Jumlah Pengunjung

Note ^^

Halloo..^^ selamat datang di blog saya! Welcome to my blog! Silakan dilihat-lihat, dibaca-baca tapi jangan di copas! Di blog ini juga saya post fanfic-fanfic. Jangan lupa tinggalkan komentar setelah membaca artikel di blog saya! Kunjungi juga WP saya di safiraalhana.wordpress.com

Senin, 19 November 2012

{Fanfic} Still in Love Part 4


Author : Safira Alhana a.k.a Park Chan Ra / Cia Park @hanna_ryeong9
Cast :
- Kim Myung Soo (L Infinite)
- Jung Soo Yeon (OC)
- Jung Jin Young (Jinyoung B1A4)
- Kim Se Ra (OC)
- Jung Yunho (Yunho TVXQ)
- Jung Yonghwa (CN BLUE)
- Other cast..
Genre : Drama, sad, romance
Rating : T
Length : Chapter
Disclaimer : Fanfic ini 100% original karya Safira Alhana Zubairy. Plot, ide cerita, semuanya 100% hasil ekskresi (?) otak pentium saya.
Rekomendasi Lagu :
Jung Yonghwa - 그리워서... (OST. Heartstrings)
Huh Gak - Hello
As One - White Love Story (OST. Coffee Prince)
INFINITE - Only Tears
CN Blue - Still in Love
Dan lagu-lagu galau lainnya...
DON'T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT!!
-----------------------------

Sooyeon POV
Kubuka mataku perlahan. Aku berada di kamarku. Ah iya, kemarin malam aku merasa tidak enak badan. Aku masih ingat saat Myungsoo oppa membuatkanku coklat panas.
Jam dinding menunjukkan pukul 6:10 AM. Aku masih merasa kedinginan. Padahal penghangat ruangan sudah dinyalakan.
Kucoba bangun dari ranjang.
"Ah!"
Sepertinya sia-sia. Kepalaku sakit sewaktu mencoba untuk duduk. Terpaksa aku berbaring lagi. Hah..bagaimana ini?
Ceklek.
"Chagiya, kau sudah bangun?"
Myungsoo oppa membuka pintu kamarku lalu masuk. Dia menghampiriku yang setengah terbaring di ranjang. Tangannya memegang keningku.
"Kau panas sekali. Lihatlah, wajahmu juga masih pucat. Apa yang kau rasakan?"
Aku mencoba berbaring seutuhnya di tempat tidur. Myungsoo oppa membantuku.
"Pusing, dingin, dan lemas.. Seakan-akan aku tidak punya tenaga untuk menggerakkan tubuhku." keluhku.
Myungsoo oppa mengelus rambutku lembut.
"Apa kau selalu seperti ini jika musim dingin tiba?"
Aku mengangguk.
"Aku punya obatnya di laci mejaku, bisa kau ambilkan?" pintaku.
"Ne, tunggu sebentar." Myungsoo oppa bangkit lalu mencari obatku di laci meja. Setelah itu ia keluar sebentar mengambil segelas air putih.
"Biar kubantu duduk menyandar." Myungsoo oppa menata bantal di sandaran bedku. Kemudian membantuku duduk.
"Minumlah."
Aku mengambil segelas air, meminumnya sedikit lalu menelan obat-obat pil yang berada di tanganku. Setelah itu aku kembali menyandarkan punggungku.
"Aku sudah mengatakan pada Krystal bahwa kau sakit. Jadi dia yang akan mengurus surat izin untukmu."
Aku mengangguk mengerti. Myungsoo oppa memijat kakiku yang terasa sakit. Mataku berat sekali rasanya.
Aku ingin tidur.
-----
Seoul @ Kediaman keluarga Jung
Author POV
"Kau sudah mengabarkan pernikahanmu kepada Sooyeon?" tanya Yunho saat makan malam.
Jinyoung menggeleng. Ia lupa memberitahu Sooyeon tentang pernikahannya.
"Nanti akan kukabari." kata Jinyoung.
"Kau yakin benar-benar mencintai Se Ra?" tanya Yonghwa.
Jinyoung mengangguk mantap.
"Tentu saja, hyung. Aku sangat mencintainya."
"Jangan lupa minta doa restu pada eomma-mu." kata Yunho.
"Ne."
