Author : Safira Alhana
a.k.a Park Chan Ra / Cia Park @hanna_ryeong9
Cast :
- Kim Myung Soo (L Infinite)
- Jung Soo Yeon (OC)
- Jung Jin Young (Jinyoung B1A4)
- Kim Se Ra (OC)
- Jung Yunho (Yunho TVXQ)
- Other cast..
Genre : Drama, sad, romance
Rating : T
Length : Chapter
Disclaimer : Fanfic ini 100% original karya Safira Alhana Zubairy. Plot, ide cerita, semuanya 100% hasil ekskresi (?) otak pentium saya.
Cast :
- Kim Myung Soo (L Infinite)
- Jung Soo Yeon (OC)
- Jung Jin Young (Jinyoung B1A4)
- Kim Se Ra (OC)
- Jung Yunho (Yunho TVXQ)
- Other cast..
Genre : Drama, sad, romance
Rating : T
Length : Chapter
Disclaimer : Fanfic ini 100% original karya Safira Alhana Zubairy. Plot, ide cerita, semuanya 100% hasil ekskresi (?) otak pentium saya.
Untuk part awal
backsound terserah kalian, karena konfliknya belum muncul 
Rekomendasi :
Jung Yonghwa – 그리워서… (OST. Heartstrings)
Huh Gak – Hello
As One – White Love Story (OST. Coffee Prince)
INFINITE – Only Tears
CN Blue – Still in Love
Dan lagu-lagu galau lainnya…
Jung Yonghwa – 그리워서… (OST. Heartstrings)
Huh Gak – Hello
As One – White Love Story (OST. Coffee Prince)
INFINITE – Only Tears
CN Blue – Still in Love
Dan lagu-lagu galau lainnya…
DON’T FORGET TO LEAVE
YOUR COMMENT!! UPDATE EVERYWEEK!
Sooyeon POV
“Mana kunci mobilku?”
aku bingung mencari kunci mobilku yang kemarin dipinjam Krystal. Aish, apa
Krystal belum mengembalikannya ya?
Ting-tong..
Siapa itu? Pagi-pagi
sudah bertamu.
“Sooyeon-a! Kunci
mobilmu!” aku mendengar teriakan Myungsoo diluar. Hah, apa anak itu tidak takut
dimarahi tetangga? Teriakannya keras sekali.
Ceklek.
“Oy, mwoya? Teriakanmu
keras sekali,” kulihat wajah datar Myungsoo di depan pintu yang baru saja
kubuka.
“Kau ini ceroboh sekali. Nih, kunci mobilmu ketinggalan di atas meja makanku,” Myungsoo menyodorkan kunci mobilku, setelah itu berbalik pergi menuju lift.
“Gomawo, Myung~!” seruku saat melihatnya hendak masuk kedalam lift.
“Hey aku lebih tua darimu!” Myungsoo balas berseru dari dalam lift, setelah itu pintu lift tertutup.
“Kau ini ceroboh sekali. Nih, kunci mobilmu ketinggalan di atas meja makanku,” Myungsoo menyodorkan kunci mobilku, setelah itu berbalik pergi menuju lift.
“Gomawo, Myung~!” seruku saat melihatnya hendak masuk kedalam lift.
“Hey aku lebih tua darimu!” Myungsoo balas berseru dari dalam lift, setelah itu pintu lift tertutup.
Hahaha, aku senang
sekali memanggilnya Myung. Aku tidak merasa dia satu tahun lebih tua dariku.
Apalagi hubungan kami semakin akrab. Dia sering main ke apartemenku. Sekedar
ngobrol, menonton tv sampai ikut makan bersamaku karena tidak ada makanan di
apartemennya. Dia kadang bersikap dingin. Tapi sikap dinginnya itu keren,
menurutku. Tapi kalau moodnya sedang baik, dia dengan senang hati mentraktirku
makan. Senyum juga tak lepas dari wajah tampannya ketika ia sedang mood.
Hey, Jung Sooyeon!
