Jumlah Pengunjung

Note ^^

Halloo..^^ selamat datang di blog saya! Welcome to my blog! Silakan dilihat-lihat, dibaca-baca tapi jangan di copas! Di blog ini juga saya post fanfic-fanfic. Jangan lupa tinggalkan komentar setelah membaca artikel di blog saya! Kunjungi juga WP saya di safiraalhana.wordpress.com

Senin, 05 November 2012

{Fanfic} Still in Love Part 3


Author : Safira Alhana a.k.a Park Chan Ra / Cia Park @hanna_ryeong9
Cast :
- Kim Myung Soo (L Infinite)
- Jung Soo Yeon (OC)
- Jung Jin Young (Jinyoung B1A4)
- Kim Se Ra (OC)
- Jung Yunho (Yunho TVXQ)
- Jung Yonghwa (CN BLUE)
- Other cast..
Genre : Drama, sad, romance
Rating : T
Length : Chapter
Disclaimer : Fanfic ini 100% original karya Safira Alhana Zubairy. Plot, ide cerita, semuanya 100% hasil ekskresi (?) otak pentium saya.
Rekomendasi Lagu :
Jung Yonghwa - 그리워서... (OST. Heartstrings)
Huh Gak - Hello
As One - White Love Story (OST. Coffee Prince)
INFINITE - Only Tears
CN Blue - Still in Love
Dan lagu-lagu galau lainnya...
DON'T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT!! UPDATE EVERYWEEK!

-----------------------------
Sooyeon POV
Beberapa bulan kemudian..
Kutarik selimut menutupi seluruh tubuhku. Pagi ini pagi yang paling dingin. Aku sampai tidak bisa tidur tadi malam karena kedinginan. Aku hanya sempat tidur satu jam. Tidur jam 2 bangun jam 3 pagi. Setelah itu kegiatanku hanya melamun.
Bbbrrr... Dingin sekali. Diluar sedang turun salju. Ah ya, aku ada kuliah tidak ya hari ini?
Perlahan aku duduk dan berdiri dari ranjang. Selimut tebal masih menyelimuti tubuhku. Padahal aku sudah memakai kaos, sweeter, syal, sampai sarung tangan yang dibelikan Myungsoo oppa kemarin malam. Berlebihan memang, tapi inilah cara supaya aku tidak sakit.
Kulirik kalender mejaku. Hmm.. Untunglah aku hari ini tidak ada kuliah sampai besok. Jadi aku bisa tidur hari ini. Lebih nyaman berada dibawah selimut dan empuknya ranjang ketika musim dingin seperti ini. Oh iya, berbaring di sofa dekat perapian sepertinya nyaman juga.
Kuputuskan untuk berbaring di sofa dekat perapian. Kubawa serta iPad dan ponselku. Aku ingin bermain Angry Bird sebentar, setelah itu menelepon appa atau Jinyoung oppa, atau Yonghwa oppa.
Aaahhh.. Disini lebih hangat. Ternyata api yang dinyalakan Myungsoo semalam masih menyala. Syukurlah, aku jadi tidak perlu panik karena kedinginan.
Ting tong..
"Eh, nugu?" aku bangkit dan berjalan menuju pintu. Kulirik interkom. Ah, Myungsoo.
"Masuklah, Myung oppa." aku membuka pintu apartemenku dan mempersilahkannya masuk.
Myungsoo oppa tersenyum dan melepaskan sandalnya, lalu berjalan ke dapur. Aku sudah tau apa yang ada di pikirannya. Dia setiap hari memang makan di apartemenku. Katanya, lidahnya sudah terbiasa dengan masakanku, jadi ia malas kalau makan diluar. Malas karena harus beradaptasi lagi.
Aku menutup pintu dan kembali berbaring di sofa. Aku baru saja menyalakan iPad ketika Myungsoo oppa membunyikan bel.
"Sooyeon-ah! Tidak ada sarapan pagi ini?" tanya Myungsoo oppa dari arah dapur.
"Tidak ada, oppa. Aku malas belanja." aku menjawab agak malas dari ruang tengah.
Kudengar langkah kaki Myungsoo oppa mendekat.
"Baiklah, aku pergi belanja dulu. Kau mau masak apa?"
Aku beralih duduk di sofa, menatap Myungsoo oppa.
