Author : Safira Alhana a.k.a Park Chan Ra / Cia Park @hanna_ryeong9
Cast :
- Kim Myung Soo (L Infinite)
- Jung Soo Yeon (OC)
- Jung Jin Young (Jinyoung B1A4)
- Kim Se Ra (OC)
- Jung Yunho (Yunho TVXQ)
- Jung Yonghwa (CN BLUE)
- Other cast..
Genre : Drama, sad, romance
Rating : T
Length : Chapter
Disclaimer : Fanfic ini 100% original karya Safira Alhana Zubairy. Plot, ide cerita, semuanya 100% hasil ekskresi (?) otak pentium saya.
Cast :
- Kim Myung Soo (L Infinite)
- Jung Soo Yeon (OC)
- Jung Jin Young (Jinyoung B1A4)
- Kim Se Ra (OC)
- Jung Yunho (Yunho TVXQ)
- Jung Yonghwa (CN BLUE)
- Other cast..
Genre : Drama, sad, romance
Rating : T
Length : Chapter
Disclaimer : Fanfic ini 100% original karya Safira Alhana Zubairy. Plot, ide cerita, semuanya 100% hasil ekskresi (?) otak pentium saya.
Rekomendasi Lagu :
Jung Yonghwa - 그리워서... (OST. Heartstrings)
Huh Gak - Hello
As One - White Love Story (OST. Coffee Prince)
INFINITE - Only Tears
CN Blue - Still in Love
Dan lagu-lagu galau lainnya...
Jung Yonghwa - 그리워서... (OST. Heartstrings)
Huh Gak - Hello
As One - White Love Story (OST. Coffee Prince)
INFINITE - Only Tears
CN Blue - Still in Love
Dan lagu-lagu galau lainnya...
DON'T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT!!
Di part ini muncul cast baru. Welcome Kim Taeyeon eonnie~ ^^
-----------------------------
Sooyeon POV
Kim Se Ra. Akhirnya aku bisa bertemu dengannya. Dia adalah calon kakak iparku. Aku senang sekali. Se Ra eonnie setahun lebih tua dariku. Dia sangat cantik. Sangat cantik dan juga baik. Beruntung sekali Jinyoung oppa memilihnya.
Saat ini aku sedang mengobrol dengan Se Ra eonnie dan Jinyoung oppa di taman. Kami membicarakan banyak hal. Mulai dari pertemuan pertama mereka, sampai acara pernikahan yang akan digelar bulan depan. Se Ra eonnie benar-benar pandai bercerita. Aku senang mendengarnya bercerita.
Tapi ada yang aneh. Aku merasa pernah bertemu dengan Se Ra eonnie. Tapi kapan? Wajahnya terlihat familiar. Mata tajam dan sipitnya. Serta rambut hitamnya. Ah, juga senyumnya. Benar-benar familiar di mataku.
"Chamkaman, dongsaengku menelepon," Se Ra eonnie berjalan masuk ke rumah.
Aku menoleh ke arah Jinyoung oppa yang duduk di sampingku. Senyum tak lepas dari wajah tampannya. Jinyoung oppa menyadari tatapanku. Ia tersenyum dan mengacak-acak rambutku. Tiba-tiba tangannya berhenti. Senyumnya memudar.
"Badanmu panas, kau masih sakit? Kukira kau sudah sembuh," ujarnya. Ia memegang kedua tanganku dan meremasnya pelan.
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. Jinyoung oppa tampak sedih. Mianhae oppa, aku membuatmu sedih lagi.
"Jagiya, dongsaengku sudah sampai di bandara Incheon. Aku akan menjemputnya."
Aku dan Jinyoung oppa menoleh kearah Se Ra eonnie yang berjalan menghampiri kami. Eonnie mengambil tas dan kacamata coklatnya diatas meja.
"Kau mau aku menemanimu?" Jinyoung oppa berdiri mengikuti Se Ra eonnie.