Bangun! Lihatlah sekarang jam berapa? Kau terlambat, pabo!
Cepat-cepat aku masuk
ke apartemenku mengambil tas, kemudian mengunci apartemen. Setelah itu aku
berlari menuju lift yang kebetulan terbuka.
“Myung~ tunggu aku!”
—–
Myungsoo POV
Hahaha. Sooyeon
benar-benar gadis ceroboh sekaligus pelupa. Aku masih ingat ketika ia tadi
malam mampir ke apartemenku untuk makan pizza bersama.
-Flashback-
Malam itu Sooyeon baru
pulang dari kampus. Ia mendapat sekotak pizza dari Krystal. Karena dia merasa
tidak bisa makan semua pizza itu, dia ke apartemenku dan berbagi pizza
denganku. Aku jelas senang. Semua keluargaku tahu aku tidak bisa memasak dan
pilih-pilih dalam urusan kuliner.
Ketika dia hendak
makan pizza ke-duanya, tiba-tiba ponselnya berdering. Aku tidak tahu siapa yang
menelepon Sooyeon dan apa yang mereka bicarakan. Aku meneruskan acara makan
malamku, sambil mengamati Sooyeon yang berbicara serius di ponselnya.
“Aku harus pulang,
Myung. Jessica eonnie menungguku,” kulihat Sooyeon buru-buru memakan pizzanya.
Tapi karena tidak sempat, ia hanya mejepit sepotong pizza di mulutnya sementara
tangannya mengambil jaket, topi dan setumpuk buku di atas meja makan.
“Baiklah, pelan-pelan
saja. Gomawo makan malamnya, Sooyeon-ah,” aku berdiri, masih mengunyah pizza,
mengikutinya ke pintu apartemenku.
Sebelum itu, aku
berbalik untuk memastikan barang-barangnya tidak ada yang ketinggalan. Tapi aku
menemukan sesuatu di kursi makanku. Tas merah Sooyeon.
“Sooyeon-ah, tunggu!”
aku cepat-cepat meraih tas Sooyeon dan memberikannya pada pemiliknya.
“Oh, well, thanks
Myung. See ya!” Sooyeon berlari keluar dari apartemenku.
Aku menutup pintu dan
kembali ke meja makan. Masih tersisa 2 potong pizza di atas meja. Kuambil
sepotong dan mulai mengunyahnya. Mataku menatap benda berkilau di samping kotak
pizza. Kuraih benda itu. Astaga, kunci mobil. Dasar Sooyeon -_-
Kugantung kunci mobil
Sooyeon bersama kunci mobilku di tempat gantungan disamping pintu apartemen.
Besok akan kukembalikan. Sekarang sudah malam, dan aku ingin cepat-cepat tidur.
-Flashback End-
Aku terkikik geli
mengingat kejadian semalam. So cute.
“Myungsoo!” aku
menoleh ke arah seseorang yang memanggilku.
“Hey, hyung!” aku
balas berseru sambil melambaikan tanganku.
Nam Woohyun. Anak
tunggal dari keluarga ternama di Korea. Ayahnya adalah rekan bisnis ayahku. Yang
kutahu, ia sekarang tinggal di Paris.
Woohyun hyung
memelukku. Aku balas memeluknya. Dia sudah seperti saudara bagiku.
“Hyung kenapa ada
disini? Bukannya hyung di Paris?” aku bertanya padanya ketika ia melepaskan
pelukannya.
Woohyun hyung
tersenyum, “Tentu saja mengunjungimu,” ia mengacak-acak rambutku.
“Jinja?” Woohyun hyung
menganggukkan kepalanya.
“Asyik,” aku bergumam
sendiri sambil merogoh saku celanaku.
Kuberikan kunci
apartemenku pada Woohyun hyung.
“Kalau hyung perlu istirahat,
masuk saja ke apartemenku. Aku harus ke kampus, hyung,” aku merogoh saku
celanaku lagi dan mengeluarkan kunci mobilku.
