? Aku juga kuliah disana.”
Kali ini ganti aku yang terkejut.
“Wah, kita bisa berangkat bersama-sama ke kampus!” ujarku.
“Tentu saja!” Myungsoo tersenyum lebar.
Sore itu kuhabiskan waktuku dengan mengobrol bersama Myungsoo, tetangga baruku. Dia sangat pandai berbicara dan untungnya kami tidak kekurangan topik obrolan.
Dan, oh… Dia benar-benar menarik.
Aku baru saja kembali dari minimarket. Tak kusangka, aku akan berbelanja sebanyak ini. Dua kantong kertas besar.
Hey, mana kunci apartemenku? Kurogoh saku jaketku sekali lagi. Ah, sebentar, kuletakkan saja dulu kantong kertas ini di lantai.
“Hei..” aku terlonjak kaget karena seseorang menepuk pundakku. Hampir saja aku menjatuhkan kunci apartemenku yang baru kutemukan.
“Eh? Annyeonghaseyo..” tanpa sadar aku menyapanya dalam bahasa korea.
“Ne, annyeonghaseyo. Wah, benar, kau orang korea juga ternyata.” lelaki tampan itu tersenyum. Hey, dia tersenyum!
“Ah, ne.” aku benar-benar tidak tahu bagaimana merespon kata-katanya.
Lelaki tampan itu tertawa, “Aku Kim Myungsoo.” dia mengulurkan tangannya.
Aku menyambut tangannya dengan gembira, “Jung Sooyeon imnida.” aku membungkuk sedikit.
“Jadi, kita pernah bertemu sebelumnya. Di cafe bandara. Kau masih ingat?”
Aku mengangguk, “Ya, aku masih ingat.”
“Dan sekarang kita bertetangga.”
Myungsoo tersenyum hangat. Aku balas tersenyum padanya.
“Ngomong-ngomong, aku ingin jalan-jalan di sekitar sini. Kau mau menemaniku?”
Omo! Ottokhae?? Otthokhae? Dia memintaku menemaninya jalan-jalan >
Aku mengangguk ragu, “Baiklah. Tapi biarkan aku masuk dan menata barang belanjaanku dulu.”
Myungsoo tertawa, dia lalu membantuku membawakan barang belanjaanku sementara aku membuka pintu. Dia menaruh kantong-kantong belanjaanku diatas meja makan.
“Letakkan saja disana. Nanti biar aku bereskan sendiri.” seruku dari arah balkon. Karena tadi buru-buru belanja, aku sampai lupa mengunci pintu balkon.
“Ne, kutunggu kau diluar, Sooyeon-ssi.”
Selesai mengunci pintu balkon dan mengecek dapur, aku keluar dari apartemen. Myungsoo sudah menunggu di dekat lift.
“Maaf, membuatmu menunggu lama.” kataku.
“Gwenchana. Kaja!” dia masuk ke lift yang terbuka. Aku mengikutinya.
“Kau ingin jalan-jalan kemana, Myungsoo-ssi?” tanyaku.
Myungsoo terdiam sejenak, “Aku ingin mengobrol dengan tetangga baruku sambil jalan-jalan di taman.”
Dahiku berkerut, “Aku? Baiklah. Tidak masalah.”
Ting!
Pintu lift terbuka. Aku dan Myungsoo keluar dari lift dan berjalan menuju taman. Suasana yang canggung dan kaku. Aku sedikit tidak nyaman dengan itu.
“Ehm..mau duduk di dekat kolam atau di bawah pohon?” tanya Myungsoo.
“Di dekat kolam saja.
Myungsoo mengangguk mengerti dan langsung berjalan menuju bangku kosong di pinggir kolam. Cuaca sore ini sedikit mendung. Tapi lumayan hangat sehingga aku tidak perlu memakai jaket.
“Duduklah,Sooyeon-ssi.”
Myungsoo mempersilakanku duduk. Aku duduk agak canggung disampingnya.
