Jumlah Pengunjung

Note ^^

Halloo..^^ selamat datang di blog saya! Welcome to my blog! Silakan dilihat-lihat, dibaca-baca tapi jangan di copas! Di blog ini juga saya post fanfic-fanfic. Jangan lupa tinggalkan komentar setelah membaca artikel di blog saya! Kunjungi juga WP saya di safiraalhana.wordpress.com

Rabu, 31 Oktober 2012

{Fanfic} STILL IN LOVE PART 2


Author : Safira Alhana a.k.a Park Chan Ra / Cia Park @hanna_ryeong9
Cast :
- Kim Myung Soo (L Infinite)
- Jung Soo Yeon (OC)
- Jung Jin Young (Jinyoung B1A4)
- Kim Se Ra (OC)
- Jung Yunho (Yunho TVXQ)
- Other cast..
Genre : Drama, sad, romance
Rating : T
Length : Chapter
Disclaimer : Fanfic ini 100% original karya Safira Alhana Zubairy. Plot, ide cerita, semuanya 100% hasil ekskresi (?) otak pentium saya.
Untuk part awal backsound terserah kalian, karena konfliknya belum muncul :-)
Rekomendasi :
Jung Yonghwa –
그리워서… (OST. Heartstrings)
Huh Gak – Hello
As One – White Love Story (OST. Coffee Prince)
INFINITE – Only Tears
CN Blue – Still in Love
Dan lagu-lagu galau lainnya…
DON’T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT!! UPDATE EVERYWEEK!
—————————-

Sebulan kemudian..
Sooyeon POV
“Mana kunci mobilku?” aku bingung mencari kunci mobilku yang kemarin dipinjam Krystal. Aish, apa Krystal belum mengembalikannya ya?
Ting-tong..
Siapa itu? Pagi-pagi sudah bertamu.
“Sooyeon-a! Kunci mobilmu!” aku mendengar teriakan Myungsoo diluar. Hah, apa anak itu tidak takut dimarahi tetangga? Teriakannya keras sekali.
Ceklek.
“Oy, mwoya? Teriakanmu keras sekali,” kulihat wajah datar Myungsoo di depan pintu yang baru saja kubuka.
“Kau ini ceroboh sekali. Nih, kunci mobilmu ketinggalan di atas meja makanku,” Myungsoo menyodorkan kunci mobilku, setelah itu berbalik pergi menuju lift.
“Gomawo, Myung~!” seruku saat melihatnya hendak masuk kedalam lift.
“Hey aku lebih tua darimu!” Myungsoo balas berseru dari dalam lift, setelah itu pintu lift tertutup.
Hahaha, aku senang sekali memanggilnya Myung. Aku tidak merasa dia satu tahun lebih tua dariku. Apalagi hubungan kami semakin akrab. Dia sering main ke apartemenku. Sekedar ngobrol, menonton tv sampai ikut makan bersamaku karena tidak ada makanan di apartemennya. Dia kadang bersikap dingin. Tapi sikap dinginnya itu keren, menurutku. Tapi kalau moodnya sedang baik, dia dengan senang hati mentraktirku makan. Senyum juga tak lepas dari wajah tampannya ketika ia sedang mood.
Hey, Jung Sooyeon! Bangun! Lihatlah sekarang jam berapa? Kau terlambat, pabo!
Cepat-cepat aku masuk ke apartemenku mengambil tas, kemudian mengunci apartemen. Setelah itu aku berlari menuju lift yang kebetulan terbuka.
“Myung~ tunggu aku!”
—–
Myungsoo POV
Hahaha. Sooyeon benar-benar gadis ceroboh sekaligus pelupa. Aku masih ingat ketika ia tadi malam mampir ke apartemenku untuk makan pizza bersama.
-Flashback-
Malam itu Sooyeon baru pulang dari kampus. Ia mendapat sekotak pizza dari Krystal. Karena dia merasa tidak bisa makan semua pizza itu, dia ke apartemenku dan berbagi pizza denganku. Aku jelas senang. Semua keluargaku tahu aku tidak bisa memasak dan pilih-pilih dalam urusan kuliner.
Ketika dia hendak makan pizza ke-duanya, tiba-tiba ponselnya berdering. Aku tidak tahu siapa yang menelepon Sooyeon dan apa yang mereka bicarakan. Aku meneruskan acara makan malamku, sambil mengamati Sooyeon yang berbicara serius di ponselnya.