“Arasseo. Aku ke
apartemenmu,” Woohyun hyung menepuk pundakku dan berjalan masuk ke lift.
Aku langsung berlari
meninggalkan gedung menuju basement. Tiba-tiba aku mendengar namaku dipanggil.
Aku membalikkan tubuh dan melihat tetanggaku Sooyeon berlari-lari
menghampiriku.
“Myung!
Hah..hah..hah..” Sooyeon berhenti dihadapanku. Napasnya terengah-engah. Ia
membenahi tas dan rambutnya yang berantakan.
“Aku ikut denganmu.
Kau mau ke kampus bukan?” tanya Sooyeon. Suaranya sedikit bergetar.
Aku memiringkan
kepalaku, bingung.
“Bukankah kau sudah
mendapatkan kunci mobilmu?”
“Aku malas menyetir.”
“Arasseo, masuklah.”
Aku masuk ke pintu
kemudi dan Sooyeon membuka pintu disamping kemudi, lalu duduk disampingku.
Mesin mobil kunyalakan dan mobil langsung meluncur keluar dari basement.
—–
Sooyeon POV
Aduh, Myungsoo oppa
pasti sudah berangkat ke kampus. Aku ada kuliah pagi ini dan aku harus sampai
disana dalam waktu 10 menit. Dosenku ini tidak suka melihat muridnya datang
terlambat.
Ting.
Akhirnya, pintu lift
terbuka. Aku cepat-cepat keluar dari lift dan menyusul Myungsoo. Aku tidak
ingin menyetir mobil dalam keadaan terburu-buru, makanya aku memutuskan untuk
berangkat bersama Myungsoo. Tapi aku tidak memberitahunya.
Brakk.
Aish, siapa yang
menabrakku?! Ah, aniya. Kurasa aku yang menabrak.
“Sorry, I’m in hurry,”
aku berdiri dan membungkuk sedikit. Kulihat siapa orang yang kutabrak.
Oh, astaga! Dia seorang
namja. Dan sepertinya dia juga orang Korea.
Namja tampan itu balas
membungkuk dan tersenyum. Astaga, dia tampan > “It’s okay, you can go now,”
namja itu berbalik dan berjalan menuju lift. Ia masih tersenyum saat menatapku
untuk yang terakhir sebelum pintu lift menutup.
Aku tersadar dan
langsung berlari menuju basement. Kulihat Myungsoo oppa berjalan menuju mobil
silvernya terparkir.
“Myung!” aku berteriak
memanggil namanya sambil berlari. Untunglah, Myungsoo oppa mendengarku dan
berbalik.
Aku berhenti tepat
dihadapannya, membungkuk mengatur nafas.
“Aku ikut denganmu.
Kau mau ke kampus, bukan?”
Myungsoo oppa terlihat
bingung. Tapi akhirnya ia mengijinkan. Aku langsung membuka pintu disamping
kemudi dan duduk. Tak lupa aku memakai seatbelt.
“Lima menit lagi kita
terlambat. Kencangkan sabuk pengamanmu, aku akan ngebut kali ini,” Myungsoo
oppa memasang seatbeltnya dan langsung mengemudikan mobil keluar basement.
Mobil silver keluaran
terbaru ini melaju kencang di jalanan kota New York yang lumayan padat. Aku
memejamkan mata, sedikit takut karena ini pertama kalinya Myungsoo oppa ngebut.
Tiba-tiba seseorang
menepuk pundakku. Aku membuka sedikit mataku dan menoleh ke samping. Myungsoo
oppa tampak menahan tawa melihatku.
“Waeyo?”
“Kita sudah sampai.
Cepatlah turun, aku yakin sekarang Mr. Smith sedang mengoceh di kelasmu,”
Ah, benar juga.
Aku keluar dari mobil
Myungsoo dan langsung berlari menuju kelasku.
“Gomawo, oppa!” aku
berbalik dan melambaikan tangan.