"Hmm.. Bagaimana kalau pasta?" tawarku.
"Great! Aku sudah lama tidak makan pasta." Myungsoo oppa mengacungkan jempolnya.
Aku tersenyum dan kembali berbaring di sofa.
"Lalu, kau mau titip sesuatu? Snack misalnya?" tanya Myungsoo oppa sebelum benar-benar pergi belanja.
Aku berpikir sebentar.
"Ddukbogi!" aku berseru. Myungsoo oppa tertawa.
"Mana ada ddukbogi di New York?" gurau Myungsoo oppa.
Aku ikut tertawa, menyadari betapa pabonya diriku.
"Oh ya, oppa. Tolong belikan teh. Persediaan tehku menipis." kataku.
"Ne, kau jangan keluar rumah ya. Salju turun deras hari ini."
"Ne, oppa!"
Myungsoo oppa memakai sepatu botnya yang tersedia di rak. Setelah itu ia keluar dari apartemen untuk berbelanja.
Semakin lama hubungan kami berdua semakin akrab. Dia sudah seperti oppaku sendiri. Apartemenku serasa rumah kedua baginya. Aku juga merasa apartemen Myungsoo oppa rumah keduaku. Aku menyimpan beberapa barang-barangku seperti baju, sandal, sampai peralatan mandi di apartemen Myungsoo oppa. Karena aku sering main ke apartemen Myungsoo oppa, jadi kutinggalkan saja beberapa barangku disana.
Myungsoo oppa juga begitu. Ia meninggalkan baju, perlatan mandi, sandal, sepatu dan beberapa koleksi DVDnya di apartemenku. Bahkan Myungsoo oppa juga menaruh piring dan mug favoritnya di rak piringku.
Kami sudah terbiasa dengan keadaan itu. Ini pertama kalinya aku punya teman dekat namja. Awalnya agak risih memang, tapi karena setiap hari selalu berinteraksi dengannya, aku jadi terbiasa.
Ehm. Sekarang aku ingin menyelesaikan game Angry Birds-ku, sambil menunggu Myungsoo oppa pulang.
-----
Myungsoo POV
Astaga, dingin sekali. Langit New York pagi ini tidak secerah biasanya alias mendung. Kugosok-gosokkan tanganku yang terbungkus sarung tangan supaya lebih hangat.
Kurogoh saku mantelku, mencari kunci mobil. Nah, ketemu!
Kubuka pintu belakang mobilku, lalu kuletakkan kantong belanjaku disana. Setelah itu aku masuk ke pintu kemudi dan pergi dari area minimarket.
Salju turun dengan lebat ketika aku masuk ke basement dan keluar dari mobil. Aish, jinja... Dingin sekali. Apa Sooyeon di rumah baik-baik saja?
Ceklek.
"Aku pulang."
Kubuka pintu apartemen Sooyeon dan masuk kedalam. Kulepas sepatu botku dan berganti sandal rumah yang nyaman. Kulihat Sooyeon tidak ada di sofa. Dimana dia?
Kuletakkan kantong belanja diatas meja makan, lalu berjalan menuju kamar Sooyeon. Kuketuk pintunya pelan. Terdengar langkah kaki mendekat.
"Oh, oppa." Sooyeon membuka pintu kamarnya, lalu keluar kamar menuju dapur.
Sepertinya ia sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Ponsel merahnya sedari tadi menempel terus di telinganya.
"Ne, appa. Arasseo." kudengar suara Sooyeon dari arah dapur.
Aku berjalan menuju dapur, berniat membantunya memasak sementara ia sibuk mengobrol dengan appanya, kurasa.
"Oh?" kulihat Sooyeon menatapku.
"Ne, appa. Myungsoo oppa ada disini." ia masih menatapku.
Aku mendekat ke arah Sooyeon dan mencondongkan tubuhku ke arah ponsel.
"Annyeonghaseyo, ahjussi." aku menyapa Jung ahjussi di telepon. Baru kusadari wajahku dekat dengan Sooyeon.
Cepat-cepat aku mundur dan duduk di kursi makan. Kualihkan pandanganku kearah kantong belanja dan kukeluarkan semua isinya. Ah, aku merasa canggung.
Kim Myungsoo, apa yang kau lakukan -_-
"Myung oppa, appa ingin bicara denganmu." kata Sooyeon tanpa menatapku. Ia meletakkan ponselnya di dekatku setelah sebelumnya me-loud speaker.
