Jumlah Pengunjung

Note ^^

Halloo..^^ selamat datang di blog saya! Welcome to my blog! Silakan dilihat-lihat, dibaca-baca tapi jangan di copas! Di blog ini juga saya post fanfic-fanfic. Jangan lupa tinggalkan komentar setelah membaca artikel di blog saya! Kunjungi juga WP saya di safiraalhana.wordpress.com

Sabtu, 25 Mei 2013

{Fanfic} Still in Love Part 7



Author : Safira Alhana a.k.a Park Chan Ra / Cia Park @hanna_ryeong9
Cast :
- Kim Myung Soo (L Infinite)
- Jung Soo Yeon (OC)
- Jung Jin Young (Jinyoung B1A4)
- Kim Se Ra (OC)
- Jung Yunho (Yunho TVXQ)
- Jung Yonghwa (CN BLUE)
- Other cast..
Genre : Drama, sad, romance
Rating : T
Length : Chapter
Disclaimer : Fanfic ini 100% original karya Safira Alhana Zubairy. Plot, ide cerita, semuanya 100% hasil ekskresi (?) otak pentium saya.
Rekomendasi Lagu :
Jung Yonghwa - 그리워서... (OST. Heartstrings)
Huh Gak - Hello
As One - White Love Story (OST. Coffee Prince)
INFINITE - Only Tears
CN Blue - Still in Love
Dan lagu-lagu galau lainnya...
DON'T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT!!
-----------------------------

 
Author POV
"Kanker.."
Donghae dan Jessica menoleh ke belakang bersamaan. Yunho berjalan mendekati mereka. Matanya terpaku pada foto istrinya.
"Tepatnya kanker lambung.." kata Jessica.
Donghae kembali mengamati foto di depannya. Di foto itu terlihat eomma Soo Yeon, Hae Ra, yang sedang menggendong seorang bayi. Pasti itu Soo Yeon, pikir Donghae.
"Soo Yeon benar-benar mirip eommanya." kata Yunho. Tatapannya menerawang, berusaha mengingat wajah cantik istrinya yang kini diwarisi Soo Yeon.
Jessica tersenyum, "Ya, aku masih ingat, paman."
Donghae hanya menatap Jessica dan Yunho bergantian. Tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Yunho tertawa melihat ekspresi Donghae. Yunho mengajak kedua orang itu bergabung dengan Krystal yang daritadi menonton TV di ruang keluarga. Yunho duduk di samping Krystal yang terlihat fokus menonton variety show favoritnya. Jessica dan Donghae duduk berhadapan dengan Yunho.
"Lebih baik kalian istirahat dulu. Kalian kan baru sampai di Seoul. Nanti malam kalian harus ikut makan malam bersama."
Krystal menoleh menatap pamannya, "Makan malam dimana, paman?"
"Disini. Changmin dan keluarga Kim juga akan datang," jawab Yunho.
"Keluarga Kim?" tanya Jessica.
"Ne. Calon besan," jawab Yunho sambil tersenyum.
"Aahh.." Jessica mengangguk mengerti, ia ingat pamannya itu pernah bercerita tentang calon istri Jinyoung.
"Sepertinya paman benar, sebaiknya aku istirahat sekarang. Aku lelah.." Krystal berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
"Nanti akan kubangunkan kalau makan siang sudah siap," kata Yunho.
"Ne."
Tatapan Donghae menembus pohon natal yang diletakkan di sudut ruangan dekat TV. Pikirannya melayang kemana-mana. Daritadi ia masih memikirkan Soo Yeon dan eommanya. Benar sekali. Soo Yeon benar-benar mirip eommanya. Sampai-sampai mereka punya penyakit yang sama.
"Oppa, gwenchana?" tanya Jessica. Ia tampak cemas melihat Donghae yang serius tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Ne, nan gwenchana."
"Oppa istirahatlah. Kasihan dahimu, daritadi mengerut terus," gurau Jessica.
Donghae tertawa, "Ne, aku ke kamar dulu."
"Tenang saja, akan kubangunkan nanti," ujar Yunho.
"Ne, paman. Kamsahamnida."
Donghae berdiri kemudian berjalan menuju kamarnya. Jessica mengikuti.
"Aku tidur dulu, paman."
"Ne."
Setelah kepergian kedua orang itu, Yunho mematikan TV dan pergi ke ruang kerjanya. Ia menghampiri meja kerjanya dan membuka laci. Diraihnya album foto yang ada di tumpukan paling bawah. Setelah itu ia duduk di sofa dan mulai membuka-buka album foto.