“Aku harus pulang, Myung. Jessica eonnie menungguku,” kulihat Sooyeon buru-buru memakan pizzanya. Tapi karena tidak sempat, ia hanya mejepit sepotong pizza di mulutnya sementara tangannya mengambil jaket, topi dan setumpuk buku di atas meja makan.
“Baiklah, pelan-pelan saja. Gomawo makan malamnya, Sooyeon-ah,” aku berdiri, masih mengunyah pizza, mengikutinya ke pintu apartemenku.
Sebelum itu, aku berbalik untuk memastikan barang-barangnya tidak ada yang ketinggalan. Tapi aku menemukan sesuatu di kursi makanku. Tas merah Sooyeon.
“Sooyeon-ah, tunggu!” aku cepat-cepat meraih tas Sooyeon dan memberikannya pada pemiliknya.
“Oh, well, thanks Myung. See ya!” Sooyeon berlari keluar dari apartemenku.
Aku menutup pintu dan kembali ke meja makan. Masih tersisa 2 potong pizza di atas meja. Kuambil sepotong dan mulai mengunyahnya. Mataku menatap benda berkilau di samping kotak pizza. Kuraih benda itu. Astaga, kunci mobil. Dasar Sooyeon -_-
Kugantung kunci mobil Sooyeon bersama kunci mobilku di tempat gantungan disamping pintu apartemen. Besok akan kukembalikan. Sekarang sudah malam, dan aku ingin cepat-cepat tidur.
-Flashback End-
Aku terkikik geli mengingat kejadian semalam. So cute.
“Myungsoo!” aku menoleh ke arah seseorang yang memanggilku.
“Hey, hyung!” aku balas berseru sambil melambaikan tanganku.
Nam Woohyun. Anak tunggal dari keluarga ternama di Korea. Ayahnya adalah rekan bisnis ayahku. Yang kutahu, ia sekarang tinggal di Paris.
Woohyun hyung memelukku. Aku balas memeluknya. Dia sudah seperti saudara bagiku.
“Hyung kenapa ada disini? Bukannya hyung di Paris?” aku bertanya padanya ketika ia melepaskan pelukannya.
Woohyun hyung tersenyum, “Tentu saja mengunjungimu,” ia mengacak-acak rambutku.
“Jinja?” Woohyun hyung menganggukkan kepalanya.
“Asyik,” aku bergumam sendiri sambil merogoh saku celanaku.
Kuberikan kunci apartemenku pada Woohyun hyung.
“Kalau hyung perlu istirahat, masuk saja ke apartemenku. Aku harus ke kampus, hyung,” aku merogoh saku celanaku lagi dan mengeluarkan kunci mobilku.
“Arasseo. Aku ke apartemenmu,” Woohyun hyung menepuk pundakku dan berjalan masuk ke lift.
Aku langsung berlari meninggalkan gedung menuju basement. Tiba-tiba aku mendengar namaku dipanggil. Aku membalikkan tubuh dan melihat tetanggaku Sooyeon berlari-lari menghampiriku.
“Myung! Hah..hah..hah..” Sooyeon berhenti dihadapanku. Napasnya terengah-engah. Ia membenahi tas dan rambutnya yang berantakan.
“Aku ikut denganmu. Kau mau ke kampus bukan?” tanya Sooyeon. Suaranya sedikit bergetar.
Aku memiringkan kepalaku, bingung.
“Bukankah kau sudah mendapatkan kunci mobilmu?”
“Aku malas menyetir.”
“Arasseo, masuklah.”
Aku masuk ke pintu kemudi dan Sooyeon membuka pintu disamping kemudi, lalu duduk disampingku. Mesin mobil kunyalakan dan mobil langsung meluncur keluar dari basement.
—–
Sooyeon POV
Aduh, Myungsoo oppa pasti sudah berangkat ke kampus. Aku ada kuliah pagi ini dan aku harus sampai disana dalam waktu 10 menit. Dosenku ini tidak suka melihat muridnya datang terlambat.
Ting.
Akhirnya, pintu lift terbuka. Aku cepat-cepat keluar dari lift dan menyusul Myungsoo. Aku tidak ingin menyetir mobil dalam keadaan terburu-buru, makanya aku memutuskan untuk berangkat bersama Myungsoo. Tapi aku tidak memberitahunya.
Brakk.