"Myungsoo-ya.."
"Ne, ahjussi." aku berusaha seceria mungkin membalas sapaannya.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik, ahjussi sendiri apa kabar?"
"Baik, hanya saja kepalaku sering pusing akhir-akhir ini."
Aku terdiam mendengar kata-kata Jung ahjussi. Ahjussi pasti sibuk sekali di kantor, sampai-sampai kesehatannya menurun.
"Ahjussi harus banyak istirahat. Ada Jinyoung hyung yang membantu di kantor."
"Hah.. Apa yang bisa dilakukan anak itu di kantor." keluhan Jung ahjussi membuatku tertawa.
Setelah mengobrol kurang lebih sepuluh menit, Jung ahjussi memutuskan sambungan. Aku mengembalikan ponsel merah itu ke pemiliknya.
Sooyeon masih sibuk memasak. Yang bisa kulakukan hanya duduk di kursi makan menunggu makanan. Aku menyukai kegiatanku ini. Duduk sambil mengamati gadis itu memasak.
Gadis itu, Jung Sooyeon. Semakin lama aku semakin menyukainya. Dia cantik, baik, cute, dan yang penting bisa memasak. Benar-benar tipeku.
-----
Sooyeon POV
Aish, aku sangat malu dengan kejadian tadi. Wajahku hanya berjarak beberapa senti dari wajah tampannya itu. Astaga, pipiku pasti memerah sekarang ini.
Sementara Myungsoo oppa mengobrol dengan appa, lebih baik aku memasak saja. Menyibukkan diri supaya aku tidak teringat lagi kejadian tadi.
Setelah semuanya beres, aku menaruh dua piring pasta di meja makan. Tak lupa secangkir cappucino latte dan secangkir teh.
"Hmm.. Mashitta." Myungsoo oppa mengambil garpu dan mulai makan pastanya.
Aku menyesap teh hangatku pelan. Kulirik jendela di samping kananku. Salju masih turun dan kali ini sepertinya lebih deras. Hah... Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau mati bosan di apartemen..
"Waeyo Sooyeon-ah?" Myungsoo oppa berhenti makan dan meletakkan kembali garpunya.
Aku menggeleng pelan dan tersenyum.
"Aniya, oppa. Gwenchana." aku kembali menatap jendela, atau lebih tepatnya menatap salju-salju yang turun lewat jendela.
"Huah.. Salju turun semakin deras." gumamku pelan, tapi kurasa Myungsoo oppa mendengarnya. Karena ia terus mengamati gerak-gerikku.
Aku bangkit dari dudukku menuju sofa ruang tengah. Kuambil penghangat telinga dan memakainya. Setelah itu aku kembali duduk di kursi makan dan menikmati pasta hangatku.
Selesai sarapan aku kembali ke ruang tengah dan berbaring di sofa. Kulanjutkan kegiatanku tadi yang tertunda. Bermain Angry Birds.
Kulihat Myungsoo oppa duduk di sofa sebelahku sambil menonton TV.
Beberapa menit kemudian ponsel Myungsoo oppa berbunyi. Myungsoo oppa berdiri dan berjalan menuju ruang makan. Sepertinya pembicaraan itu sangat penting, Myungsoo oppa sampai mencari tempat sepi untuk mengobrol. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Ah lupakan, Jung Sooyeon! Itu bukan urusanmu.
-----
Myungsoo POV
"Se Ra?" aku bangkit dan langsung berjalan menjauhi Sooyeon. Sebelum menelepon, Se Ra mengirim pesan kepadaku, dia ingin mengobrol secara private.
"Myungsoo-ya. Aku punya kabar bagus untukmu!" seru Se Ra riang.
"Mwo?"
"Kau tahu namjachinguku, kan?"
"Nugu? Kau belum memberitahuku namanya."
Se Ra menghela nafas kesal.
"Jinja? Aku sudah pernah mengatakannya padamu saat aku meneleponmu beberapa bulan yang lalu."
"Yah, mungkin aku lupa. Jadi, ada apa dengan namjachingumu?" aku tak sabar mendengarkan ia bercerita.
"Namjachinguku, namanya Jung Jinyoung. Hey, jangan sampai lupa namanya!"