Se Ra eonnie berhenti berjalan dan menatapku. Ia tersenyum. Kemudian ia balik menatap Jinyoung oppa.
"Aku bisa sendiri. Sooyeon masih sakit, kan? Kau harus menjaganya," kata Se Ra eonnie.
Jinyoung oppa mengangguk mengerti, lalu memeluk Se Ra eonnie. Se Ra eonnie melambaikan tangannya padaku. Aku balas melambai.
"Hati-hati eonnie,"
"Jangan lupa nanti malam ajak dongsaengmu kesini," seru Jinyoung oppa.
Se Ra eonnie berbalik, mengacungkan jempolnya.
"Oppa..aku lelah," tiba-tiba aku merasa pusing dan seluruh tubuhku serasa remuk.
"Baiklah, ayo kutemani kau ke kamar. Kau harus istirahat," kata Jinyoung oppa.
Oppa merangkul bahuku dan menuntunku naik ke lantai atas. Aku merasa kesehatanku semakin memburuk. Tapi aku tidak memberitahu siapapun tentang keadaanku. Meskipun itu Myungsoo oppa. Aku tidak berani memberitahunya. Aku takut merusak momen bahagia Se Ra eonnie dan Jinyoung oppa.
"Sekarang tidurlah. Kau harus banyak istirahat. Wajahmu semakin pucat dan tubuhmu semakin kurus. Nanti akan kubangunkan kalau sudah waktunya," kata Jinyoung oppa.
Aku berbaring dan langsung menutup mataku. Jinyoung oppa membantu menyelimutiku. Setelah itu Jinyoung oppa mengecup keningku dan keluar dari kamarku.
-----
Jinyoung POV
Cuaca pagi ini dingin sekali. Ah sial. Apa akan turun salju? Ck, aku benci sekali salju. Karena salju, benda putih kecil seperti kapas itu, yang membuat dongsaeng kesayanganku kesakitan. Maka dari itu, aku benci salju.
Ddrrtt..ddrrrtt
Aku mengeluarkan ponselku yang bergetar dari saku celanaku. Kulihat IDnya. Dari Donghae hyung? Eoh, Donghae hyung?
"Yoboseyo.." sapaku.
"Oh, Jinyoung-ah. Apa kabar?" seru Donghae hyung.
"Baik, kau sendiri bagaimana hyung?"
"Sama sepertimu."
Hening sejenak.
"Jinyoung-ah. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." kudengar nada bicara Donghae hyung semakin serius.
"Ne, hyung. Tentang apa?"
"Ini tentang Sooyeon."
Aku terdiam. Sooyeon? Ada apa dengannya? Oh, ya Tuhan. Aku benar-benar takut. Kakiku melangkah ke gazebo dekat kolam renang dan duduk diatasnya.
"Wae geurae hyung? Ada apa dengan Sooyeon?" tanyaku langsung.
"Sebelumnya aku mau tanya, bagaimana keadaan Sooyeon? Apa dia masih sakit?"
Aku terdiam memikirkan jawaban pertanyaan itu. Kuputar kembali ingatanku selama bersama Sooyeon. Mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi dengannya.
"Ne hyung, dia masih sakit. Kurasa demamnya semakin parah. Wajahnya sangat pucat, ia pernah mengeluh kalau perutnya sakit. Dia juga kehilangan selera makannya. Dan ah, dia sering merasa lelah, padahal ia tidak melakukan kegiatan yang berat," jawabku.
"Astaga.. Aku akan ke Seoul secepatnya. Aku harus memeriksa keadaan Sooyeon," ujar Donghae hyung.
"Eehh...bagaimana dengan pekerjaanmu di New York?"
"Aku akan mengambil cuti."
"Baiklah, hyung. Kuharap kau cepat bertindak. Aku khawatir dengan keadaan Sooyeon."
"Tentu."