Selesai makan keluarga Jung membubarkan diri dan kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Yunho kembali ke ruangan kerjanya, Yonghwa kembali ke ruang band, dan Jinyoung ke kamarnya.
-----
Myungsoo POV
Pagi ini keadaan Sooyeon masih sama seperti kemarin. Aku jadi tidak tega meninggalkannya sendiri di rumah. Sepertinya aku harus izin tidak masuk kuliah hari ini.
Aku merasa bersalah karena semalam aku mengajaknya jalan-jalan. Mianhae, Sooyeon-ah. Aku janji akan merawatmu sampai sembuh.
"Oppa..kau tidak kuliah hari ini?" tanya Sooyeon.
"Aku izin tidak masuk hari ini."
"Wae?"
"Kalau aku pergi, siapa yang akan menjagamu?"
Sooyeon terdiam.
"Gomawo, oppa.."
Aku tertegun mendengar suara lemah Sooyeon.
"Ne, chagiya.." kuusap pelan lengannya.
"Sekarang istirahatlah." kutarik selimut menutupi tubuhnya.
Kulihat Sooyeon mulai memejamkan matanya. Lima menit kemudian ia benar-benar tertidur. Perlahan aku berdiri dan keluar dari kamarnya.
-----
Aku sedang menonton tv di ruang tengah ketika seseorang mengetuk pintu apartemen Sooyeon. Kubuka pintu apartemen.
"Oh, Krystal. Masuklah. Biar kubantu." aku meraih dua kantong belanja yang dibawa Krystal dan meletakkannya di meja dekat pintu.
"Bagaimana keadaan Sooyeon eonnie?" tanyanya sambil melepas mantel bulu miliknya.
"Kurasa baik, sekarang dia sedang tidur." jawabku.
"Oh.." Krystal berjalan menuju kamar Sooyeon, kemudian membuka pintu dan masuk ke kamar Sooyeon.
Karena tak ingin mengganggu mereka, aku melanjutkan menonton TV.
-----
Krystal POV
Aku menutup pintu di belakangku. Mataku menatap seseorang yang terbaring lemah di ranjangnya. Wajahnya pucat sekali.
"Eonnie.." aku berjalan menghampirinya dan duduk di pinggiran bed.
"Apa yang terjadi?" aku meletakkan tanganku diatas keningnya
Astaga!
"Eonnie, eonnie." aku membangunkan Sooyeon eonnie.
Perlahan, Sooyeon eonnie membuka matanya. Ia menatapku sebentar, lalu tersenyum.
"Krys, kaukah itu?"
"Ne, eonnie."
Sooyeon eonnie memejamkan matanya lagi.
"Eonnie, ayo ke rumah sakit. Badanmu panas sekali."
Sooyeon eonnie menggelengkan kepalanya. Aku menghela nafas pasrah.
"Kalau begitu eonnie istirahat saja. Nanti aku akan memanggil dokter Lee kesini."
Lima menit kemudian, eonnie sudah tertidur. Kucek lagi suhu tubuhnya. Kali ini menggunakan termometer.
"39.. Otthokaji?" aku cemas dengan keadaan eonnie. Suhu tubuhnya saja 39. Padahal udara di luar dingin sekali.
Perlahan aku keluar dari kamar eonnie dan duduk di samping Myungsoo oppa di ruang tengah.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Parah. Suhu tubuhnya 39." jawabku.
Myungsoo oppa terdiam. Aku mengambil ponselku di tas dan menghubungi seseorang.
"Oh, annyeonghaseyo oppa." sapaku ketika orang itu mengangkat teleponnya.
"Bisakah kau ke apartemen Sooyeon eonnie sekarang? Alamatnya akan kukirim lewat sms."
Aku mendengar pertanyaan yang dilontarkannya.
"Keadaannya parah, oppa. Ppalli." suaraku mulai bergetar menahan tangis.
Setelah mendengar kepastian bahwa dia akan datang, kuakhiri pembicaraan.
"Nugu?"
"Dokter Lee, namjachingu Jessica eonnie." jawabku.
"Oh.." Myungsoo oppa mengangguk mengerti.
Aku pergi ke dapur untuk mengambil minum. Ketika hendak mengambil gelas, tanpa sengaja aku melihat dua mug berwarna kuning dan hijau. Karena penasaran, kuambil kedua mug itu.