"Kyeopta.." Yunho tersenyum saat melihat foto masa kecil anak-anaknya. Di foto itu, Soo Yeon yang masih berumur 1 tahun sedang duduk di bangku taman sambil memegang setangkai bunga matahari. Disamping kirinya, Jinyoung yang baru berumur 3 tahun berdiri di atas bangku sambil bergaya ala Pahlawan Bertopeng. Sedangkan di samping kanan Soo Yeon, Yonghwa yang berumur 5 tahun terlihat duduk manis sambil tersenyum lebar. Kedua tangannya berpose V.
Yunho membalik halaman album foto itu. Senyumnya memudar, digantikan raut wajah sedih. Di foto itu terlihat istrinya, Hae Ra, sedang menggendong Soo Yeon yang menangis. Yonghwa berdiri disamping eommanya sambil memeluk pinggang wanita itu, seperti biasa, ia tersenyum sangat lebar.
Di lembar berikutnya, ada foto masa kecil Jinyoung yang duduk di pangkuan Changmin. Mereka berdua terlihat bahagia.
Yunho menutup album foto itu. Ia meletakkannya di meja, kemudian kakinya melangkah keluar ruang kerjanya. Di ruang keluarga, ia melihat Jinyoung sedang menonton TV. Ia tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar putrinya.
Sampai disana, ia termenung melihat keadaan putrinya. Wajahnya pucat. Yunho tak tega melihat keadaannya. Persis seperti mendiang istrinya ketika berjuang melawan kanker. Ia tidak mau nasib putrinya seperti mendiang istrinya. Soo Yeon adalah putri satu-satunya yang dimiliki Yunho.
"Appa.." Soo Yeon membuka matanya, dan menyadari kehadiran Yunho di dekatnya.
Yunho tersenyum sambil membantu Soo Yeon duduk.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Yunho.
"Baik, hanya sedikit lelah," jawab Soo Yeon sambil memaksakan seulas senyum untuk meyakinkan appanya.
"Kau mau tidur lagi atau turun?"
"Aku ingin menonton tv."
Yunho membantu Soo Yeon berdiri dan menuntunnya ketika di tangga.
Tanpa Soo Yeon ketahui, ketika ia keluar kamar, ponselnya yang diletakkan di atas meja samping tempat tidur bergetar. Ada telepon dari orang yang sangat ia harapkan untuk menghubunginya.
-----
Myungsoo POV
"Aku tidak mau tahu, kalian harus putus!"
Aku menatap Se Ra penuh amarah. Apa-apaan ini. Kenapa dia seenaknya berkata seperti itu. Se Ra benar-benar egois!
"Kau benar-benar egois, Kim Se Ra! Aku sangat mencintainya! Sampai kapanpun aku akan terus berada di sisinya!" aku balik berteriak tepat di depan wajahnya. Bisa kurasakan suasana semakin memanas.
Tangan Se Ra terangkat ke atas dan bersiap untuk menamparku. Aku cepat-cepat menghentikan aksinya dan langsung berlari keluar rumah. Aku sudah muak dengan semua ini. Aku muak dengan kelakuan Se Ra.
"KIM MYUNG SOO!!" aku mendengar teriakan Se Ra yang terakhir sebelum aku membanting pintu rumah di belakangku.
Aku merogoh saku celanaku dan menemukan kunci mobilku. Untung aku membawanya. Tapi diluar dingin sekali. Aku tidak memakai jaket atau mantel. Hanya celana katun panjang dan kaos tipis lengan panjang yang menempel di badanku. Setelah menemukan mobilku di halaman depan, aku segera masuk dan mengemudikannya keluar rumah. Aku akan menemui Soo Yeon. Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Jinyoung hyung atau bahkan Yunho ahjussi sekalipun. Aku akan mengatakan pada mereka bahwa aku sangat mencintai Soo Yeon. Aku sangat mencintainya hingga merasa tak bisa hidup tanpa ada Soo Yeon disisiku.
Aku tidak bermaksud merusak hubungan Jinyoung hyung dan Se Ra. Tapi aku tidak bisa menerima kenyataan. Aku tidak bisa menerima kehadiran Jinyoung hyung di tengah-tengah keluargaku. Andaikan aku bukan bagian dari keluarga Kim...