"Ngomong-ngomong, Sooyeon sakit apa sih? Hyung sampai rela ke Seoul hanya untuk memeriksanya."
Donghae hyung terdiam. Aku semakin bingung. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Entahlah. Maka dari itu aku harus memastikannya."
"Oh begitu."
"Aku akan ke Seoul bersama Krystal dan Jessica. Bisa kau menjemputku besok di bandara?"
"Tentu saja, hyung."
"Gomawo, Jinyoung-ah."
"Ne cheonma hyung."
Aku memutus sambungan dan memasukkan kembali ponsel ke saku celanaku. Tentang keadaan Sooyeon, aku masih penasaran dan khawatir. Apa yang akan terjadi pada dongsaengku?
"Oey, Jinyoung!"
Aku menoleh ke arah Yonghwa hyung yang baru pulang. Ia menenteng gitar kesayangannya. Aish, hyungku ini. Entah kenapa dia suka sekali bermain musik. Yonghwa hyung bahkan tidak mau mewarisi perusahaan appa yang besar itu. Apalagi perusahaan milik eomma. Waktunya habis untuk menyalurkan hobinya, bermain musik dan menciptakan lagu.
"Oh, hyung kau PULANG." aku sengaja mengucapkan kata pulang lebih keras, mengingat hyungku ini jarang pulang ke rumah.
"Yeah, aku bosan di dorm. Lagipula aku ingin bertemu Sooyeon."
"Oh, geuraeyo? Sooyeon di kamarnya, biarkan dia istirahat hyung. Sooyeon masih sakit," ujarku.
"Ne."
Kulihat Yonghwa hyung masuk ke kamarnya. Kemudian ia keluar dan langsung naik ke lantai dua, menuju kamar Sooyeon.
-----
Kediaman keluarga Kim..
Myungsoo POV
Kulangkahkan kakiku masuk kedalam rumah. Aahh..senang rasanya bisa pulang.
"Myungsoo!" kudengar teriakan eomma dari arah dapur. Aku langsung berlari menghampiri eomma.
"Eomma bogoshippoyo!"
Eomma memelukku erat. Aku balas memeluknya erat. Se Ra tertawa melihat tingkahku. Kulihat dia sibuk membawa koperku masuk ke rumah, sambil tertawa.
"Kau sudah dengar beritanya?"
"Oh, Se Ra akan menikah? Tentu saja. Dia menelepon dan mengatakannya sendiri," jawabku seraya melepas pelukan eomma.
Setelah mengobrol beberapa saat, eomma menyuruhku untuk makan. Se Ra sudah menunggu di meja makan.
"Appa kemana eomma?" tanyaku.
"Appamu masih di kantor, ada meeting. Mungkin nanti sore pulang."
"Oohh.."
"Oey Myungsoo!"
Aku menoleh ke arah Se Ra. Se Ra meletakkan sendok dan garpunya.
"Wae?"
"Bersiaplah, nanti malam kau akan ikut denganku."
"Kemana?"
"Ke rumah keluarga Jung."
Aku terdiam mendengar apa yang dikatakan Se Ra. Ke rumah keluarga Jung? Tidak. Aku belum siap. Aish, ottokhae?
"Siapa yang bilang aku mau ikut. Aku capek noona, jet lag. Aku-"
"Myungsoo, acara nanti malam itu penting. Kamu harus ikut."
"Tapi eomma-"
"Myungsoo-ya. Jebal.."
Se Ra menatapku penuh harap. Aish, jangan gunakan puppy eyes-mu Se Ra!
"Ok, fine! Aku akan ikut."
Se Ra dan eomma tersenyum. Dalam hati aku menyesal telah mengatakan itu. Tapi aku sadar, cepat atau lambat Sooyeon pasti akan tahu. Dan saat ini aku belum siap. Aku belum siap bertemu Sooyeon.
-----
Kediaman keluarga Jung..
Sooyeon POV
Perlahan aku membuka mataku. Kulihat sekelilingku. Ya, aku berada di kamarku. Apa yang terjadi?