"Astaga, couple mug." aku terkekeh geli ketika mengamati mug-mug cantik itu.
Mug yang pertama berwarna kuning. Kurasa ini milik Sooyeon eonnie. Ada ukiran nama Jung Soo Yeon di sisi mug itu. Tulisannya berwarna hijau. Mug yang kedua pasti milik Myungsoo oppa. Mugnya berwarna hijau dengan ukiran Kim Myung Soo berwarna kuning. Ahahaha..
What a cute couple!
-----
Myungsoo POV
Ting tong..
Seseorang membunyikan bel. Segera aku menuju pintu. Sekilas aku melihat di interkom, di depan pintu ada seorang namja tampan memakai kacamata dan mengenakan kemeja biru muda. Kurasa dia dokter Lee.
"Annyeonghaseyo~." sapaku ketika membuka pintu.
Namja itu tersenyum lalu membungkukkan badannya.
"Annyeonghaseyo. Lee Donghae imnida."
"Oh, jadi kau dokter Lee?" tanyaku.
"Ne."
"Masuklah." kubuka pintu lebar-lebar mempersilakan dokter Lee masuk. Kututup kembali pintu apartemen dan menghampiri dokter Lee yang duduk di sofa.
"Sebentar, biar kupanggilkan Krystal." aku berjalan menuju dapur dan menemukan Krystal sedang duduk di kursi makan. Kurasa dia melamun.
"Krys.. Dokter Lee sudah datang." aku menepuk pelan pundaknya.
Ia tampak terkejut. Tapi kemudian ia tersenyum dan beranjak dari duduknya.
"Ne, oppa."
Aku mengikuti Krystal ke ruang tamu. Dokter Lee sedang berdiri mengamati foto-foto Sooyeon yang digantung di dinding. Ah, lebih tepatnya ia mengamati salah satu frame foto Sooyeon dan aku.
"Oppa.." Krystal memanggil dokter Lee.
Dokter Lee tersenyum dan Krystal balas tersenyum.
"Dimana dia?" tanya dokter Lee.
Krystal menunjukkan kamar Sooyeon, dokter Lee mengikutinya.
Sementara dokter Lee memeriksa keadaan Sooyeon, aku pergi ke dapur menyiapkan secangkir teh panas untuk dokter Lee.
-----
Krystal POV
"Aku tahu ia selalu seperti ini saat musim dingin. Tapi ini adalah yang paling parah.." kata Donghae oppa setelah memeriksa keadaan Sooyeon eonnie.
Aku mengangguk menyetujui perkataannya. Musim dingin sebelumnya eonnie tidak pernah sampai separah ini. Paling cuma kram, mudah lelah, pusing, dan flu. Kalaupun demam besoknya sudah sembuh. Apa yang terjadi padanya?
"Tapi aku yakin dia bisa bertahan seperti musim-musim dingin sebelumnya." kata Donghae oppa.
"Ya, kuharap begitu."
-----
Donghae POV
Kasihan sekali Sooyeon. Sejak kecil ia sakit-sakitan, apalagi di musim dingin seperti ini. Hanya dia yang bisa demam >35 derajat celcius, padahal diluar suhu bisa mencapai minus. Bagaimana rasanya ya? Ia tidak bisa menikmati musim dingin.
Aku keluar dari kamar Sooyeon. Krystal mengikuti di belakang.
"Belikan obatnya sekarang, Krys." ujarku.
"Ne, oppa."
Krystal berjalan menuju pintu apartemen dan meraih mantelnya yang digantung disana.
"Bagaimana keadaannya, hyung?" tanya namja tampan yang tadi membukakan pintu untukku.
"Yah.. Lebih parah dari tahun lalu. Tapi tenang, kami bisa mengatasinya." jawabku.
Namja tampan itu meletakkan secangkir teh panas di atas meja dihadapanku.
"Oh ya, siapa namamu?"
Ia duduk dihadapanku. Tampak sedikit terkejut.
"Ah.. Kim Myungsoo imnida."
"Myungsoo, apa kau namjachingu Sooyeon?"
"Ne, hyung."
Syukurlah, ada yang menjaga Sooyeon disini.
"Hmm.. Begitu ya. Tolong kau jaga Sooyeon. Arasseo?"
Myungsoo mengangguk mantap, "Tentu saja, hyung. Aku akan menjaganya."