Aish, siapa yang menabrakku?! Ah, aniya. Kurasa aku yang menabrak.
“Sorry, I’m in hurry,” aku berdiri dan membungkuk sedikit. Kulihat siapa orang yang kutabrak.
Oh, astaga! Dia seorang namja. Dan sepertinya dia juga orang Korea.
Namja tampan itu balas membungkuk dan tersenyum. Astaga, dia tampan > “It’s okay, you can go now,” namja itu berbalik dan berjalan menuju lift. Ia masih tersenyum saat menatapku untuk yang terakhir sebelum pintu lift menutup.
Aku tersadar dan langsung berlari menuju basement. Kulihat Myungsoo oppa berjalan menuju mobil silvernya terparkir.
“Myung!” aku berteriak memanggil namanya sambil berlari. Untunglah, Myungsoo oppa mendengarku dan berbalik.
Aku berhenti tepat dihadapannya, membungkuk mengatur nafas.
“Aku ikut denganmu. Kau mau ke kampus, bukan?”
Myungsoo oppa terlihat bingung. Tapi akhirnya ia mengijinkan. Aku langsung membuka pintu disamping kemudi dan duduk. Tak lupa aku memakai seatbelt.
“Lima menit lagi kita terlambat. Kencangkan sabuk pengamanmu, aku akan ngebut kali ini,” Myungsoo oppa memasang seatbeltnya dan langsung mengemudikan mobil keluar basement.
Mobil silver keluaran terbaru ini melaju kencang di jalanan kota New York yang lumayan padat. Aku memejamkan mata, sedikit takut karena ini pertama kalinya Myungsoo oppa ngebut.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Aku membuka sedikit mataku dan menoleh ke samping. Myungsoo oppa tampak menahan tawa melihatku.
“Waeyo?”
“Kita sudah sampai. Cepatlah turun, aku yakin sekarang Mr. Smith sedang mengoceh di kelasmu,”
Ah, benar juga.
Aku keluar dari mobil Myungsoo dan langsung berlari menuju kelasku.
“Gomawo, oppa!” aku berbalik dan melambaikan tangan.
Sekarang, yang harus kulakukan adalah cepat-cepat masuk kelas sebelum Mr. Smith datang. Masih ada waktu 1 menit.
—–
Author POV
Seoul, Korea Selatan
Jung Jinyoung membuka pintu kamarnya, dan dengan malas berjalan turun ke ruang makan. Di ruang makan, sudah ada hyung dan appanya.
“Oy, Jinyoung-ah!” Jung Yonghwa melambai dan menyuruh Jinyoung untuk duduk.
“Tumben kau terlambat bangun. Biasanya kau yang bangun paling pagi,” Jung Yunho menuangkan air putih di gelasnya sambil komentar.
“Aku baru bisa tidur jam 4 pagi,” gumam Jinyoung.
“Wae, apa yang kau pikirkan?” tanya Yunho pada putranya itu.
“Aku rindu Sooyeon,” jawab Jinyoung.
Yonghwa tertawa melihat tingkah laku dongsaengnya itu.
“Astaga, kukira ada apa. Telepon saja Sooyeon,” kata Yunho seraya beranjak dari duduknya dan meraih jas yang tersampir di kursi.
“Hmmm…” gumam Jinyoung tak jelas.
“Kau tidak ada kuliah hari ini, Jinyoung-ah?” tanya Yunho.
“Tidak ada, appa.”
“Baiklah, appa ke kantor dulu. Jangan lupa kunci pintu kalau keluar rumah.” pesan Yunho.
“Ne, hati-hati di jalan, appa.” Yonghwa melambaikan tangannya kemudian kembali ke kegiatannya, menggoreng kentang.
“Hyung, kau ada kuliah hari ini?” Jinyoung mengangkat kepalanya dan bertanya pada hyungnya. Tiba-tiba ia punya ide.
“Tidak ada.” jawab Yonghwa.
“Hyung.”
“Wae?”
“Ayo kita ke New York.”
Prang!!
Piring berisi kentang goreng yang baru saja dimasak Yonghwa jatuh ke lantai. Yonghwa menatap kaget dongsaengnya.
“Mworago?”
“Ayo kita ke New York dan mengunjungi Sooyeon. Aku sudah rindu padanya hyung..” rengek Jinyoung.