Di tengah perjalanan, aku merogoh saku celanaku dan menemukan ponselku. Cepat-cepat aku menghubungi Soo Yeon untuk memberitahunya bahwa aku mencintainya dan tidak akan meninggalkannya. Aku akan berjuang untuk cinta kami.
Tapi sepertinya rencana itu akan gagal. Aku sudah meneleponnya empat kali. Tapi hasilnya selalu sama. Berakhir di pesan suara.
-----
Author POV
Ting tong..
Yunho berjalan ke arah pintu. Ia meninggalkan Soo Yeon yang sedang asyik menonton TV di ruang keluarga. Ketika Yunho melihat di layar interkom, wajah yang sangat familiar muncul sambil tersenyum lebar. Tanpa ragu, Yunho membuka pintu dan mempersilakan orang itu masuk.
"Hyung, mianhae. Aku baru tiba di Seoul tadi pagi. Klien di Busan benar-benar menyebalkan," keluh orang itu yang langsung masuk dan berjalan menuju dapur.
Soo Yeon yang mendengar suara orang itu, langsung bangkit dari duduknya dan berlari ke dapur.
"Soo Yeon, hati-hati!" tegur Yunho yang melihat putrinya itu berlarian di dalam rumah.
"Paman Changmin!" Soo Yeon langsung menghambur ke pelukan pamannya.
"Yah! Hati-hati, Yeonnie!"
"Mianhae," Soo Yeon cekikikan. Ia sangat senang karena bisa bertemu dengan paman Changmin. Bisa dibilang pamannya adalah orang yang paling dekat dengannya selain Jinyoung.
Setelah minum segelas air putih, Soo Yeon langsung menyeret pamannya ke ruang keluarga. Yunho mengikuti kedua orang itu. Mereka asyik mengobrol di ruang keluarga.
"Wah, paman Changmin sudah datang," ujar Jinyoung saat ia keluar dari kamarnya.
"Hey, kau mau kemana?" tanya Changmim saat melihat keponakannya itu telah berdandan rapi.
"Aku mau keluar sebentar. Membeli sesuatu," jawab Jinyoung.
"Baiklah, hati-hati."
Jinyoung mengangguk mengerti. Ia segera pergi keluar rumah. Namun saat ia membuka pintu depan, ia kaget melihat seseorang berdiri disana. Jinyoung bingung dengan kehadiran orang itu.
"Hyung.."
"Kenapa kau ada disini?"
"Hyung, aku mau bertemu dengan Soo Yeon."
Jinyoung menatap namja di depannya dengan penuh tanya. Ada urusan apa dia dengan dongsaengku?
"Aku ingin bicara dengannya, hyung."
"Myungsoo-ya, ada urusan apa kau dengan dongsaengku?" tanya Jinyoung.
"Aku hanya ingin bicara dengannya."
"Bukankah kalian baru bertemu? Maksudku, kalian sudah akrab?"
Myungsoo tidak tahu harus berkata apa. Keberanian dan kepercayaan diri yang susah payah dibangunnya tadi kini perlahan goyah.
"Ya, hyung. Kami banyak mengobrol semalam. Sekarang, bisakah aku bertemu dengan Soo Yeon?"
Jinyoung kembali masuk ke ruang keluarga, setelah mempersilahkan Myungsoo untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Soo Yeon-ah, seseorang menunggumu di ruang tamu," kata Jinyoung. Ia merasa bersalah karena telah merusak momen bahagia keponakan-paman.
"Eh? Nugu?" tanya Soo Yeon bingung.
"Lihatlah sendiri."
Soo Yeon berdiri dan berjalan mengikuti Jinyoung ke ruang tamu. Sampai di ruang tamu ia sangat shock melihat seseorang yang sedang duduk di sofa. Perlahan, ia menghampiri orang itu. Jinyoung memutuskan untuk berdiri di dekat pintu menuju ruang keluarga. Ia harus mengetahui apa yang terjadi.
"Oppa.." Soo Yeon berdiri mematung di tengah ruangan. Tidak tahu apa yang akan dilakukannya.
"Soo Yeon-ah, mianhae..." Myungsoo mendekat ke arah Soo Yeon.
Soo Yeon reflek melangkah mundur. Tindakannya itu membuat bingung Myungsoo.
"Jebal, aku ingin bicara denganmu."