Aku meraih cangkir dihadapanku dan meminum isinya setengah.
"Baiklah, aku harus ke rumah sakit sekarang." aku bangkit dari dudukku dan berjalan menuju pintu apartemen Sooyeon. Myungsoo mengikutiku.
"Kamsahamnida, hyung." Myungsoo membungkuk berterima kasih padaku.
Aku menepuk pundaknya pelan, "Ne, kau jaga dia ya. Jangan lupa memberinya obat 3 kali sehari." pesanku sebelum keluar dari apartemen Sooyeon.
"Ne, hyung."
-----
Myungsoo POV
Lima belas menit setelah Donghae hyung pergi, Krystal tiba di apartemen sambil menenteng tas plastik.
"Oppa, ini obatnya." ia menyerahkan tas plastik itu.
"Ne gomawo, Krystal." aku meraih tas plastik itu.
"Aku harus pergi, oppa. Jaga eonnie baik-baik!" Krystal berbalik dan keluar dari apartemen.
Aku duduk di sofa ruang tengah. Perlahan kubuka tas plastik itu dan menemukan setumpuk obat di dalamnya.
Astaga, banyak sekali. Ada 4 macam obat kapsul dan sebotol vitamin.
Kulirik jam dinding. Sudah saatnya makan siang.
Ponselku berdering ketika aku berdiri hendak menuju dapur.
"Yeoboseyo."
"Myungsoo-ya, cepatlah pulang ke Seoul."
Aku mengerutkan keningku bingung. Pulang ke Seoul? Bagaimana dengan Sooyeon? Aku sudah berjanji pada Donghae hyung dan Krystal untuk menjaganya.
"Aku tidak bisa, eomma. Aku sibuk kuliah."
"Eomma tidak mau tahu. Kau harus pulang ke Seoul minggu ini. Se Ra akan menikah tahun baru nanti. Kau harus tiba di Seoul sebelum natal!" ujar eomma.
"Tap-"
Tut..tut..tut..
Aish, mwoya?? Eomma!
-----
Sooyeon POV
Kubuka mataku perlahan. Samar-samar kulihat seseorang berdiri memandang keluar jendela. Saat aku mencoba untuk bangun, kepalaku sakit sekali. Pandanganku juga kabur. Tanpa sadar aku merintih kesakitan.
"Sooyeon-ah.." orang itu berjalan mendekatiku dan menyuruhku untuk berbaring.
Kuamati wajahnya. Ah, Myungsoo oppa.
"Oppa? Kenapa disini?" tanyaku.
"Tentu saja aku harus menjagamu." jawabnya ringan seraya membenahi selimut yang menyelimuti tubuhku.
Aku diam saja mendengar jawabannya. Tidak tahu respon apa yang harus kulontarkan.
"Minum obatnya, Sooyeon-ah." Myungsoo oppa mengambil segelas air dan obat dari atas meja disamping tempat tidurku.
Ia membantuku bangun dan menyerahkan segelas air padaku. Apa-apaan ini, aku tidak suka minum obat.
"Ayolah.." bujuknya.
Akhirnya aku mengambil salah satu kapsul obat dari piring kecil yang dibawanya. Setelah menelannya, cepat-cepat kuraih gelas yang disodorkan Myungsoo oppa dan meminumnya separuh.
"Habiskan." Myungsoo oppa menunjuk obat-obat memuakkan yang masih ada di tangannya.
Setelah selesai dengan obat-obat sialan itu -yang rasanya pahit sekali-, Myungsoo oppa menyuruhku tidur. Aku menurut dan berbaring kembali di ranjang. Astaga, badanku rasanya pegal semua. Kepalaku masih pusing meskipun tidak separah tadi. Aku bersyukur ada Myungsoo oppa disisiku.
"Tidurlah, aku ke kamar mandi sebentar." Myungsoo oppa mengecup puncak kepalaku lalu bangkit keluar kamarku.
Karena efek obat, aku merasa mengantuk. Kuputuskan untuk memejamkan mata. Tapi...
Ponselku bergetar diatas meja samping bedku.
"Yeoboseyo~" sapaku malas.
"Oh, Sooyeon-ah. Neo gwenchana?" tanya Jinyoung oppa diseberang sana.
"Ahni.."
"Wae geurae? Penyakit musim dingin?"