Sekarang, yang harus
kulakukan adalah cepat-cepat masuk kelas sebelum Mr. Smith datang. Masih ada
waktu 1 menit.
—–
Author POV
Seoul, Korea Selatan
Jung Jinyoung membuka
pintu kamarnya, dan dengan malas berjalan turun ke ruang makan. Di ruang makan,
sudah ada hyung dan appanya.
“Oy, Jinyoung-ah!” Jung
Yonghwa melambai dan menyuruh Jinyoung untuk duduk.
“Tumben kau terlambat
bangun. Biasanya kau yang bangun paling pagi,” Jung Yunho menuangkan air putih
di gelasnya sambil komentar.
“Aku baru bisa tidur
jam 4 pagi,” gumam Jinyoung.
“Wae, apa yang kau pikirkan?”
tanya Yunho pada putranya itu.
“Aku rindu Sooyeon,”
jawab Jinyoung.
Yonghwa tertawa
melihat tingkah laku dongsaengnya itu.
“Astaga, kukira ada
apa. Telepon saja Sooyeon,” kata Yunho seraya beranjak dari duduknya dan meraih
jas yang tersampir di kursi.
“Hmmm…” gumam Jinyoung
tak jelas.
“Kau tidak ada kuliah
hari ini, Jinyoung-ah?” tanya Yunho.
“Tidak ada, appa.”
“Baiklah, appa ke
kantor dulu. Jangan lupa kunci pintu kalau keluar rumah.” pesan Yunho.
“Ne, hati-hati di
jalan, appa.” Yonghwa melambaikan tangannya kemudian kembali ke kegiatannya,
menggoreng kentang.
“Hyung, kau ada kuliah
hari ini?” Jinyoung mengangkat kepalanya dan bertanya pada hyungnya. Tiba-tiba
ia punya ide.
“Tidak ada.” jawab
Yonghwa.
“Hyung.”
“Wae?”
“Ayo kita ke New
York.”
Prang!!
Piring berisi kentang
goreng yang baru saja dimasak Yonghwa jatuh ke lantai. Yonghwa menatap kaget
dongsaengnya.
“Mworago?”
“Ayo kita ke New York
dan mengunjungi Sooyeon. Aku sudah rindu padanya hyung..” rengek Jinyoung.
“Bagaimana dengan
kuliahmu? Bagaimana dengan pacar barumu itu? Bukankah dia sedang ujian? Masa
kau mengajaknya ke New York, atau lebih parahnya kau meninggalkannya di Seoul.
Namja macam ap-”
“Hyung!”
Yonghwa berhenti
mengoceh dan menghampiri dongsaengnya. Tapi ditengah jalan ia terpeleset kentang
goreng yang ia jatuhkan.
“Aaww! Mwoya?!” gerutu
Yonghwa seraya berdiri membersihkan celananya dan menepuk-nepuk bokongnya yang
mencium lantai.
Jinyoung tertawa
terbahak-bahak melihat hyungnya. Ia sendiri bahkan nyaris terjatuh dari kursi.
“Hey, berhentilah
tertawa dan bantu aku membereskan ini!” Yonghwa berkacak pinggang sambil
menunjuk kekacauan yang dibuatnya.
“Ne, hyung. Hahaha..”
Jinyoung bangkit dan langsung membantu Yonghwa membersihkan pecahan piring dan
kentang goreng.
“Hyung, ayolah..” Jinyoung
menatap hyungnya penuh harap.
“Aku ada kuliah besok
pagi, Jinyoung-ah.” kata Yonghwa, matanya fokus menatap lantai,
memastikan tidak ada pecahan piring yang tertinggal.
“Ah, sudahlah
lupakan.” Jinyoung berjalan lesu ke kamarnya.
“Ckckck..” Yonghwa menggeleng-gelengkan
kepalanya geli.
—–
Jinyoung membuka pintu
balkon kamar Sooyeon. Pemandangan dari tempat ini bagus sekali, pantas saja
menjadi tempat favorit Sooyeon.