Sesuatu tiba-tiba merasuk kedalam hati Soo Yeon. Perasaan benci menyelinap diantara keping-keping cintanya kepada Myungsoo yang berusaha ia satukan kembali. Perasaannya kini tak menentu. Di satu sisi ia sangat mencintai Myungsoo. Tapi disisi lain, ia juga membencinya. Bagaimana bisa seseorang merasakan cinta dan benci dalam satu waktu?
"Chagiya.."
Soo Yeon berhenti melangkah.  Ia berusaha mencerna apa yang barusan dikatakan Myungsoo. Ia merasa sudah lama tidak mendengar panggilan itu.
Jinyoung yang berdiri di dekat pintu, mendengar dengan jelas semua percakapan mereka. Ia sendiri kaget. Satu kata itu... Ia terus memikirkan apakah ia salah dengar? Myungsoo memanggil dongsaengnya dengan kata itu?
"Mianhae, jeongmal mianhae.."
Myungsoo terus mendekat ke arah Soo Yeon. Namun kali ini Soo Yeon hanya diam. Matanya terkunci dengan tatapan Myungsoo.
"Stop!"
Saat itulah, Myungsoo dan Soo Yeon baru menyadari kehadiran Jinyoung di sekitar mereka. Mereka berdua menoleh ke arah Jinyoung yang terlihat menyeramkan.
"Apa maksud semua ini?!"
Soo Yeon menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah. Myungsoo juga melakukan hal yang sama. Keberanian yang susah payah ia kumpulkan kini menguap entah kemana.
"Kau.." Jinyoung mendekat ke arah Myungsoo.
"Ada hubungan apa kau dengan dongsaengku?" tanya Jinyoung. Tangannya mengepal. Ia berusaha keras menahan amarahnya.
Myungsoo menatap Jinyoung. Ia mengumpulkan kembali keberaniannya.
Tiba-tiba dari arah ruang keluarga, Yunho dan Changmin berlari menuju ruang tamu. Mereka bingung dengan keributan yang terjadi. Yunho mengenali namja yang berdiri di depan putrinya. Yunho mengenalnya sebagai dongsaeng calon menantunya.
Jessica dan Krystal juga muncul. Mereka sama-sama terkejut saat melihat Myungsoo di kediaman keluarga Jung. Setahu mereka, Kim Myungsoo, tetangga Soo Yeon di New York sekaligus namjachingunya, berada di New York. Soo Yeon tidak menceritakan pada mereka bahwa Myungsoo akan pulang ke Korea.
"Myungsoo-ssi.."
Myungsoo menoleh ke arah Jessica dan Krystal. Ia membungkuk memberi salam sambil terseyum.
"Jessica noona, Krystal.."
Jinyoung semakin bingung. Kedua sepupunya juga mengenal Myungsoo? Bagaimana bisa?
"Apa yang terjadi?" Changmin masih belum ngeh dengan apa yang terjadi. Yunho hanya menatap Soo Yeon, tatapannya mengisyaratkan bahwa ia butuh penjelasan.
"Bukankah kau, Kim Myungsoo, dongsaeng tunangan Jinyoung, Kim Se Ra?" tanya Yunho hati-hati. Ia takut salah orang karena ia baru tadi malam bertemu dengan keluarga calon menantunya.
"Ne. Kim Myungsoo imnida."
Myungsoo membungkuk hormat. Jinyoung yang mendengar nama namja itu disebut berulang kali, tiba-tiba menyadari sesuatu. Ia sangat terkejut hingga tak sadar telah melotot ganas ke arah Myungsoo dan Soo Yeon.
"Soo Yeon-ah... Apakah dia.. Myungsoo yang kau ceritakan sewaktu kau di New York?" tanya Jinyoung. Jari telunjuknya gemetar kala menunjuk Myungsoo. Ia berharap Soo Yeon akan menggeleng dan berkata 'bukan'. Tapi...
"Ne, oppa. Dia Kim Myungsoo yang kuceritakan."
Krystal dan Jessica yang mendengar jawaban Soo Yeon tak bisa menutupi keterkejutannya. Mereka mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Satu persatu mereka berhasil menyusun puzzle. Yang mereka tahu saat ini adalah; Kim Myungsoo, namjachingu sekaligus tetangga Soo Yeon di NY, ternyata adalah dongsaeng tunangan Jinyoung oppa! Itu artinya, mereka dilarang menjalin hubungan karena tidak lama lagi mereka akan menjadi keluarga!