Aku terkekeh geli mendengar celotehannya. Penyakit musim dingin? Siapa lagi kalau bukan si pabo-cerewet Jinyoung oppa yang menciptakan istilah itu.
"Ne, oppa."
"Yahh..sudah kukatakan berka-"
"Arasseo oppa. Oppa ada apa meneleponku?" aku harus cepat memotong ucapannya, kalau tidak penyakit cerewetnya itu akan kambuh.
"Ah, ne! Sooyeon-ah, oppa akan menikah tahun baru nanti."
Mwo? Oppa menikah?
"Nugu?" tanyaku memastikan.
"Na, Jung Jinyoung!" seru Jinyoung oppa.
Oh great, I know it'll exactly happened.
"Geuraeyo?"
"Ne, kau pulanglah ke Seoul, Sooyeon-ah. Akan kukenalkan kau dengan Se Ra." kata Jinyoung oppa.
"Kenapa oppa yang menikah? Oppa kau melangkahi Yonghwa oppa."
Jinyoung oppa tertawa diujung sana.
"Hehe, arra. Yonghwa hyung sudah memberiku izin."
Aku menghela nafas.
"Sooyeon-ah? Pulanglah ke Seoul, appa ingin kau sudah di Seoul sebelum natal."
"Ah, mollayo oppa. Aku sedang sakit, tapi kuusahakan sebelum natal aku sudah tiba di Seoul."
"Geurae, akan kuberitahukan appa nanti. Cepat sembuh, Sooyeon-ah. Kau sudah ke dokter?"
"Sudah, oppa. Donghae oppa datang memeriksaku tadi."
"Oh, begitu. Istirahatlah dan pakai sweater, kaus kaki, syal, top-"
"Arasseo oppa!"
"Annyeong.."
Kuletakkan ponselku kembali ke atas meja.
Benarkah itu? Jinyoung oppa akan menikah? Bagaimana denganku?  Jinyoung oppa adalah orang yang paling dekat denganku, paling mengerti keadaanku, dan paling menyayangiku. Kalau Jinyoung oppa menikah, akan ada penggantiku disisi oppa. Lalu aku bermain dengan siapa? Yonghwa oppa? Aku tidak akrab dengannya. Lagipula Yonghwa oppa lebih banyak menghabiskan waktu dengan band-nya.
Aish, ottokhae?
Ah, benar. Aku masih punya Myungsoo oppa.
-----
Keesokan harinya..
"Jadi, kau mau pulang ke Seoul?"
Aku mengangguk menjawab pertanyaan Myungsoo oppa.
"Aku juga."
Aku menatapnya heran.
"Oppa juga pulang ke Seoul? Kapan?"
"Mungkin lusa. Aku harus tiba di Seoul sebelum natal." jawabnya.
"Wah, ternyata keluarga kita sama ya, tidak ingin melewatkan momen natal bersama. Hahaha.."
Aku merasa konyol dengan semua kenyataan ini. Aneh sekali. Tapi, entahlah..
Ah ya, aku tidak berani memberitahu Myungsoo oppa bahwa Jinyoung oppa akan menikah. Kenapa aku tidak berani? Entahlah, aku mengikuti kata hatiku.
-----
Myungsoo POV
"Wah, ternyata keluarga kita sama ya, tidak ingin melewatkan momen natal bersama. Hahaha.."
Aku terdiam mendengar kalimat yang dilontarkan Sooyeon. Ternyata dia masih belum tahu yang sebenarnya. Aku ingin memberitahunya, tapi aku tidak ingin hubungan kami putus. Aku sangat mencintainya. Sangat mencintainya. Kalian tahu kan?
"Oppa?" Sooyeon melambaikan tangannya di depan wajahku. Aku tersadar dari lamunanku.
"Oppa wae geurae?"
Aku menggeleng seraya tersenyum padanya. Kupeluk Sooyeon yang duduk di sampingku. Aku takut. Aku takut bagaimana hubungan kami ke depan.
"Oppa.."
"Biarkan seperti ini..aku menyayangimu, Sooyeon-ah. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu, Sooyeon-ah..." aku berbisik di telinganya.
"Naddo, oppa. Aku juga mencintaimu." kurasakan Sooyeon balas memelukku dan menyandarkan kepalanya di dadaku.
Kusandarkan daguku di bahunya. Perlahan air mata mengalir dari mataku. Ini pertama kalinya aku menangis, untuk yeoja yang kucintai. Aku menangis untuk cintaku, untuk jiwaku, Jung Sooyeon.