"Ne, arasseo." aku menunduk menatap lantai dapur.
Ya, aku baru ingat nama namja itu Jung Jinyoung.
Wait wait! Jung Jinyoung?! Bukankah Sooyeon juga punya oppa bernama Jung Jinyoung. Mungkinkah Jung Jinyoung yang Se Ra maksud adalah oppa Sooyeon? Aish, pabo Myungsoo! Banyak juga orang yang bernama Jung Jinyoung. Kemungkinannya kecil jika orang itu adalah oppanya Sooyeon. Ya, benar.
"So?" aku mengambil mug favoritku dari rak, dan mengisinya dengan air putih.
"Kami akan menikah bulan depan nanti. Atau bisa kubilang, tepat pada tahun baru." ucapan Se Ra membuatku membeku. Mug yang kupegang jatuh ke lantai. Aku tidak percaya, Se Ra akan menikah secepat itu.
"Oppa? Suara apa itu?" kudengar teriakan Sooyeon di ruang tengah. Astaga...
"Hey! Kau sedang bersama yeoja?" tanya Se Ra diujung sana.
Aish, bagaimana ini. Se Ra tidak tahu apa-apa tentang Sooyeon.
"Ne, dia temanku. Kami sedang belajar bersama." jawabku sedikit gugup.
Aku membungkuk membersihkan pecahan mug. Se Ra masih mengoceh dengan riangnya. Tentang pernikahannya, gaun pengantin rancangan desainer ternama, sampai cerita tentang calon suaminya, Jung Jinyoung.
Awalnya aku tidak memperhatikan ocehan Se Ra karena aku sibuk membereskan pecahan mug yang bertebaran dir lantai. Sampai Se Ra menyebut nama Jung Jinyoung. Badanku refleks tegak dan aku duduk di kursi makan. Membiarkan beberapa pecahan yang masih tersisa tersebar di atas lantai.
"Aku baru tahu Jinyoung oppa ternyata punya yeodongsaeng yang sekarang kuliah di New York. Sama sepertimu. Kudengar ia satu kampus denganmu. Sampai saat ini aku masih bertanya-tanya, apa kau mengenalnya? Wah, jika kau sudah mengenalnya, itu pertanda bagus. Hubungan keluarga kita dan keluarga Jung akan semakin akrab nanti. Hehehe.."
Aku terdiam mencerna apa yang dikatan Se Ra tadi. Aku mulai menyadari sesuatu. Tentang kemungkinan Jung Jinyoung yang dimaksud Se Ra adalah Jung Jinyoung yang kukenal sebagai oppa Sooyeon.
Pertama, calon suami Se Ra bernama Jung Jinyoung. Kedua, Jinyoung yang Se Ra maksud punya adik perempuan yang tinggal di New York dan kuliah di universitas yang sama sepertiku.
Kedua fakta itu sudah cukup bagiku. Kesimpulannya adalah, Jung Jinyoung yang Se Ra maksud memang Jung Jinyoung yang kukenal.
Aku terkejut karena pemikiranku barusan. Kenapa Se Ra menikah dengan orang itu? Kakak laki-laki Sooyeon akan menjadi kakak iparku! Oppa Sooyeon! Gadis yang paling kucintai!
"Noona. Bisakah kau...tidak menikah dengan orang itu?" tanyaku lirih. Lebih mirip permohonan, kurasa.
"Waeyo? Kami saling mencintai, Myungsoo-ya." Se Ra berkata pelan.
Aku menghela nafas panjang.
"Katakan padaku alasannya kenapa kau tidak setuju dengan pernikahanku dengannya!" seru Se Ra diujung sana. Sepertinya dia marah.
Kau benar, Se Ra. Aku tidak setuju kau menikah dengannya!
"Aku tidak bisa memberitahukan alasanku, Se Ra."
"WAE? KENAPA TIDAK BISA?" Se Ra berteriak.
Aku mati-matian menahan airmataku keluar. Mianhae, Se Ra.
"KIM MYUNGSOO! PULANG KE SEOUL SECEPATNYA! AKU INGIN BICARA DENGANMU!"
Tut.
Se Ra memutus sambungan setelah berteriak marah padaku. Aku menatap layar ponselku tanpa ekspresi. Haa.. Ottokhaji?