Kucoba mengingat apa yang terjadi hari ini. Ah ya, sekarang aku ingat.
"Sooyeon-ah.."
Aku menoleh ke arah sumber suara. Kulihat Yonghwa oppa berjalan ke arahku dari arah balkon. Aku tersenyum melihatnya. Yonghwa oppa semakin keren saja. Aku kangen Yonghwa oppa.
"Oppa!" aku melonjak bangkit dari tempat tidurku dan langsung memeluk Yonghwa oppa.
"Aigoo, nae Sooyeonnie. Bogoshippo~"
"Nado oppa."
Aku mencium pipi kiri Yonghwa oppa kilat. Yonghwa oppa tertawa. Oppa menuntunku duduk di sofa. Aku duduk disampingnya. Tangan Yonghwa oppa masih merangkulku.
"Apa kau merasa lebih baik?" tanya Yonghwa oppa seraya meletakkan tangannya di pipiku.
Aku mengangguk. Meskipun hubunganku dengan Yonghwa oppa tidak sedekat dengan Jinyoung oppa, tapi aku tetap merasa nyaman berada di dekat mereka. Mereka sangat sayang padaku. Dan juga appa. Ah iya, appa. Aku belum melihatnya hari ini.
"Oppa, apa kau tahu appa dimana? Aku belum melihatnya pagi tadi."
Yonghwa oppa mengelus-elus rambutku.
"Appa seperti biasa ke kantor. Ayo turun. Oppa tahu kau belum makan siang." Yonghwa oppa menarik tanganku untuk membantuku berdiri.
Di ruang makan sudah ada Jinyoung oppa. Dia sedang sibuk dengan iPadnya ditemani segelas jus jeruk kesukaannya. Ketika turun dari tangga terakhir, tiba-tiba aku merasa pusing. Aku meraih lengan Yonghwa oppa untuk menahanku agar tidak jatuh. Untungnya Yonghwa oppa cepat merespon, ia menuntunku ke ruang makan.
"Oh, kau sudah bangun?"
Jinyoung oppa menaruh iPadnya diatas meja. Kulihat ia berdiri lalu menarik kursi disampingnya, mempersilakanku untuk duduk disana. Aku tersenyum berterimakasih padanya dan duduk di kursi disampingnya. Yonghwa oppa duduk di depanku.
Jinyoung oppa meletakkan semangkuk bubur dan teh hangat di depanku. Aku menatapnya bingung. Kenapa ada bubur?
"Donghae hyung yang menyuruhku. Kau kan masih sakit."
Donghae oppa? Aish apa yang dikatakannya pada Jinyoung oppa?
"Ayo dimakan, Sooyeonnie. Kau mau sakit maag-mu bertambah parah?" ujar Yonghwa oppa.
Aku meraih sendok dan mulai makan bubur. Rasanya hambar. Ah, nggak enak.
"Waeyo?"
Aku meletakkan sendok dan meminum teh hangat di depanku. Selera makanku hilang sudah, karena bubur itu. Dari kecil aku memang tidak suka bubur. Entah kenapa. Kalau melihatnya saja sudah merasa mual, apalagi kalau memakannya. Sama seperti sekarang. Rasanya aku ingin muntah.
"Gwenchana?" tanya Jinyoung oppa.
Jjinja. Aku benar-benar merasa ingin muntah.
"Sooyeon-ah!"
Aku berlari ke arah westafel dekat pintu ruang makan dan memuntahkan apa yang kumakan. Yonghwa oppa dan Jinyoung oppa terlihat sangat panik. Jinyoung oppa menepuk-nepuk punggungku dan memijat leherku pelan. Yonghwa oppa pergi entah kemana, mungkin ke kamarnya, dan kembali sambil membawa sapu tangan. Yonghwa oppa membantuku mengelap wajahku. Aku hendak menghidupkan kran ketika melihat sesuatu berwarna merah di westafel. Aku tercengang ketika menyadari apa itu. Darah.