Dalam hati Jessica dan Krystal sama-sama menyayangkan kenyataan ini. Mereka tahu segala sesuatu tentang hubungan Myungsoo dan Soo Yeon. Mereka berdua sangat cocok. Mereka berdua saling mencintai. Jessica dan Krystal percaya mereka ditakdirkan untuk bersama. Tapi sepertinya tidak. Sekeras apapun mereka mencoba bertahan, tetap tidak akan bisa. Sekuat apapun mereka mencoba melawan gravitasi, mereka tetap akan jatuh berkeping-keping.
Air mata Soo Yeon perlahan menetes. Ia menatap Jinyoung yang kini terlihat api amarah di matanya. Tak ada lagi tatapan penuh kasih sayang yang selalu dilihat Soo Yeon.
"Mianhae, oppa. Jeongmal mianhae.." Soo Yeon menghampiri Jinyoung sambil berlinang air mata.
"Apa kau mencintainya?" pertanyaan mendadak yang dilontarkan Jinyoung sukses membuat Soo Yeon menghentikan langkahnya.
Soo Yeon diam. Ia tak berani menjawab pertanyaan oppanya. Karena apapun jawabannya, ya atau tidak, tetap akan melukai salah satu atau bahkan kedua orang yang sangat ia sayangi itu.
"JAWAB AKU!!" Jinyoung berteriak. Soo Yeon sampai bergetar hebat karena menahan tangis. Jessica langsung memeluk Soo Yeon dan berusaha menenangkannya.
"Oppa, mianhae..." ujar Soo Yeon lirih.
Jinyoung diam. Ia menunggu kelanjutan kalimat Soo Yeon. Yunho dan Changmin masih shock dengan apa yang baru saja terjadi.
"..aku mencintainya, oppa.. Mianhae.." Soo Yeon berkata lirih. Suaranya terdengar tidak jelas, karena ia berkata sambil menangis. Tapi Jinyoung bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan dongsaengnya.
"Soo Yeon-ah, kau benar-benar.." Yunho menatap Soo Yeon tak percaya.
"..putuskan segera hubungan kalian." Yunho melanjutkan. Kalimat itu jelas ditujukan untuk Myungsoo dan Soo Yeon. Entah kenapa, untuk pertama kalinya, Yunho merasa kecewa dengan putrinya.
"Sirheo, appa.." ucap Soo Yeon lirih.
"Kau bisa merusak pernikahan oppamu sendiri, Soo Yeon-ah!" ujar Yunho. Kali ini air mata Soo Yeon semakin deras mengalir. Hati Myungsoo serasa tercabik-cabik melihat yeojachingunya menangis.
"Andwaeyo, appa. Aku sangat mencintai Myungsoo oppa. Tidak bisakah aku hidup bersamanya? Tidak bisakah aku berada disisinya?" Soo Yeon mulai histeris. Krystal sampai turun tangan untuk membantu menenangkan Soo Yeon.
"Na do, ahjussi. Aku sangat mencintai Soo Yeon. Aku sangat mencintainya.." Myungsoo ikut berkata.
"Bagaimana ini, apa yang harus kulakukan?" tanya Yunho lirih lebih pada dirinya sendiri.
"Jebal, putuskan segera hubungan kalian. Sebentar lagi kalian akan menjadi saudara. Jebal.." Jinyoung berkata lirih. Ia mulai menitikkan air matanya.
Soo Yeon menggeleng lemah. Kali ini perasaan cintanya kepada Myungsoo yang mendominasi.
"Mianhae, hyung... Kami tidak bisa melakukannya," ujar Myungsoo tegas. Tanpa pikir panjang, Myungsoo menarik tangan Soo Yeon dan membawanya keluar rumah.
Semua orang shock dengan apa yang dilakukan Myungsoo. Terutama Yunho.
"SOO YEON-AH!!!" teriak Yunho memanggil Soo Yeon kembali. Namun Soo Yeon hanya menoleh ke arah mereka, ia terus berlari mengikuti Myungsoo ke arah mobilnya.
"KEMBALIKAN SOO YEON!!" kali ini Changmin yang berteriak.
Semua teriakan tak di tanggapi oleh Myungsoo. Ia sudah bertekad akan membawa Soo Yeon ke tempat yang aman bersamanya.
Setelah masuk ke mobil Myungsoo, sang pemilik langsung mengemudikan mobilnya keluar. Dalam hati Soo Yeon merasa sedikit lega. Baginya tak masalah ia akan dibawa kemana. Selama ada Myungsoo disisinya, ia merasa aman dan nyaman.