Se Ra, tidak bisakah kau mencari pria lain? Siapa saja asalkan bukan keluarga Jung? Jebal....
Kalian benar-benar penghalang cintaku pada Sooyeon.
-----
Sooyeon POV
Kubuka mataku perlahan. Hey, aku dimana ini?
Aahh.. Sepertinya aku ketiduran di sofa ruang tengah. Aku bangun lalu duduk di sofa sambil melihat kearah balkon. Salju sudah berhenti turun. Dan balkonku kini dipenuhi tumpukan salju. Astaga, ini mengerikan mengingat balkon adalah tempat favoritku. Mungkin aku bisa minta bantuan Myungsoo oppa untuk membersihkan balkon.
Ngomong-ngomong tentang Myungsoo oppa, dimana dia sekarang?
Kulirik jam dinding. Jam 1 PM. Aku bangkit dan berjalan menuju pintu depan. Sandal Myungsoo oppa masih ada di sini. Mantelnya yang digantung dekat pintu juga masih ada disana. Well, berarti Myungsoo oppa masih disini.
"Oppa.." aku memanggil Myungsoo oppa.
Kulangkahkan kakiku menuju dapur. Ah, itu dia Myung oppa!
Tunggu! Ada apa dengan Myungsoo oppa? Tangannya memegang ponsel dan tidak bergerak. Kepalanya menunduk. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.
Aku mengguncang pelan bahu Myungsoo oppa.
"Oppa... Wae geurae?"
Myungsoo oppa mendongak menatapku. Astaga, wajahnya terlihat lelah dan matanya merah.
"Sooyeon-ah.." gumam Myungsoo oppa lirih.
Myungsoo oppa tersenyum kecil. Dia meraih kedua tanganku lalu berdiri. Tiba-tiba Myungsoo oppa menarik tanganku, lalu memelukku. What the..?!
"Oppa..." aku shock dengan tindakannya.
Myungsoo oppa memelukku lebih erat. Kepalanya ia sandarkan di bahuku. Aku tidak tahu apa yang terjadi hingga membuatnya seperti ini.
"Biarkan...biarkan seperti ini...jebal..." ucapnya lirih.
Aku merasakan pundakku basah. Ada apa ini? Myungsoo oppa menangis?
"Oppa.." aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Kubalas pelukan Myungsoo oppa. Kuusap pelan punggungnya mencoba menenangkan. Jujur, hatiku sakit melihat Myungsoo oppa menangis. Dia tidak pernah seperti ini. Kim Myungsoo yang kukenal selalu ceria dan wajahnya tidak pernah sedih. Kalaupun ada masalah, tidak sampai menangis seperti ini. Pantang baginya untuk menangis.
Aku merasa masalah kali ini benar-benar serius.
"Oppa bisa cerita padaku... Apa yang terjadi?" aku bertanya pelan padanya.
Myungsoo oppa diam. Perlahan dia melepaskan pelukannya, lalu menatapku dengan mata merahnya itu. Tapi kini senyum menghiasi wajah tampannya.
"Ahni, nan gwenchana. Setelah memelukmu aku merasa segar kembali." jawab Myungsoo oppa. Senyumnya semakin lebar ketika menyadari aku mengalihkan pandanganku karena malu.
"Sooyeon-ah.."
"Ne, oppa." aku kembali menatapnya.
"Saranghae.."
Deg.
Apa yang ia katakan? Saranghae?!
Aku harus menjawab apa? Sebenarnya, aku juga menyukainya. Aku mencintainya. Tapi... Apakah perasaanku padanya benar-benar perasaan cinta?
"Oppa-"
"Aku tahu ini mendadak sekali. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku padamu. Aku, Kim Myungsoo, mencintaimu, Jung Sooyeon, sejak pertama kali melihatmu." Myungsoo oppa memotong ucapanku.
"Oppa, nado saranghae." aku membalas pengakuannya.
Senyum di wajah Myungsoo oppa perlahan lenyap. Kini yang terlihat adalah wajah cemas Myungsoo oppa.
Tapi sedetik kemudian senyumnya kembali muncul.
"Aku, Jung Sooyeon, mencintaimu, Kim Myungsoo, sejak pertama kali melihatmu."
Ya, benar. Aku mencintainya. Pada pandangan pertama.
"Sooyeon-ah..." Myungsoo oppa kembali memelukku. Tanpa ragu aku membalas pelukannya.