Ah, aku harus
menelepon Sooyeon, kata Jinyoung dalam hati.
Jinyoung merogoh saku
celananya dan mengeluarkan ponsel. Setelah mengutak-atik sebentar, nada sambung
terdengar. Jinyoung menempelkan ponselnya ke telinga.
“Oppa!” seru Sooyeon
tanpa mengucapkan salam terlebih dulu.
Senyum Jinyoung
semakin lebar ketika mendengar suara dongsaengnya.
“Sooyeon-ah, bagaimana
kabarmu?” tanya Jinyoung.
“Aku baik, oppa
sendiri bagaimana?”
“Oppa juga baik.”
“Oppa, bogoshipoyo~”
“Hahaha, nado
dongsaeng-ah.” Jinyoung terkikik geli, ternyata dongsaengnya juga rindu
padanya.
“Bagaimana kabar appa
dan Yonghwa oppa?”
“Kau tahu sendiri,
appa sibuk seperti biasa. Yonghwa hyung, dia baru saja terpeleset 15 menit yang
lalu, hahaha.” Jinyong tertawa mengingat kejadian tadi.
“Ah… Yonghwa oppa
memang seperti itu. Ceroboh seperti biasa.” celetuk Sooyeon.
Kedua kakak-beradik
itu saling bertukar cerita. Kebetulan Sooyeon sedang free, dan Jinyoung juga.
“Jadi, apa kau punya
banyak teman disana?” tanya Jinyoung.
“Hmm.. Oppa tau
sendiri aku susah beradaptasi dengan lingkungan baru. Temanku disini cuma
Krystal dan Jessica eonni. Oh ya, dan tetanggaku.”
Jinyoung merasakan
sesuatu.
“Tetangga? Sejak kapan
kau peduli dengan tetanggamu?”
Sooyeon tertawa
diujung telepon.
“Hmmm.. Yah, dia
sangat baik. Kebetulan dia juga kuliah di universitas yang sama sepertiku. Dia
juga baru sebulan yang lalu tiba di New York, sama sepertiku.” jawab Sooyeon.
“Hey, dia laki-laki
atau perempuan?” selidik Jinyoung. Dia merasa aneh dengan dongsaengnya.
Hening sesaat.
“Namja.” jawab Sooyeon
lirih.
Kali ini, tawa
Jinyoung benar-benar meledak. Dongsaengnya punya teman laki-laki selain dirinya
dan Yonghwa.
“Siapa namanya?”
“Kim Myungsoo. Tapi
aku sering memanggilnya Myung. Dia satu tahun lebih tua dariku. Dan, oh! Dia
orang korea juga.” Sooyeon menjelaskan secara singkat tentang Myungsoo.
Aku hanya tanya
namanya, batin Jinyoung.
“Apa dia tampan?”
Hening.
“Oppa tanya, apa dia
tampan?”
“Hmmm… Iya.”
Jinyoung bersiul keras
mendengar jawaban dongsaengnya.
“Dan kau menyukainya?”
“Aniya! Kami hanya
berteman. Dia tampan, baik, pintar, dan idola di kampus. Kalau aku menyukainya,
aku tidak mau bersaing dengan ratusan yeoja di kampus.”
“Hahaha… Sudahlah
mengaku saja, sebenarnya kau menyukainya kan?” goda Jinyoung.
“Oppa!” teriak
Sooyeon.
Jinyoung tertawa
terbahak-bahak. Ia hampir saja terjatuh dari kursi yang ia duduki.
“Oppa sendiri
bagaimana? Apa ada yeoja yang menarik hati oppa disana?” Sooyeon balik
bertanya.
Tawa Jinyoung
berhenti. Ia menghela napas. Sudah saatnya memberitahu Sooyeon, pikir Jinyoung.
“Sebenarnya, ada yang
ingin oppa sampaikan padamu, Sooyeon-ah.”
“Ne, katakan saja,
oppa.”
Jinyoung menghela
nafas. Ia berdehem, lalu kembali tersenyum.