"Mianhae, Soo Yeon-ah.." ucap Myungsoo tulus.
Soo Yeon terkikik geli. Myungsoo bingung dengan kelakuan Soo Yeon. Soo Yeon yang merasakan kebingungan Myungsoo hanya tersenyum.
"Jadi... Myungsoo oppa menculikku sehari sebelum natal," gumam Soo Yeon.
Kali ini Myungsoo ikut terkikik geli. Kalau dipikir-pikir benar juga. Ia telah menculik dongsaeng calon kakak iparnya.
"Sekarang, oppa akan membawaku kemana?" tanya Soo Yeon.
"Ke tempat yang jauh dan aman."
Senyum Soo Yeon seketika memudar.
"Aku merasa bersalah pada keluargaku. Mereka pasti sangat cemas sekarang," ujar Soo Yeon.
"Jangan khawatir. Ada aku disini," Myungsoo dengan bangga menunjuk dirinya sendiri.
Soo Yeon tertawa.
"Ne, aku percaya padamu, oppa. Saranghae."
"Nado saranghae."
Myungsoo mencium kilat pipi kiri Soo Yeon.
Suasana kembali sunyi. Tapi keduanya merasa senang dan lega.
"Oppa, aku lapar," ujar Soo Yeon.
"Kau mau makan apa?" tanya Myungsoo.
"Pizza."
Myungsoo mengemudikan mobilnya memasuki restoran Italia. Keduanya turun dari mobil dan mencari tempat duduk yang jauh dari keramaian. Myungsoo tahu, Soo Yeon tidak terlalu suka keramaian. Sambil menunggu pesanan mereka, Soo Yeon bercerita tentang keinginannya pergi ke pantai.
"Tapi sekarang sedang musim dingin. Pantainya pasti diselimuti salju," komentar Myungsoo.
Soo Yeon cemberut, "Nah, itu dia masalahnya."
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang.
"Kau masih ingat saat terakhir kita makan pizza bersama?" tanya Myungsoo.
"Ne, saat itu aku tak sengaja meninggalkan kunci mobilku di apartemenmu," kata Soo Yeon.
Mereka berdua tertawa mengingat kebersamaan mereka sewaktu di New York.
"Setelah makan, kita akan kemana?" tanya Soo Yeon.
Myungsoo meraih potongan pizza sambil menjawab, "Kau dan aku membutuhkan pakaian hangat. Jadi, tujuan selanjutnya adalah, ke mall."
Soo Yeon terdiam. Baru kali ini ia merasa sangat bersalah pada keluarganya. Ia gadis yang egois. Hanya mementingkan perasaan pribadi. Tidak peduli dengan oppanya, appa, paman bahkan kedua sepupunya.
"Soo Yeon-ah?" panggil Myungsoo. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia khawatir dengan keadaan yeojachingunya.
"Ne?" Soo Yeon gelagapan menjawab.
"Gwenchana?"
"Gwenchana, oppa."
Tidak, ada yang tidak beres denganku.
-----
Sementara itu di kediaman keluarga Jung...
"Cepat hubungi polisi!" perintah Yunho.
"Andwaeyo, hyung. Masalahnya nanti akan semakin rumit," kata Changmin.
"Lalu bagaimana?"
Yunho, Jinyoung, Changmin, Jessica dan Krystal sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Aku akan minta nomor ponsel Myungsoo. Se Ra pasti tahu," ujar Jinyoung yang langsung menghubungi tunangannya.
"Paman, tidak bisakah paman memberi kesempatan Soo Yeon dan Myungsoo untuk bersama meskipun itu hanya sehari? Mereka saling mencintai, paman. Apalagi fakta bahwa mereka akan menjadi saudara, itu pasti sangat berat untuk mereka," kata Jessica berusaha membela Soo Yeon.
"Tidak! Mereka harus segera memutuskan hubungan mereka supaya perasaan cinta mereka tidak bertambah besar," bantah Yunho.
Jessica hanya menghela napas. Seperti itulah pamannya, keras kepala. Sama seperti appanya sendiri.
"Kita tunggu saja sampai Jinyoung oppa berhasil membujuk Myungsoo oppa untuk kembali," ujar Krystal sebelum berdiri dan kembali ke kamarnya.
Sekarang, ketiga orang itu sedang menatap Jinyoung penuh harap.
"Yoboseyo? Myungsoo-ya?"