"Jeongmal saranghae..."
"Nado saranghae, oppa.."
-----
New York, 6:12 P.M
Myungsoo POV
Lega rasanya. Aku telah mengungkapkan isi hatiku pada Sooyeon, yeoja yang paling kucintai.
Malam ini aku ada acara dengan Sooyeon. Kencan kami yang pertama.
Aku berdiri menatap bayanganku di cermin. Good. Kim Myungsoo, kau sangat tampan.
Aku terkekeh geli. Kubenahi syal yang melilit leherku. Setelah itu aku keluar kamar dan menuju pintu apartemenku. Kubuka pintu rak sepatu. Hmmm... Sepatu yang mana ya?
Kuraih sepatu boot coklat dari rak lalu memakainya. Kurogoh saku mantelku. Ponsel, dompet, sapu tangan dan kunci mobil. Lengkap sudah.
Ceklek.
Aku keluar apartemen dengan perasaan gembira. Kuketuk pintu apartemen Sooyeon.
"Kajja, oppa." Sooyeon membuka pintu apartemennya, lalu keluar menemuiku.
Aku mengamati wajahnya yang tampak berbeda. Ah benar, wajahnya terlihat pucat dan lelah. Apa dia sakit?
"Kau sakit?" tanyaku.
Sooyeon mendongak menatapku, ia tampak terkejut.
"Ah.. Ahni. Ahni, aku baik-baik saja, oppa. Kajja."
Sooyeon melingkarkan lengannya denganku. Aku mengacak-acak rambutnya gemas. Kubenahi tudung jaketnya supaya menutupi kepala Sooyeon. Aku tahu ia pasti kedinginan.
Kami berjalan menuju basement. Tiba-tiba Sooyeon menghentikan langkahnya. Aku ikut berhenti dan menatapnya bingung.
"Wae?"
"Jalan saja, oppa. Tidak usah naik mobil." katanya.
"Kau yakin?" tanyaku meyakinkan.
"Ne." ia mengangguk mantap.
Aku menyerah dan kami berbalik meninggalkan basement. Alasanku ingin naik mobil supaya ia tidak kedinginan hingga membuatnya sakit. Apalagi setelah aku menyadari wajahnya pucat sekali. Aku tidak tega mengajaknya kencan dengan keadaan seperti itu.
Kami berjalan menyusuri trotoar. Banyak juga orang-orang yang berjalan-jalan seperti kami. Anak-anak kecil berlarian sambil melempar bola-bola saju pada temannya.
"Oppa, bagaimana kalau kita minum kopi atau teh di cafe itu?" ujar Sooyeon seraya menunjuk sebuah cafe di depan kami.
"Ne, kajja."
Kami masuk kedalam cafe dan disambut oleh seorang laki-laki paruh baya dibelakang meja kasir. Sudah kebiasaan bagi kami untuk membungkuk sebagai ucapan salam. Orang itu tampak terkejut tapi kemudian tersenyum.
Sooyeon memilih kursi di pojok dekat jendela. Aku mengikutinya dan duduk di hadapannya. Seorang pelayan menghampiri kami.
"Satu cappucino latte dan satu green tea." kataku pada pelayan itu yang langsung mencatat pesanan kami.
Sambil menunggu pesanan, aku mengobrol dengan Sooyeon. Tentang mug kesayanganku yang pecah pagi tadi, sampai balkon apartemen Sooyeon yang tertutup tumpukan salju.
"Ini pesanan Anda." pelayan tadi meletakkan dua cangkir dihadapanku. Aku berterima kasih dan pelayan itu pergi meninggalkan kami.
"Minumlah selagi hangat." kataku sambil menyodorkan teh hijaunya.
"Ne, oppa." Sooyeon meminum tehnya pelan sambil mengamati orang-orang melalui jendela.
"Kau mau berbelanja untuk perayaan natal?"
Sooyeon tampak berpikir.
"Benar juga, natal seminggu lagi. Kau mau menemaniku belanja kan, oppa?"
Aku mengangguk menjawab pertanyaan Sooyeon. Dengan senang hati aku akan menemaninya.
"Anything for you, my love."
Kulihat Sooyeon menahan senyumnya. Aku terkekeh geli. Cute.
"Bisa kita pergi sekarang?" Sooyeon mulai salah tingkah.