"Sooyeon-ah, darah.."
Yonghwa oppa mengamati sudut-sudut bibirku yang terkena bercak-bercak darah. Yonghwa oppa lalu melihat ke westafel. Kulihat ekspresi wajahnya berubah semakin panik. Jinyoung oppa juga melihatnya. Ia diam terpaku di sampingku, tanpa berkata-kata.
"Jinyoung-ah... Cepat panggil dokter Kim!" seru Yonghwa oppa.
Dokter Kim adalah dokter pribadi keluargaku. Dia sudah lama menangani penyakitku dan appa sangat mempercayainya. Aku memegang perutku. Rasanya sakit sekali. Yonghwa oppa menuntunku kembali duduk di kursi. Tapi belum sampai di meja makan, pandanganku mulai kabur. Kurasakan tubuhku kehilangan keseimbangan. Pandanganku gelap. Selanjutnya, aku tidak tahu apa yang terjadi...
-----
Myungsoo POV
Praanngg...!!
Oh my.. Tanganku tidak sengaja menyenggol mug favoritku yang kuletakkan di konter. Aku berjongkok dan mulai memunguti pecahan mug-ku. Sialan, mug ini adalah mug favoritku. Mug couple. Pasangan mug ini kuberikan pada Sooyeon sewaktu aku masih di New York. Ya, aku membawanya ke Seoul. Aku sengaja membawanya karena ini sangat penting bagiku. Tapi sekarang... Aish...
"Myungsoo-ya, suara apa itu?" seru eomma dari arah ruang keluarga.
"Ah, gwenchana eomma. Mug-ku pecah." aku balas berseru.
Segera kubersihkan pecahannya, setelah itu aku kembali ke kamarku. Ngomong-ngomong, kenapa perasaanku nggak enak gini ya. Serasa ada yang ganjal. Firasatku mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Ya, aku yakin. Feelingku tidak pernah salah.
Ah ya. Aku teringat yeojachinguku. Jung Sooyeon. Bagaimana kabarnya ya? Aku tidak berani meneleponnya. Sudah lama aku tidak mendengar suaranya. I miss her so badly.
Karena sudah tidak tahan, kuraih ponsel dari meja belajarku dan menelepon Sooyeon.
Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif.
Mwoya?! Disaat aku punya keberanian untuk meneleponnya, kenapa malah jadi begini? Aish jinja..
Eh, kenapa ponselnya tidak aktif ya? Apa dia sedang sibuk? Hmmm.. Mungkin saja.
Aku melihat tas ranselku diatas bed. Hey, aku kan kemarin mencetak foto-foto Sooyeon. Sepertinya masih di ransel. Kuhampiri ranselku dan membukanya. Nah, ini dia foto-fotonya. Setidaknya aku punya fotonya untuk mengobati kerinduanku.
Aku sengaja memotret Sooyeon diam-diam. Sejak kami berteman, aku semakin tertarik padanya hingga aku melakukan itu. Sampai sekarang Sooyeon tidak tahu tentang ini.
Siang itu kuhabiskan dengan mengamati foto-foto Sooyeon. Yah, sedikit mengobati kerinduanku. Dan juga mengurangi kecemasanku akan pertemuan dengan keluarga Jung nanti malam.
Sekarang aku siap. Aku siap menghadapi apapun yang akan terjadi nanti.
-----
Yunho POV
"Oh, appa."
Suara Jinyoung menyambutku ketika aku melangkahkan kaki memasuki rumah. Jinyoung menghampiriku. Ekspresi wajahnya terlihat sedih dan cemas. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Oh, Jung Yunho. Kau terlalu sibuk bekerja sampai tidak tahu apa yang terjadi pada anak-anakmu.
"Ada masalah?" tanyaku sambil mengajaknya duduk di sofa ruang tamu.