“Oppa.. Oppa punya
yeojachingu.” kata Jinyoung.
“Mwo?! Oppa serius?”
“Ne, Sooyeon-ah. Kali
ini oppa serius. Oppa mencintainya, sangat mencintainya.”
Sooyeon terkikik geli,
mengingat oppanya adalah playboy yang sering jatuh cinta.
“Kapan oppa jadian?
Setahuku, ketika aku berangkat ke NY, oppa masih jomblo.”
“Seminggu yang lalu.
Aku bertemu dengannya di bandara tepat setelah pesawatmu take off. Dia juga
sedang mengantar dongsaengnya ke New York.”
Sooyeon ber-oh ria.
“Apa dia cantik? Kapan
oppa memperkenalkanku dengannya?” tanya Sooyeon. Sepertinya Sooyeon sangat
excited dengan kehadiran yeojachingu oppanya.
“Hahaha, tentu saja
dia cantik. Dia satu tahun lebih muda dariku. Kau pulanglah ke Seoul kalau
ingin bertemu dengannya.” jawab Jinyoung.
“Aku kan baru se- ah,
sebentar oppa.” terdengar suara berisik disana, “Myung~ bisa kau matikan
kompornya?” teriak Sooyeon.
Jinyoung mengerutkan
dahinya bingung.
“Ne, chankaman!” seru
seorang namja terdengar sampai ke telinga Jinyoung.
“Ya! Sooyeon-ah!
Tetanggamu itu sekarang ada di apartemenmu?”
“Ne, oppa. Kami sering
makan bersama karena dia tidak bisa masak. Sebentar oppa, aku harus memberinya
sedikit pelajaran.”
Terdengar teriakan
namja, dan ocehan Sooyeon.
“Sudah kubilang jangan
sentuh pancinya!” Jinyoung tertawa mendengar ocehan Sooyeon.
“Aku tidak sengaja
menyentuhnya!” elak Myungsoo. Jinyoung tertawa semakin keras.
“Oy, Sooyeon-ah!”
Jinyoung memanggil dongsaengnya. Tidak ada jawaban.
“Sooyeon-ah!!” teriak
Jinyoung.
“Eoh? Wae oppa?”
“Berikan ponselmu pada
Myungsoo. Aku ingin bicara dengannya.” pinta Jinyoung.
“Ne.”
“Myung, oppaku ingin
bicara denganmu.”
“Mwo? Nugu?”
“Jinyoung oppa, dia
ingin bicara denganmu. Gwenchana..”
Kudengar suara Sooyeon
semakin lirih. Ah, mungkin ponselnya sudah berpindah tangan.
“Yoboseyo..” sapa
Myungsoo. Suaranya terdengar lembut dan sopan.
“Kau Myungsoo bukan?”
“Ne, hyung. Kim Myungsoo
imnida.” Myungsoo memperkenalkan diri.
“Ah, ne. Aku Jung
Jinyoung.” suara Jinyoung terdengar serius.
“Aku ingin bicara
denganmu, Myungsoo-ssi.” pinta Jinyoung.
Myungsoo menoleh
kearah Sooyeon yang sedang sibuk menata makanan di meja makan. Kakinya
melangkah menuju balkon.
“Ne, hyung.”
Terdengar Jinyoung
menghela nafas.
“Sepertinya kau dekat
dengan dongsaengku.” kata Jinyoung.
Myungsoo mengangguk,
meski ia tahu Jinyoung tak bisa melihatnya.
“Ne, benar hyung. Kami
bertetangga sekaligus teman sekampus.” kata Myungsoo.
“Aku mohon, jaga dia
baik-baik.”
Myungsoo terdiam
mendengar permintaan Jinyoung.
“Ne, hyung. Aku akan
menjaganya.” ucap Myungsoo mantap.
“Jika cuaca dingin,
jangan biarkan Sooyeon kedingingan. Ia punya alergi terhadap udara dingin.
Tubuhnya akan melemah dan ia mudah kram, dan wajahnya akan pucat kalau ia
kedinginan.”