Tuhan, kalau boleh, aku ingin waktu berhenti. Disaat dia berada dalam pelukanku.
-----
Seoul, 23 Desember
Sooyeon POV
Astaga, punggungku sakit sekali. Sebenarnya aku juga masih demam, dan sebenarnya Donghae oppa tidak mengijinkan aku bepergian. Tapi aku nekat. Aku ingin melihat pernikahan Jinyoung oppa. Aku ingin bertemu calon kakak iparku. Aku ingin bertemu dengan keluarga mereka.
"Agasshi, kita sudah sampai di bandara Incheon." seorang pramugari menepuk pundakku pelan.
Ah ya, aku masih duduk di bangku pesawat. Aku berdiri mengambil barang-barangku. Astaga, hanya aku yang tersisa di pesawat ini.
"Kamsahamnida." aku membungkuk dan tersenyum pada pramugari cantik itu.
Cepat-cepat aku turun dari pesawat dan mengambil koperku. Aku keluar dari pintu kedatangan, masih dengan langkah cepat. Dimana appa?
Aku berhenti sebentar dan melihat sekelilingku. Aish, dimana appa?
image
Aku melihat dua orang lelaki, yang satu memakai setelan jas hitam, dan yang satu memakai jaket putih. Aku tahu, appa dan paman Changmin.
"Appa!" aku melangkahkan kakiku cepat sambil melambai ke arah mereka.
Paman Changmin yang pertama melihat kehadiranku langsung membalas lambaianku dan berlari menghampiriku. Paman memelukku erat.
"Long time no see..." paman bergumam.
Aku membalas pelukannya, tapi cuma sebentar.
"Paman, bantu aku membawa koper." ujarku seraya melepas pelukannya.
"Anything for you my baby.."
"Ya!" aku memuku pelan lengan paman Changmin.
"Appa!" aku ganti memeluk appa.
Appa tersenyum sambil merentangkan tangannya. Tanpa ragu aku memeluknya. Hangat sekali. Appa..
"Hey, badanmu masih panas." appa melepas pelukannya lalu memegang kedua pipiku.
"Sebenarnya Donghae oppa tidak mengijinkan aku pulang hari ini. Aku tahu aku masih sakit, tapi aku ingin bertemu keluargaku." aku menundukkan kepalaku. Takut appa akan marah padaku.
"Pabo!" paman Changmin menyentil jidatku. Aish.
"Ya! Paman!" aku menggerutu sambil mengusap jidatku.
Appa tertawa, "Kajja."
"Ne." kami berjalan keluar bandara menuju mobil appa diparkir.
Tangan appa tak lepas dari bahuku. Aku bersyukur appa merangkulku, kalau tidak aku bisa pingsan kapan saja.
-----
Keesokan harinya..
Myungsoo POV
Aaahh.. Welcome home, Kim Myungsoo!
Kukeluarkan ponsel dari saku jaketku dan mengaktifkannya. Orang pertama yang kuhubungi adalah yeojachinguku, Jung Sooyeon.
Aku hanya mengiriminya pesan. Aku tahu ia pasti sibuk dengan keluarganya. Dan aku juga tidak yakin, ia masih belum mengetahui tentang oppanya yang akan menikah dengan noonaku. Aku tidak berani meneleponnya. Aku belum siap mendengar tangisannya.
Setelah mengiriminya pesan, langung kutelepon noonaku supaya menjemputku di bandara.
"Myungsoo? Kau sudah sampai?"
"Ne, bisa kau jemput aku?"
"Tentu saja."
Aku memutuskan sambungan dan memasukkan kembali ponselku ke saku jaket. Beberapa detik kemudian ponselku bergetar. Ada pesan dari Sooyeon.
Welcome home, oppa. Langsung pulang dan istirahat. Saranghae ^^
Aku terkikik geli membaca pesannya. Sepertinya dia tidak marah. Itu berarti dia belum mengetahuinya.
Tiba-tiba saja aku merasa takut berada di negara ini. Negara kelahiranku.
-----
~TBC~
Mian telat post. Komentarnya jangan lupa.
Kalo ada typo, maaf. Author lagi males ngedit.©Safira Alhana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please leave your comment here! Thanks :)
-Safira Alhana-