"Sooyeon...dia pingsan tadi siang. Sampai sekarang belum sadar."
Jddeerrr!!
Kalimat Jinyoung benar-benar membuatku shock. Putriku...putriku satu-satunya. Kenapa dia pingsan? Apa dia sakit?
"Sekarang dimana dia?"
Aku berdiri, Jinyoung mengikuti.
"Ada di kamarnya."
Langsung saja aku berjalan menuju kamar Sooyeon. Jinyoung mengikutiku sambil mengabarkan kalau Donghae akan tiba di Seoul besok dan langsung melakukan pemeriksaan. Dia juga berkata kalau dokter Kim masih di kamar Sooyeon, menjaganya.
"Oh, tuan Jung."
Aku masuk ke kamar Sooyeon dan menghampiri dokter Kim. Dokter Kim memintaku untuk mengikutinya ke balkon. Sepertinya ada sesuatu yang akan dibicarakannya.
"Dokter Kim Taeyeon, apa yang terjadi pada putriku? Kudengar ia pingsan."
Dokter Kim mengangguk, ekspresi cemasnya terlihat dengan jelas.
"Ne, tuan Jung. Nona Sooyeon tadi juga muntah darah. Saya rasa nona Sooyeon harus segera melaksanakan pemeriksaan di lab. Ini sudah parah, Tuan Jung."
Ya Tuhan... Jung Sooyeon putriku...
"Apa..ada hubungannya dengan penyakit Sooyeon sebelumnya?"
"Saya rasa begitu. Penyakit maagnya bertambah parah, Tuan. Saya khawatir maag kronis itu malah menyebabkan kanker. Maka dari itu, harus dilaksanakan pemeriksaan untuk mengetahui metode penyembuhan yang tepat."
"Arasseo, dokter Kim. Lakukan pemeriksaan secepatnya. Dan tolong sembuhkan putriku.."
"Ne, Tuan Jung."
"Appa, Donghae hyung akan tiba di Seoul besok. Ia yang akan memeriksa sendiri keadaan Sooyeon. Karena selama di New York, Donghae hyung yang merawat Sooyeon." kata Jinyoung.
Donghae? Lee Donghae? Ah, ya. Aku lupa kalau dia juga dokter.
"Apa maksud Anda dokter Lee Donghae?" tanya dokter Kim.
"Ne, apa dokter Kim juga kenal dengannya?" Yonghwa balas bertanya.
"Ne, saya kenal. Saya dulu pernah bekerja di rumah sakit New York, dan dokter Lee adalah partner kerja saya." jawab dokter Kim.
"Kalau begitu Anda bisa bekerja sama dengannya untuk menyembuhkan putri saya, dokter Kim." ujarku.
Dokter Kim tersenyum senang.
"Ne, saya bisa. Dokter Lee dokter yang hebat. Saya rasa ini ide yang bagus. Saya akan bekerja keras untuk menyembuhkan putri Anda."
"Kamsahamnida, dokter Kim." aku berterima kasih padanya.
Dokter Kim kembali ke kamar Sooyeon. Ia memeriksa keadaan Sooyeon sebentar, setelah itu membereskan peralatannya.
"Secepatnya nona Sooyeon harus diperiksa. Tolong beritahu saya kalau dokter Lee sudah tiba. Saya berharap bisa langsung memeriksa nona Sooyeon di lab ketika dokter Lee sudah tiba. Lebih cepat lebih baik." kata dokter Kim sebelum keluar dari kamar Sooyeon.
"Ne, dokter Kim. Saya akan memberitahu Anda. Kamsahamnida, dokter Kim."