Myungsoo mendengarkan
perkataan Jinyoung dengan seksama.
“Hyung tenang saja,
aku akan menjaganya.” Myungsoo berusaha meyakinkan Jinyoung.
“Hmmm. Baiklah, aku
percaya padamu, Myungsoo-ssi.”
Setelah mengucapkan
salam, Jinyoung memutuskan sambungan. Myungsoo kembali ke meja makan dan duduk
di kursi dihadapan Sooyeon.
“Apa yang kalian
bicarakan? Lama sekali.” keluh Sooyeon.
“Mianhae. Ayo kita
makan.” Myungsoo mengambil sendok dan mulai makan.
—–
Sooyeon POV
Selesai makan, aku dan
Myungsoo menonton TV di tuang tengah apartemenku. Kenyataan bahwa Jinyoung oppa
sekarang sudah punya Yeojachingu, sangat menggangguku. Bagaimana kalau Jinyoung
oppa lebih sayang yeojachingunya daripada aku?
Benar-benar mengganggu
pikiranku.
“Wae geurae,
Sooyeon-ah?” tanya Myungsoo yang sedari tadi melihatku gelisah di sofa.
“Mmm..” aku ingin
sekali menceritakan ini padanya. Setidaknya mengurangi beban pikiranku.
“Katakan saja, apa
masalahnya?”
Aku menceritakan
semuanya pada Myungsoo. Tentang Jinyoung oppa yang punya yeojachingu, sampai
ketakutanku kalau Jinyoung oppa tidak lagi menyayangiku.
Kau tahu apa
reaksinya? Tertawa.
Astaga, anak itu
kenapa senang sekali menertawakanku? Memangnya ada yang salah denganku?
“Sooyeon-ah, kau itu
kekanakan sekali. Hahahaha..” Myungsoo semakin gila tertawa.
Aku hanya
mengerucutkan bibirku kesal.
“Ya! Myungsoo oppa!”
aku mencubit lengannya yang terekspos kaos lengan panjangnya.
“Mianhae..”
Aku menatap kesal
Myungsoo oppa. Minta maafnya tidak serius.
“Kau tenang saja.
Masih ada orangtuamu, dan aku yang menyayangimu.” Myungsoo oppa berkata, seraya
bangkit menuju dapur.
Astaga. Kata-katanya.
Dia bilang, dia menyayangiku. Menyayangiku dalam makna bagaimana?
“Siapa nama
yeojachingu Jinyoung hyung?” tanya Myungsoo.
Aku baru ingat. Aku
lupa menanyakan namanya.
“Mollayo, oppa. Aku
lupa bertanya.”
“Gwenchana. Dia pasti
bisa menjadi yeoja yang baik untuk Jinyoung hyung. Kau ingin yang terbaik
untuknya kan?”
Aku mengangguk.
Myungsoo oppa mengacak-acak rambutku.
“Aku pulang dulu.
Jaljayo, Sooyeon-ah.” Myungsoo oppa melangkah keluar apartemenku sambil
melambaikan tangan.
Aku balas melambai.
Kumatikan tv dan langsung menuju kamarku. Aku akan menanyakan pada oppa siapa
nama yeoja itu.
5 menit kemudian,
ponselku bergetar. Pesan balasan dari Jinyoung oppa.
“Kim Se Ra.”
Aku membaca nama yeoja
yang tertera di layar ponselku. Tanpa sadar aku tersenyum. Tapi rasanya ada
yang aneh. Firasatku mengatakan hal-hal yang buruk.
“Kim Se Ra… Nama yang
bagus.”
—————————–
~TBC~
Bagaimana, readers
sudah menemukan sesuatu di part ini? Kkk, itu tandanya kita akan menuju
konflik.
Mianhae kalau kurang
panjang.
Komentarnya
chingudeul, kamsahamnida ^^
©Safira Alhana

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Please leave your comment here! Thanks :)
-Safira Alhana-