"Kajja."
-----
"Waahh.. Kyeopta." ujar Sooyeon saat melihat boneka orang-orangan salju yang sedang tersenyum.
Aku terkekeh geli melihat tingkahnya. Ia sangat menikmati waktunya berada di toko mainan.
Sejenak aku melupakan masalahku. Mianhae, Sooyeon-ah.
Kurasa Sooyeon belum mengetahui apa yang sebenarnya. Hatiku sakit saat mengetahui bahwa aku dan Sooyeon akan menjadi saudara ipar. Sungguh, aku sangat mencintai Sooyeon.
"Oppa.." tangan Sooyeon melambai-lambai di depan wajahku.
Jung Sooyeon. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.
"Oppa, kau kenapa?" tanya Sooyeon.
"Gwenchana."
Aku memaksakan seulas senyum dihadapan Sooyeon.
"Kita pulang saja, oppa." ujarnya.
"Eoh? Wae?"
"Aku tidak enak badan. Lain kali saja belanjanya." kata Sooyeon sambil menggamit lenganku.
Kuamati lekat-lekat wajah Sooyeon. Astaga, benar. Wajahnya pucat sekali. Ia tampak lelah.
"Geurae, kajja." aku melingkarkan tanganku dibahunya.
Sepanjang perjalanan pulang Sooyeon hanya diam. Aku berhenti sebentar dan membenahi syal serta topi rajutannya. Kemudian kami melanjutkan perjalanan.
"Andaikan aku bawa mobil.." gumamku pelan.
Sooyeon memeluk pinggangku dan menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku mengelus-elus lengannya lembut.
Sampai di depan apartemennya, kurogoh saku mantelku dan mengeluarkan kunci cadangan apartemen Sooyeon.
Ceklek.
Kubuka pintu apartemennya dan bergegas masuk. Kulepaskan sepatuku, kemudian membantu Sooyeon melepas sepatu bootnya.
"Dingin sekali.."
Kutuntun Sooyeon ke kamarnya dan menyuruhnya untuk berbaring.
"Aku akan membuatkanmu minuman hangat. Istirahatlah sebentar dan ganti pakaianmu yang basah itu." aku keluar kamar setelah memastikan Sooyeon baik-baik saja.
Kulepas mantelku lalu kugantung di dekat pintu. Segera aku menuju dapur dan membuatkan Sooyeon minuman hangat. Setelah selesai, kubawa minuman itu kamarnya.
"Minumlah.." kusodorkan coklat panas padanya.
"Gomawo, oppa." ia menerima cangkir coklat panasnya dan meminumnya sedikit demi sedikit.
Setelah minumannya habis, kuletakkan cangkirnya diatas meja di samping tempat tidur. Kutarik selimut menutupi tubuh Sooyeon sampai leher.
"Istirahatlah, chagiya. I love you." kukecup pelan puncak kepalanya.
"Ne, oppa. Nado saranghae."
Aku keluar kamar setelah memastikan Sooyeon tidur dengan nyenyak. Kututup pelan pintu kamarnya. Semoga keadaannya cepat membaik.
Kulangkahkan kakiku keluar apartemen Sooyeon dan masuk ke apartemenku sendiri. Kunyalakan lampu apartemen.
"Apa dia baik-baik saja?" tanpa sadar aku bergumam sendiri.
Kulepas kaos kaki dan mantelku. Perlahan aku duduk di sofa ruang tengah. Banyak pertanyaan yang berseliweran di kepalaku.
Setelah satu jam berdiam di ruang tengah, kuputuskan untuk segera tidur. Aku harus bangun besok pagi-pagi sekali dan mengecek keadaan Sooyeon.
Jaljayo, Sooyeon-ah. Saranghae.
-----------------------------
~TBC~
Ehm ehm. Adegan lovey dovey L-Sooyeon bikin author senyum-senyum gaje. Hahahaha...
Udah mulai konflik nih. Tunggu chapter berikutnya. Mianhae kalo ada typo atau ceritanya kecepetan ato malah nggak nyambung. Biasa, author sarap.
Mian, part 2 kemarin telat post.
Untuk part 4 mungkin malam minggu di post.
Jangan lupa komentar! Gomawo! ©Safira Alhana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please leave your comment here! Thanks :)
-Safira Alhana-