“Jadi… Sooyeon-ssi. Kenapa kau ada di sini? Di New York?” tanya Myungsoo. Matanya tidak sedang menatapku, melainkan menatap langit mendung sore ini.
“Appa mengirimku sekolah di New York. Jadi, disinilah aku sekarang. Bagaimana denganmu?”
“Aku juga sama sepertimu. Menuntut ilmu di New York.”
Aku mengangguk-angguk mengerti.
“Sooyeon-ssi, berapa umurmu?”
Aku menatap kolam di depanku, “22 tahun. Kau?”
“Aku 23 tahun.”
Aku balik menatapnya, “Wah, kukira kau seumuran denganku.”
“Hey, aku satu tahun lebih tua darimu.” celetuknya.
Aku tertawa, “Ya, ya, aku mengerti. Kau cerewet sekali ternyata, persis seperti Jinyoung oppa.”
“Kau punya oppa?”
Aku mengangguk, “Mm, aku punya dua oppa. Aku anak ketiga.”
“Ah, begitu ya. Kalau aku anak kedua atau yang paling muda. Aku punya saudara kembar, dia-”
“Jinja? Kau punya saudara kembar? Apa wajahnya mirip denganmu? Apa dia juga tampan sepertimu?” aku memotong ucapannya dengan pertanyaan-pertanyaan konyolku. Terutama pertanyaan yang terakhir itu. Aku keceplosan mengatakannya.
Kulihat Myungsoo kembali tertawa, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
“Dia noonaku. Jauh lebih ‘tampan’ dariku.” jawabnya, mencoba melucu dengan kata ‘tampan’ yang diucapkannya.
Melihat ekspresi wajahku yang masih tidak connect, dia melanjutkan, “Kami fraternal twins.”
“Aah..begitu.” aku mengangguk mengerti. Bisa kubayangkan bagaimana wajah noona Myungsoo.
“Eh, kau kuliah dimana?”
“Di universitas ____” jawabku.
Bisa kudengar keterkejutan Myungsoo disampingku.
“Jinja? Aku juga kuliah disana.”
Kali ini ganti aku yang terkejut.
“Wah, kita bisa berangkat bersama-sama ke kampus!” ujarku.
“Tentu saja!” Myungsoo tersenyum lebar.
Sore itu kuhabiskan waktuku dengan mengobrol bersama Myungsoo, tetangga baruku. Dia sangat pandai berbicara dan untungnya kami tidak kekurangan topik obrolan.
Dan, oh… Dia benar-benar menarik.
—–
Myungsoo POV
“Jadi? Bagaimana hari
pertamamu di New York?” tanya Se Ra di ujung sana. Suaranya tidak terlalu
jelas, mungkin karena sambungan internasional.
“Hmm…menarik.” jawabku setengah sadar. Kubuka pintu balkon dan duduk di kursi kayu. Menikmati suasana malam di New York.
“Ya! Apa maksudmu dengan ‘menarik’?” dia selalu seperti itu, telinganya peka sekali.
“Eh? Yah, maksudku, New York menarik sekali untuk dikunjungi. Kurasa aku akan betah disini.”
“Baguslah kalau kau betah.”
“Kau tahu, Se Ra, apartemenku disini lebih luas dan nyaman dari apartemenmu di Seoul.”
Hening sesaat.
“Hey! Kau harus memanggilku noona! Dasar kau dongsaeng tidak tahu sopan santun!”
Kujauhkan ponsel dari telingaku. Mengerikan sekali mendengar Se Ra berteriak, aku kan hanya 7 menit lebih muda darinya.
“Kau lebih tua 7 menit dariku, Se Ra.” aku menggodanya.
“YA!! Tetap saja aku lebih tua darimu, pabo!”
Aku terkikik geli mendengar protes yang dilontarkannya.
“Arasseo, noona.”
Bisa kudengar noona terkikik geli diujung sana.