“Bagaimana dengan kuliahmu? Bagaimana dengan pacar barumu itu? Bukankah dia sedang ujian? Masa kau mengajaknya ke New York, atau lebih parahnya kau meninggalkannya di Seoul. Namja macam ap-”
“Hyung!”
Yonghwa berhenti mengoceh dan menghampiri dongsaengnya. Tapi ditengah jalan ia terpeleset kentang goreng yang ia jatuhkan.
“Aaww! Mwoya?!” gerutu Yonghwa seraya berdiri membersihkan celananya dan menepuk-nepuk bokongnya yang mencium lantai.
Jinyoung tertawa terbahak-bahak melihat hyungnya. Ia sendiri bahkan nyaris terjatuh dari kursi.
“Hey, berhentilah tertawa dan bantu aku membereskan ini!” Yonghwa berkacak pinggang sambil menunjuk kekacauan yang dibuatnya.
“Ne, hyung. Hahaha..” Jinyoung bangkit dan langsung membantu Yonghwa membersihkan pecahan piring dan kentang goreng.
“Hyung, ayolah..” Jinyoung menatap hyungnya penuh harap.
“Aku ada kuliah besok pagi, Jinyoung-ah.” kata Yonghwa, matanya  fokus menatap lantai, memastikan tidak ada pecahan piring yang tertinggal.
“Ah, sudahlah lupakan.” Jinyoung berjalan lesu ke kamarnya.
“Ckckck..” Yonghwa menggeleng-gelengkan kepalanya geli.
—–
Jinyoung membuka pintu balkon kamar Sooyeon. Pemandangan dari tempat ini bagus sekali, pantas saja menjadi tempat favorit Sooyeon.
Ah, aku harus menelepon Sooyeon, kata Jinyoung dalam hati.
Jinyoung merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Setelah mengutak-atik sebentar, nada sambung terdengar. Jinyoung menempelkan ponselnya ke telinga.
“Oppa!” seru Sooyeon tanpa mengucapkan salam terlebih dulu.
Senyum Jinyoung semakin lebar ketika mendengar suara dongsaengnya.
“Sooyeon-ah, bagaimana kabarmu?” tanya Jinyoung.
“Aku baik, oppa sendiri bagaimana?”
“Oppa juga baik.”
“Oppa, bogoshipoyo~”
“Hahaha, nado dongsaeng-ah.” Jinyoung terkikik geli, ternyata dongsaengnya juga rindu padanya.
“Bagaimana kabar appa dan Yonghwa oppa?”
“Kau tahu sendiri, appa sibuk seperti biasa. Yonghwa hyung, dia baru saja terpeleset 15 menit yang lalu, hahaha.” Jinyong tertawa mengingat kejadian tadi.
“Ah… Yonghwa oppa memang seperti itu. Ceroboh seperti biasa.” celetuk Sooyeon.
Kedua kakak-beradik itu saling bertukar cerita. Kebetulan Sooyeon sedang free, dan Jinyoung juga.
“Jadi, apa kau punya banyak teman disana?” tanya Jinyoung.
“Hmm.. Oppa tau sendiri aku susah beradaptasi dengan lingkungan baru. Temanku disini cuma Krystal dan Jessica eonni. Oh ya, dan tetanggaku.”
Jinyoung merasakan sesuatu.
“Tetangga? Sejak kapan kau peduli dengan tetanggamu?”
Sooyeon tertawa diujung telepon.
“Hmmm.. Yah, dia sangat baik. Kebetulan dia juga kuliah di universitas yang sama sepertiku. Dia juga baru sebulan yang lalu tiba di New York, sama sepertiku.” jawab Sooyeon.
“Hey, dia laki-laki atau perempuan?” selidik Jinyoung. Dia merasa aneh dengan dongsaengnya.
Hening sesaat.
“Namja.” jawab Sooyeon lirih.
Kali ini, tawa Jinyoung benar-benar meledak. Dongsaengnya punya teman laki-laki selain dirinya dan Yonghwa.
“Siapa namanya?”
“Kim Myungsoo. Tapi aku sering memanggilnya Myung. Dia satu tahun lebih tua dariku. Dan, oh! Dia orang korea juga.” Sooyeon menjelaskan secara singkat tentang Myungsoo.
Aku hanya tanya namanya, batin Jinyoung.
“Apa dia tampan?”
Hening.
“Oppa tanya, apa dia tampan?”
“Hmmm… Iya.”
Jinyoung bersiul keras mendengar jawaban dongsaengnya.