-----
Myungsoo POV
Ponselku yang berada di dasbor berdering. Cepat-cepat aku mengambilnya dan melirik kursi di sebelahku. Soo Yeon masih tertidur, syukurlah. Perhatianku kembali ke ponsel di genggamanku. Ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
"Yoboseyo?" sapaku hati-hati.
"Myungsoo-ya?"
Deg!
Aku mengenali suara itu. Suara yang tidak terlalu sering kudengar namun kali ini terdengar familiar di telingaku.
"Ji..Jinyoung hyung?" tanyaku ragu. Aku ingin memastikan dugaanku.
"Ne, ini aku."
Mati kau, Kim Myungsoo! Sekarang mau bilang apa kau pada calon kakak iparmu?! Kau mau bilang bahwa kau 'menculik' dongsaengnya dan membawanya ke tempat yang jauh dari jangkauan keluarganya? Andai kau punya keberanian untuk melakukannya!
"Myungsoo-ya, mianhae. Aku tidak tahu kalau ternyata kau adalah namjachingu dongsaengku. Mianhae, tapi aku juga mencintai noonamu," kata Jinyoung hyung.
Aku menghela napas keras-keras. Jujur saja, aku masih belum bisa menerima kenyataan. Aku sangat mencintai Soo Yeon. Masa aku harus melepaskan Soo Yeon demi hubungan Se Ra dan Jinyoung hyung?
"Kami semua sangat cemas disini. Apa Soo Yeon baik-baik saja?" tanya Jinyoung hyung.
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku memakirkan mobilku di pinggir Sungai Han. Setelah itu aku keluar dari mobil, supaya Soo Yeon tidak mendengar percakapanku dengan Jinyoung hyung.
"Appa sangat cemas sekarang. Soo Yeon adalah putri satu-satunya yang dimiliki appa. Dia sangat berharga," Jinyoung hyung terus berbicara. Aku hanya mendengarkan.
"Bisa kau kembalikan Soo Yeon pada kami?"
Kuputuskan untuk menjawab pertanyaannya.
"Mianhae hyung. Aku hanya ingin menghabiskan banyak waktu bersama Soo Yeon sebelum kami menjadi saudara. Tolong mengertilah," jawabku.
"Aku mengerti perasaanmu, Myungsoo-ya."
Hening sebentar.
"Mianhae, hyung. Tapi aku tidak bisa," kataku. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak melepaskan Soo Yeon.
Aku akan selalu bersamanya.
-----
Soo Yeon POV
Samar-samar aku mendengar pintu mobil ditutup. Kulihat sebelah kiriku. Kosong. Apa Myungsoo oppa keluar? Sebaiknya aku juga keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Setelah menutup pintu di belakangku, perlahan aku berjalan menghampiri Myungsoo oppa yang berdiri di tepi sungai. Ya ampun, dingin sekali. Hey, Myungsoo oppa tidak memakai mantel atau jaket. Apa dia tidak merasa kedinginan?
Aku hendak memanggil Myungsoo oppa. Tapi kulihat sepertinya ia sedang sibuk berbicara di telepon. Jadi kubatalkan niatku. Aku menyandarkan tubuhku di pintu mobil. Samar-samar aku mendengar namaku disebut. Aku jadi penasaran? Apa yang sedang dibicarakan Myungsoo oppa.
"Mianhae hyung. Aku hanya ingin menghabiskan banyak waktu bersama Soo Yeon sebelum kami menjadi saudara. Tolong mengertilah."
Aku mendengar apa yang dikatakan Myungsoo oppa. Sepertinya ia sedang berbicara dengan Jinyoung oppa.
Sebenarnya aku juga bingung. Keluarga atau pacar?
Sebaiknya aku masuk saja ke mobil. Aku tidak mau lagi mendengar percakapan mereka.
-----
Author POV
Selesai berbicara dengan Jinyoung, Myungsoo segera masuk ke mobil dan ia merasa lega. Soo Yeon masih tidur. Ia tidak tahu kalau sebelumnya Soo Yeon sudah bangun dan mendengar perkataannya.
Myungsoo segera mengemudikan mobilnya keluar area Sungai Han dan mulai berbaur dengan kendaraan yang lain di jalan raya. Ia berencana malam ini akan menginap di rumah temannya di Busan. Bukankah Soo Yeon pernah berkata bahwa ia ingin sekali ke pantai? Myungsoo yakin dirinya pasti bisa mengabulkan keinginan Soo Yeon.