Yonghwa mengantar dokter Kim keluar rumah. Jinyoung masih duduk di sofa, kurasa sedang melamun. Kuhampiri Sooyeon yang tertidur di tempat tidurnya. Kuamati wajahnya. Wajahnya tampak sangat pucat. Dan ia juga semakin kurus. Ya Tuhan... Aku menyesal telah mengirimkannya study di New York. Aku tidak tahu keadaannya menjadi seperti ini
-----
Dinner time @ Jung's Residence
Sooyeon POV
Satu jam yang lalu, aku siuman. Yonghwa oppa yang pertama kali kulihat. Dia dengan telatan merawatku, membantuku berdiri, dan menyiapkan peralatan mandiku. Sekarang, aku sedang duduk di kursi di depan cermin. Yonghwa oppa memilihkan dress pink ini, yang sekarang kupakai, untuk acara makan malam.
Kuamati wajahku di cermin. Masih tampak pucat, meskipun tidak sepucat tadi. Beruntung aku masih menyimpan peralatan make up-ku. Mengingat aku jarang sekali menggunakannya. Setidaknya make up bisa menyamarkan pucat di wajahku. Aku tersenyum menatap bayanganku di cermin.
Ceklek.
Yonghwa oppa masuk dan berdiri di belakangku.
"Ayo turun. Keluarga Kim sudah menunggu."
Aku berdiri, dibantu Yonghwa oppa aku keluar dari kamar. Tangan Yonghwa oppa melingkar di pundakku. Menjagaku agar tidak hilang keseimbangan. Kami menuruni tangga satu persatu dengan hati-hati. Jujur saja, aku masih merasa pusing sekarang. Tapi aku tidak ingin melewatkan momen ini. Momen dimana aku akan bertemu dengan keluarga Se Ra eonnie.
Aku dan Yonghwa oppa sudah tiba di ruang makan. Kulihat kursi makan sudah penuh, tinggal dua yang tersisa. Appa dan Tuan Kim duduk di ujung meja, berhadapan. Di sisi kiri appa, ada dua kursi kosong. Mungkin itu kursi Yonghwa oppa dan kursiku. Di samping kedua kursi kosong ada Jinyoung oppa. Ada seorang lelaki yang duduk di sisi kanan appa. Berhadapan dengan kursi kosong yang pertama. Karena posisi lelaki itu membelakangiku, aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa dia. Di samping lelaki itu, duduk wanita paruh baya. Sepertinya wanita itu ibu Se Ra eonnie. Dan yang duduk disebelah wanita itu adalah Se Ra eonnie. Aku bisa mengenalinya karena rambutnya tidak digelung seperti wanita yang duduk disebelahnya.
Yonghwa oppa menuntunku ke kursi kosong yang pertama. Karena kepalaku masih pusing, aku berjalan sambil menunduk. Yonghwa oppa berbisik di telingaku,
"Gwenchana, ada oppa disini. Kalau kamu merasa sakit, bilang saja."
Aku mengangguk mengerti.
"Oh, itu dia. Putri bungsuku, Jung Sooyeon, dan putra sulungku, Jung Yonghwa." seru appa yang disambut tatapan ingin tahu keluarga Kim.
"Yeoppoda, Sooyeonnie." ujar wanita yang kupikir sebagai ibu Se Ra eonnie.
Aku mengangkat kepalaku dan tersenyum pada mereka. Kulihat mereka semua menatapku, atau kami tepatnya, kecuali lelaki yang duduk di sisi kanan appa. Lelaki itu malah menunduk. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Aku tersenyum simpul sambil berjalan menuju kursi kosong yang pertama. Yonghwa oppa menarik kursi kosong tepat di depan lelaki itu, dan menyuruhku duduk disana.
"Maaf, putriku sedang sakit. Jadi butuh waktu lama untuk menuju kemari. Maaf atas keterlambatannya," kata appa, aku menundukkan kepalaku.
"Ne, gwenchana. Kami mengerti."
Aku mendongak menatap Tuan Kim dan tersenyum sopan. Tanpa sengaja pandanganku terkunci pada lelaki yang duduk di depanku, ketika aku mengalihkan pandangan. Waktu terasa berhenti. Atau mungkin memang berhenti. Karena aku tidak bisa melakukan apapun selain menatapnya.