“Dan kau menyukainya?”
“Aniya! Kami hanya berteman. Dia tampan, baik, pintar, dan idola di kampus. Kalau aku menyukainya, aku tidak mau bersaing dengan ratusan yeoja di kampus.”
“Hahaha… Sudahlah mengaku saja, sebenarnya kau menyukainya kan?” goda Jinyoung.
“Oppa!” teriak Sooyeon.
Jinyoung tertawa terbahak-bahak. Ia hampir saja terjatuh dari kursi yang ia duduki.
“Oppa sendiri bagaimana? Apa ada yeoja yang menarik hati oppa disana?” Sooyeon balik bertanya.
Tawa Jinyoung berhenti. Ia menghela napas. Sudah saatnya memberitahu Sooyeon, pikir Jinyoung.
“Sebenarnya, ada yang ingin oppa sampaikan padamu, Sooyeon-ah.”
“Ne, katakan saja, oppa.”
Jinyoung menghela nafas. Ia berdehem, lalu kembali tersenyum.
“Oppa.. Oppa punya yeojachingu.” kata Jinyoung.
“Mwo?! Oppa serius?”
“Ne, Sooyeon-ah. Kali ini oppa serius. Oppa mencintainya, sangat mencintainya.”
Sooyeon terkikik geli, mengingat oppanya adalah playboy yang sering jatuh cinta.
“Kapan oppa jadian? Setahuku, ketika aku berangkat ke NY, oppa masih jomblo.”
“Seminggu yang lalu. Aku bertemu dengannya di bandara tepat setelah pesawatmu take off. Dia juga sedang mengantar dongsaengnya ke New York.”
Sooyeon ber-oh ria.
“Apa dia cantik? Kapan oppa memperkenalkanku dengannya?” tanya Sooyeon. Sepertinya Sooyeon sangat excited dengan kehadiran yeojachingu oppanya.
“Hahaha, tentu saja dia cantik. Dia satu tahun lebih muda dariku. Kau pulanglah ke Seoul kalau ingin bertemu dengannya.” jawab Jinyoung.
“Aku kan baru se- ah, sebentar oppa.” terdengar suara berisik disana, “Myung~ bisa kau matikan kompornya?” teriak Sooyeon.
Jinyoung mengerutkan dahinya bingung.
“Ne, chankaman!” seru seorang namja terdengar sampai ke telinga Jinyoung.
“Ya! Sooyeon-ah! Tetanggamu itu sekarang ada di apartemenmu?”
“Ne, oppa. Kami sering makan bersama karena dia tidak bisa masak. Sebentar oppa, aku harus memberinya sedikit pelajaran.”
Terdengar teriakan namja, dan ocehan Sooyeon.
“Sudah kubilang jangan sentuh pancinya!” Jinyoung tertawa mendengar ocehan Sooyeon.
“Aku tidak sengaja menyentuhnya!” elak Myungsoo. Jinyoung tertawa semakin keras.
“Oy, Sooyeon-ah!” Jinyoung memanggil dongsaengnya. Tidak ada jawaban.
“Sooyeon-ah!!” teriak Jinyoung.
“Eoh? Wae oppa?”
“Berikan ponselmu pada Myungsoo. Aku ingin bicara dengannya.” pinta Jinyoung.
“Ne.”
“Myung, oppaku ingin bicara denganmu.”
“Mwo? Nugu?”
“Jinyoung oppa, dia ingin bicara denganmu. Gwenchana..”
Kudengar suara Sooyeon semakin lirih. Ah, mungkin ponselnya sudah berpindah tangan.
“Yoboseyo..” sapa Myungsoo. Suaranya terdengar lembut dan sopan.
“Kau Myungsoo bukan?”
“Ne, hyung. Kim Myungsoo imnida.” Myungsoo memperkenalkan diri.
“Ah, ne. Aku Jung Jinyoung.” suara Jinyoung terdengar serius.
“Aku ingin bicara denganmu, Myungsoo-ssi.” pinta Jinyoung.
Myungsoo menoleh kearah Sooyeon yang sedang sibuk menata makanan di meja makan. Kakinya melangkah menuju balkon.
“Ne, hyung.”
Terdengar Jinyoung menghela nafas.
“Sepertinya kau dekat dengan dongsaengku.” kata Jinyoung.
Myungsoo mengangguk, meski ia tahu Jinyoung tak bisa melihatnya.