“Hey, Myungsoo-ya. Apa kau menemukan gadis yang membuatmu tertarik? Masa kau tidak menemukan gadis New York yang cantik?” tanya noona tiba-tiba.
Hey, apa-apaan ini? Aku belum siap menjawab pertanyaan seperti ini.
“Kurasa, aku memang menemukan.” jawabku jujur.
“Jinja? Seperti apa dia?”
“Dia cantik, imut, sangat menarik. Dan dia bukan gadis New York.” yang ada dipikiranku tentu saja tetangga baruku itu.
“Eoh? Dia bukan gadis New York? Lalu?”
Sepertinya noona penasaran sekali.
“Dia gadis Korea.”
Noona bersiul keras diujung sana. Astaga, aku telah mengatakan rahasiaku pada noona.
“Hahaha…good job, Myung!”
Aku tersenyum senang sambil menatap balkon disamping kananku.
Benar, tetangga baruku, Jung Sooyeon, dia sangat menarik.
“Hmm…menarik.” jawabku setengah sadar. Kubuka pintu balkon dan duduk di kursi kayu. Menikmati suasana malam di New York.
“Ya! Apa maksudmu dengan ‘menarik’?” dia selalu seperti itu, telinganya peka sekali.
“Eh? Yah, maksudku, New York menarik sekali untuk dikunjungi. Kurasa aku akan betah disini.”
“Baguslah kalau kau betah.”
“Kau tahu, Se Ra, apartemenku disini lebih luas dan nyaman dari apartemenmu di Seoul.”
Hening sesaat.
“Hey! Kau harus memanggilku noona! Dasar kau dongsaeng tidak tahu sopan santun!”
Kujauhkan ponsel dari telingaku. Mengerikan sekali mendengar Se Ra berteriak, aku kan hanya 7 menit lebih muda darinya.
“Kau lebih tua 7 menit dariku, Se Ra.” aku menggodanya.
“YA!! Tetap saja aku lebih tua darimu, pabo!”
Aku terkikik geli mendengar protes yang dilontarkannya.
“Arasseo, noona.”
Bisa kudengar noona terkikik geli diujung sana.
“Hey, Myungsoo-ya. Apa kau menemukan gadis yang membuatmu tertarik? Masa kau tidak menemukan gadis New York yang cantik?” tanya noona tiba-tiba.
Hey, apa-apaan ini? Aku belum siap menjawab pertanyaan seperti ini.
“Kurasa, aku memang menemukan.” jawabku jujur.
“Jinja? Seperti apa dia?”
“Dia cantik, imut, sangat menarik. Dan dia bukan gadis New York.” yang ada dipikiranku tentu saja tetangga baruku itu.
“Eoh? Dia bukan gadis New York? Lalu?”
Sepertinya noona penasaran sekali.
“Dia gadis Korea.”
Noona bersiul keras diujung sana. Astaga, aku telah mengatakan rahasiaku pada noona.
“Hahaha…good job, Myung!”
Aku tersenyum senang sambil menatap balkon disamping kananku.
Benar, tetangga baruku, Jung Sooyeon, dia sangat menarik.
—————————–
~TBC~
~TBC~
Part 1 udah kelar, gimana chingu? Sudah cukup panjang kah? Atau
kurang panjang? Buat part awal-awal, konfliknya belum muncul yah. Mungkin ntar
di part 5. Eh mungkin di part 3 & 4 udah ketahuan masalahnya.
KOMENTARNYA!! KOMENTAR!!!
Gomawo buat anakku Sung Je Mi. Posternya, posternya! ^^
Part selanjutnya bakal di post next week. Nggak tau deh hari
apa. Yang jelas minggu depan. Subscribe di blog ini aja kalo mau update fanfic
ini.
Gomawo banget pake Z, yang udah baca ff ini + komen pula! Author
doain makin suka aja sama ff ini (?).
Oke, see you next week. Ppaayy ^^
©Safira Alhana

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Please leave your comment here! Thanks :)
-Safira Alhana-