Tapi sebelum pergi ke Busan, Myungsoo berencana akan membeli pakaian, makanan, dan kebutuhan lain untuk mereka berdua. Untung saja ia membawa dompet.
"Soo Yeon-ah, ireona.." perlahan Myungsoo membangunkan Soo Yeon.
"Waeyo, oppa?"
"Kita sudah sampai di mall. Ayo kita turun dan belanja," ajak Myungsoo. Soo Yeon mengangguk dan mengikuti namjachingunya itu keluar dari mobil.
Mereka berdua sibuk memilih pakaian dan makanan yang akan dibawa ke Busan. Myungsoo telah memberitahu Soo Yeon bahwa mereka akan menginap di rumah temannya di Busan. Soo Yeon setuju saja. Selama ada Myungsoo disisinya...
Setelah 2 jam berbelanja, keduanya segera masuk mobil dan memulai perjalan ke Busan.
-----
Sementara itu di kediaman keluarga Kim..
Se Ra mondar-mandir di ruang tamu. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sangat cemas. Tadi Jinyoung meneleponnya, dan mengatakan bahwa Myungsoo telah membawa pergi Soo Yeon. Se Ra takut Myungsoo tidak pulang. Se Ra tahu benar sifat saudara kembarnya itu. Dari dulu Myungsoo memang suka kabur dari rumah kalau sedang kesal. Rupanya itu masih berlaku sampai sekarang.
-----
Soo Yeon POV
"Tunggu sebentar, aku akan kembali," Myungsoo oppa keluar dari mobil dan berjalan menuju minimarket di seberang jalan.
Aku mulai berpikir, apakah sebaiknya aku pulang saja sekarang. Atau menelepon Jinyoung oppa untuk menjemputku. Kasihan keluargaku, mereka sangat cemas karena aku. Aku egois. Sangat egois. Mianhae, Myungsoo oppa. Aku sangat mencintaimu, tapi mau tidak mau kita harus menghadapi kenyataan ini.
Dengan keyakinan itu, aku membuka pintu mobil dan berjalan secepat mungkin menjauhi mobil itu. Sesampainya di pinggir jalan besar, aku menengok ke segala arah untuk mencari telepon umum. Nah, itu dia!
Aku bergegas menghampiri telepon umum itu. Kucari di saku celanaku, untungnya ada koin. Segera kumasukkan koin itu dan aku mulai memencet nomor telepon Jinyoung oppa. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Jinyoung oppa mengangkatnya.
"Oppa!"
"Oh? Soo Yeon?!"
"Ne, bisa jemput aku di ____ ?"
"Tentu! Tunggu disana jangan pergi kemana-mana!" Jinyoung oppa tampak bersemangat.
"Arasseo."
Aku menutup telepon dan segera keluar dari box telepon. Bbrrr.. Dingin sekali di luar. Untung tadi Myungsoo oppa membelikanku mantel. Kalau tidak, hipotermia-ku bisa kambuh sekarang.
Memikirkan Myungsoo oppa, semakin membuat hatiku sakit. Aku juga merasa bersalah telah meninggalkannya. Aku pergi tanpa izin.
Tapi setelah kupikir-pikir, lebih baik aku memilih keluargaku. Aku harus bisa hidup tanpa Myungsoo oppa. Aku pasti bisa melakukannya. Apalagi dengan penyakitku sekarang. Aku punya firasat, kalau penyakitku ini pasti kanker. Seperti yang menyerang eommaku dulu. Tak lama lagi aku pasti akan meninggalkan dunia ini.
Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, sebuah mobil yang familiar di mataku berhenti tepat dihadapanku. Jinyoung oppa keluar dari mobil sambil membawa mantel. Ia langsung memakaikan mantel tebal itu di tubuhku dan menuntunku masuk ke dalam mobil. Setelah itu ia sendiri masuk ke mobil dan mengemudikan mobilnya di jalan raya.
"Gwenchana?" tanya Jinyoung oppa.
Aku mengangguk dan tersenyum ke arahnya, "Ne, oppa."
Aku mengalihkan pandanganku keluar jendela. Kubiarkan pikiranku melayang kemana-mana.
Mianhae, Myungsoo oppa. Aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa terus disisimu.
-----
~TBC~
Gomawo readers yang udah baca fanfic ini (termasuk silent readers). Jeongmal kamsahamnida! *bow*
Mian kalo ada typo..


©Safira Alhana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please leave your comment here! Thanks :)
-Safira Alhana-