“Ne, benar hyung. Kami bertetangga sekaligus teman sekampus.” kata Myungsoo.
“Aku mohon, jaga dia baik-baik.”
Myungsoo terdiam mendengar permintaan Jinyoung.
“Ne, hyung. Aku akan menjaganya.” ucap Myungsoo mantap.
“Jika cuaca dingin, jangan biarkan Sooyeon kedingingan. Ia punya alergi terhadap udara dingin. Tubuhnya akan melemah dan ia mudah kram, dan wajahnya akan pucat kalau ia kedinginan.”
Myungsoo mendengarkan perkataan Jinyoung dengan seksama.
“Hyung tenang saja, aku akan menjaganya.” Myungsoo berusaha meyakinkan Jinyoung.
“Hmmm. Baiklah, aku percaya padamu, Myungsoo-ssi.”
Setelah mengucapkan salam, Jinyoung memutuskan sambungan. Myungsoo kembali ke meja makan dan duduk di kursi dihadapan Sooyeon.
“Apa yang kalian bicarakan? Lama sekali.” keluh Sooyeon.
“Mianhae. Ayo kita makan.” Myungsoo mengambil sendok dan mulai makan.
—–
Sooyeon POV
Selesai makan, aku dan Myungsoo menonton TV di tuang tengah apartemenku. Kenyataan bahwa Jinyoung oppa sekarang sudah punya Yeojachingu, sangat menggangguku. Bagaimana kalau Jinyoung oppa lebih sayang yeojachingunya daripada aku?
Benar-benar mengganggu pikiranku.
“Wae geurae, Sooyeon-ah?” tanya Myungsoo yang sedari tadi melihatku gelisah di sofa.
“Mmm..” aku ingin sekali menceritakan ini padanya. Setidaknya mengurangi beban pikiranku.
“Katakan saja, apa masalahnya?”
Aku menceritakan semuanya pada Myungsoo. Tentang Jinyoung oppa yang punya yeojachingu, sampai ketakutanku kalau Jinyoung oppa tidak lagi menyayangiku.
Kau tahu apa reaksinya? Tertawa.
Astaga, anak itu kenapa senang sekali menertawakanku? Memangnya ada yang salah denganku?
“Sooyeon-ah, kau itu kekanakan sekali. Hahahaha..” Myungsoo semakin gila tertawa.
Aku hanya mengerucutkan bibirku kesal.
“Ya! Myungsoo oppa!” aku mencubit lengannya yang terekspos kaos lengan panjangnya.
“Mianhae..”
Aku menatap kesal Myungsoo oppa. Minta maafnya tidak serius.
“Kau tenang saja. Masih ada orangtuamu, dan aku yang menyayangimu.” Myungsoo oppa berkata, seraya bangkit menuju dapur.
Astaga. Kata-katanya. Dia bilang, dia menyayangiku. Menyayangiku dalam makna bagaimana?
“Siapa nama yeojachingu Jinyoung hyung?” tanya Myungsoo.
Aku baru ingat. Aku lupa menanyakan namanya.
“Mollayo, oppa. Aku lupa bertanya.”
“Gwenchana. Dia pasti bisa menjadi yeoja yang baik untuk Jinyoung hyung. Kau ingin yang terbaik untuknya kan?”
Aku mengangguk. Myungsoo oppa mengacak-acak rambutku.
“Aku pulang dulu. Jaljayo, Sooyeon-ah.” Myungsoo oppa melangkah keluar apartemenku sambil melambaikan tangan.
Aku balas melambai. Kumatikan tv dan langsung menuju kamarku. Aku akan menanyakan pada oppa siapa nama yeoja itu.
5 menit kemudian, ponselku bergetar. Pesan balasan dari Jinyoung oppa.
“Kim Se Ra.”
Aku membaca nama yeoja yang tertera di layar ponselku. Tanpa sadar aku tersenyum. Tapi rasanya ada yang aneh. Firasatku mengatakan hal-hal yang buruk.
“Kim Se Ra… Nama yang bagus.”
—————————–
~TBC~
Bagaimana, readers sudah menemukan sesuatu di part ini? Kkk, itu tandanya kita akan menuju konflik.
Mianhae kalau kurang panjang.
Komentarnya chingudeul, kamsahamnida ^^
 ©Safira Alhana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please leave your comment here! Thanks :)
-Safira Alhana-