Lelaki itu...kenapa dia ada disini? Apa mungkin...
"Sooyeon-ah.."
Aku tersentak kaget dan menoleh ke arah Yonghwa oppa yang menatapku cemas.
"Wae geurae? Apa ada yang sakit?"
Aku menggeleng menjawab pertanyaan Yonghwa oppa. Pandanganku kembali ke lelaki yang duduk di depanku, ia menatapku penuh rasa penyesalan, cemas, kaget dan kerinduan bercampur jadi satu. Aku memilih untuk menghindari tatapannya.
Kenapa dia ada disini? Dia... Kim Myungsoo, namja yang kucintai. Ada apa ini? Siapa dia sebenarnya? Mungkinkah... Dia juga anggota keluarga Kim?
Astaga! Aku baru menyadari. Marganya adalah Kim.
-----
Myungsoo POV
"Dimana kedua anakmu yang lain?" tanya appa ketika semuanya sudah duduk di kursi masing-masing.
"Ah, putriku sedang sakit. Tapi tidak apa, ada oppanya yang membantunya bersiap-siap."
Appa menatap Tuan Jung dengan tatapan cemas.
"Putrimu sakit? Sakit apa?"
"Maagnya kambuh. Dan ia sempat pingsan tadi siang karena lupa makan."
Aku tersentak mendengar jawaban Tuan Jung. Sooyeon sakit? Bagaimana bisa? Ya Tuhan... Hatiku perih mendengarnya kesakitan, sedangkan aku tidak bisa melakukan apa-apa untuknya.
"Lalu kenapa abeonim menyuruhnya untuk ikut acara ini? Sooyeonnie harus istirahat."
Aku menatap Se Ra dan diam-diam setuju dengan perkataannya.
"Aku tidak menyuruhnya, Se Ra-ya. Sooyeon sendiri yang meminta. Katanya ia tidak ingin ketinggalan momen."
Eomma tertawa kecil. Aku kembali menunduk, memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Kudengar langkah-langkah kaki mendekat. Aku sudah tahu, itu pasti dia. Aku terus menunduk, tidak berani mengangkat kepala dan menoleh ke arahnya, seperti yang lain lakukan.
Ketika ia duduk di depanku, baru aku mengangkat kepalaku dan menatapnya. Dia sedang tersenyum pada appa. Kuamati wajahnya. Ya, benar. Wajahnya tampak pucat. Aku tahu, ia pasti memakai make up untuk menutupinya, tapi entah bagaimana dimataku wajahnya terlihat lelah dan pucat.
Ketika pandangannya bertemu denganku, dia terlihat sangat terkejut, dan juga bingung. Aku tahu, apa yang dia pikirkan. Maafkan aku, Sooyeon-ah. Aku tidak merencanakan semua ini. Aku mencintaimu...
-----
~TBC~
Gimana? Gimana part 5-nya? Hehe, mian telat banget updatenya. Minggu ini sama minggu kemarin, sama minggu kemarin (3 minggu berturut-turut) author sibuk ulangan.
Masalah sakit lambung Sooyeon disini, sama kayak apa yang author rasain. Takut banget, sumpah! Separah itu ya, author baru nyadar. Huhuhuhu.. #curcol
Oh ya, author mau menyampaikan sesuatu. Setelah perbaikan disana-sini, supaya lebih ringkas, tanpa mengurangi porsi ceritanya, hanya sedikit mengubah plot, author nyatakan fanfic ini tidak jadi ending di part 20. Mungkin cuma sampe part 12 atau 13. Yang jelas kurang dari part 20.
Mian kalau ada typo, kepanjangan/kurang panjang ceritanya :-)
Jangan lupa komentarnya ya... Kamsahamnida :-)
©Safira Alhana

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Please leave your comment here! Thanks :)
-Safira Alhana-